
ZONA KOTAMOBAGU – Kota Kotamobagu dikenal sebagai daerah penghasil batu bata di wilayah Bolmong Raya. Salah satu produsen batu bata berada di Kelurahan Pobundayan, Kecamatan Kotamobagu Selatan. Sekira 50 persen warga di kelurahan tersebut menggantungkan hidupnya sebagai pengrajin material bangunan berbahan dasar tanah tersebut. Dalam sehari, ada puluhan ribu batu bata diproduksi para pengrajin dengan kualitas yang sudah tidak diragukan lagi.
Lurah Pobundayan, Apri Djunaidi Paputungan, mengatakan para pengrajin batu bata mengelola usaha tersebut secara berkelompok maupun perorangan. “Ada sekitar 10 kelompok di sini, tapi paling banyak diolah pribadi,” kata Apri, Selasa (27/2).
Salah satu pengrajin batu bata, Harto Yambo (45), mengakui usaha batu bata yang sudah dijalaninya selama bertahun-tahun itu bisa mencukupi biaya hidup sehari-hari, termasuk membiayai kuliah dan sekolah dua anaknya. “Alhamdulillah hasilnya bisa untuk biaya sehari-hari,”sebutnya.
Lanjutnya, batu bata hasil olahannya itu dipesan warga untuk material bangunan rumah atau para pengusaha untuk proyek bangunan gedung, perkantoran dan lainnya. “Biasanya kalau sudah musim proyek itu banyak yang pesan, ada yang dari Dumoga, Poigar dan daerah lain di Bolmong Raya. Tapi mesipun tidak ada pemesan tetap kita bekerja (mencetak) seperti ini. Untuk ukuran 9 dijual empat ratus rupiah per buah, dan ukuran 12 harganya enam ratus rupiah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dirinya bersama beberapa orang rekannya bekerja mulai pagi hingga sore hari. Untuk mencetak batu bata sebanyak 10 ribu, diperlukan waktu hingga 25 hari yang dimulai dari tumpukan tanah yang telah dicampur air, pencetakan, penjemuran hingga pembakaran. “Yang memakan waktu lama itu adalah penjemuran, kalau cuaca cerah itu cepat kering. Kalau untuk pembakarannya biasanya hanya sehari saja. Pengolahannya masih secara manual, sehingga memakan waktu beberapa hari,” jelasnya.
Ia mengakui, selama ini dirinya belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. “Ada informasi dari pemerintah menyerahkan mesin pencetak, tapi itu hanya diberi ke kelompok-kelompok. Memang kalau pakai mesin, prosesnya lebih cepat dan biayanya kurang. Per hari bisa 4.000,” sebutnya. (ads/gito)




