
Manado, ZONABMR.COM — Gelaran Muay Thai pada Porprov Sulut XII memicu sorotan tajam setelah seorang atlet Sangihe mengalami cedera pergelangan kaki saat berlaga, akibat kondisi lantai ring yang bermasalah ketika pertandingan berlangsung, Kamis, 20 November 2025, malam tadi di Manado Youth Center, Kawasan Mega Mas, Manado.
Insiden itu semakin menyedot perhatian karena terjadi di depan Bupati Sangihe, Michael Thungari, yang turut menyaksikan langsung jalannya laga.
Cedera tersebut terjadi ketika atlet Sangihe berhadapan dengan atlet Kota Manado.
Karena insiden ini murni dipicu kondisi teknis pada lantai ring, laga itu akhirnya dinyatakan no contest oleh juri.
Pelatih sekaligus Pengurus Muay Thai Indonesia Kabupaten Sangihe, Yohanes Edward Karel, tak dapat menutupi kekecewaannya.
Ia menegaskan bahwa pihaknya sudah memperingatkan panitia sejak kemarin lusa mengenai kondisi ring yang tidak layak digunakan.
“Kami sudah bilang dari awal kalau ring bermasalah. Tapi tidak ditindaklanjuti. Sekarang atlet kami yang jadi korban,” tegas Yohanes.
Ketua DPRD Sangihe, Ferdy Sondakh, ikut mengecam keras insiden tersebut.
Menurutnya, kejadian itu bukan hanya merugikan atlet, tetapi juga mengacaukan peluang Sangihe yang selama ini menjadi langganan emas di cabor Muay Thai.
“Ini pukulan besar bagi kami. Muay Thai adalah andalan Sangihe. Ke depan panitia harus benar-benar siap agar hal seperti ini tidak terulang,” ujar Ferdy.
Para atlet yang berlaga juga mengakui bahwa lantai ring memang bermasalah saat pertandingan berlangsung, dengan beberapa titik yang terasa goyang dan tidak stabil.
“Saat berpijak, lantainya tidak stabil. Itu jelas memengaruhi performa kami,” ungkap salah satu atlet yang meminta namanya tak disebutkan.
Situasi semakin memanas ketika panitia sempat mengambil keputusan kontroversial untuk melanjutkan pertandingan hanya di setengah bagian ring yang dianggap aman.
Penolakan keras dari para manajer tim membuat keputusan itu dibatalkan. Laga akhirnya ditunda sampai ring diperbaiki.
Pelatih Muay Thai Kotamobagu, Andre Pakaryanto, menegaskan bahwa keselamatan atlet harus menjadi prioritas.
“Risikonya terlalu besar. Lebih baik dihentikan dulu. Tapi tentu ini merugikan kami karena atlet kami yang belum tampil di semifinal harus bertanding besok. Jika lolos ke final, mereka harus dua kali turun dalam sehari,” ujar Andre.
Ketua Panitia Cabor Muay Thai Porprov Sulut, Hendra Massie, membantah tudingan bahwa panitia tidak siap.
“Muay Thai paling siap dibanding cabor lain. Ini insiden. Jangan memojokkan panitia, itu keliru,” tegasnya.
Hendra juga memastikan bahwa sebagai bentuk tanggung jawab, atlet Sangihe yang cedera akan diberikan medali emas penghargaan, terlepas dari siapa pemenang final antara Kotamobagu dan Manado.
“Akan diberikan medali emas bersama,” ujarnya.
Keputusan panitia tersebut akhirnya diterima oleh pihak tim atlet Muay Thai Sangihe, yang menilai langkah itu menjadi bentuk penghargaan atas perjuangan atlet mereka yang terhenti karena faktor teknis di luar kendali.
Namun, gelombang kecaman tak berhenti. Pengamat olahraga yang juga mantan jurnalis, Hairil Paputungan, mengkritik keras kelalaian panitia yang dinilainya mengabaikan aspek keselamatan.
“Keselamatan atlet itu harusnya prioritas. Karena kepentingannya Porprov kan untuk persiapan PON juga. Kalau keselamatan atlet tidak diperhatikan, yang rugi kan kita juga, Sulut,” tegas Hairil.
Ia menambahkan bahwa ketika ada keluhan dari peserta tentang arena, panitia seharusnya langsung bergerak cepat agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan.
“Mestinya setiap laporan atau keluhan itu ditanggapi segera. Kalau tidak, kasus seperti ini akan terus terulang, dan itu sangat merusak dunia olahraga kita. Apalagi pernyataan panitia yang menyatakan paling siap, tapi kenyataannya?!,” ujarnya.
Terkait keputusan memberikan medali emas bersama atau medali penghargaan, Hairil menyebut langkah itu sebagai solusi konyol dan tidak mendidik.
“Jika masalah diselesaikan hanya dengan membagi medali, maka panitia tidak belajar apa-apa. Besok-besok, ketika ada arena rusak atau pertandingan tidak aman, solusi instannya ya bagi medali lagi. Ini tidak mendidik dan berpotensi jadi preseden buruk,” katanya memberi alasan.
Hairil menegaskan, panitia harus meminta maaf secara resmi kepada seluruh kontingen dan bertanggung jawab penuh atas insiden yang mencoreng jalannya Porprov tersebut.
Publik kini menuntut evaluasi besar-besaran agar keselamatan atlet tidak lagi dipertaruhkan oleh kelalaian teknis.



