80 Tahun Merdeka, Rakyat Kotamobagu Masih Dijajah PLN

212
80 Tahun Merdeka, Rakyat Kotamobagu Masih Dijajah PLN
Ilustrasi

Opini, ZONABMR.COM – Delapan puluh tahun setelah proklamasi dibacakan, bangsa ini masih berjuang untuk menafsirkan arti kemerdekaan.

Tapi di Kotamobagu, pada perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-80, rakyat mendadak disadarkan bahwa ada satu bentuk penjajahan yang belum usai: ketergantungan pada PLN.

Pagi yang mestinya dipenuhi semangat nasionalisme berubah jadi kelabakan massal. Tanpa pemberitahuan, listrik padam. Entah keseluruhan atau hanya sebagian. Yang pasti di wilayah tempat saya tinggal, listrik padam sejak pagi.

Seolah saklar di kantor PLN lebih berdaulat daripada Sang Merah Putih yang hendak dikibarkan di lapangan upacara.

Dampaknya merembet ke mana-mana. Seorang ASN yang telah menyiapkan seragam dengan rapi sejak malam sebelumnya, tak bisa mandi karena pompa air berhenti bekerja.

Anak-anak sekolah yang semestinya berbaris gagah justru berangkat dalam kondisi setengah siap.

Bahkan kalangan media pun dibuat tak berdaya: agenda peliputan upacara terganggu hanya karena PLN memilih memadamkan lampu di hari paling sakral bangsa.

Ironisnya, PLN selalu menuntut pelanggan disiplin. Tagihan listrik yang telat sehari saja berisiko disegel, bahkan dicabut.

Tetapi ketika rakyat dirugikan, PLN kerap berlindung di balik kalimat klasik: “ada gangguan teknis” atau “sedang perbaikan jaringan.” Kalimat yang dingin, jauh dari rasa tanggung jawab.

Hari kemerdekaan mestinya menjadi catatan emas, tapi PLN justru menorehkan tinta hitam.

Perayaan 80 tahun kemerdekaan menjadi saksi betapa rapuhnya hajat hidup rakyat di bawah kendali satu-satunya penyedia listrik.

Monopoli yang, dengan segala keleluasaannya, bisa menentukan terang atau gelapnya kehidupan sehari-hari.

Mungkin inilah wajah kemerdekaan di era modern: merdeka dari penjajah asing, tapi tidak dari colokan listrik. Rakyat dipaksa belajar sabar setiap kali pemadaman terjadi, bahkan di hari kemerdekaan.

Kini masyarakat menunggu penjelasan. Bukan sekadar permintaan maaf atau alasan teknis, tapi jawaban yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

Karena di negeri yang katanya sudah merdeka, rakyat setidaknya berhak mendapat kepastian bahwa perayaan kemerdekaan tidak akan lagi direduksi oleh satu tombol saklar.

Kalau listrik bisa padam di hari kemerdekaan, lalu apa arti 80 tahun merdeka?

Merdeka seharusnya terang, tapi PLN justru memilih merayakannya dengan lilin.

Fyi, saya menulis ini pada hari ini, Senin 18 Agustus 2025, pukul 03.00 WITA dalam keadaan gelap gulita karena pemadaman listrik terjadi lagi.

Bisa jadi ini niat baik PLN Cabang Kotamobagu agar saya bisa menulis dengan penuh penghayatan. Yah, mungkin saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here