Dari Kotamobagu, Jaton Bangkit Menjaga Akar: Sanggar Totabuan Matuari KKJI Resmi Berdiri

12
Dari Kotamobagu, Jaton Bangkit Menjaga Akar: Sanggar Totabuan Matuari KKJI Resmi Berdiri
Dari Kotamobagu, Jaton Bangkit Menjaga Akar: Sanggar Totabuan Matuari KKJI Resmi Berdiri (Foto: Udi)

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Sanggar Seni Budaya Totabuan Matuari Kerukunan Keluarga Jawa Tondano Indonesia (KKJI) Kotamobagu resmi terbentuk melalui rapat pembentukan kepengurusan (28/01/26) yang digelar di kediaman Wakil Ketua KKJI Kotamobagu Hasim Pulukadang, Kelurahan Pobundayan, Kecamatan Kotamobagu Selatan.

Rapat tersebut dihadiri Ketua KKJI BMR dan Kotamobagu Farid Asimin, Ketua Dewan Pembina Ali Nurhamidin, Sekretaris KKJI Abu Bakar Masloman, serta sejumlah tokoh Jawa Tondano (Jaton) dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari Wakil Ketua Pengadilan Agama, politisi, pengusaha, jurnalis, hingga ketua RW.

Selain pembentukan sanggar, rapat ini juga menetapkan struktur kepemimpinan melalui musyawarah mufakat.

Dalam forum tersebut, Hasim Pulukadang secara resmi dipilih sebagai Ketua Sanggar Seni Budaya Totabuan Matuari, sementara Nurhayati Nurhamidin ditetapkan sebagai Ketua KKJI Kecamatan Kotamobagu Selatan.

Ketua KKJI BMR dan Kotamobagu, Farid Asimin, dalam sambutannya menegaskan bahwa eksistensi komunitas Jawa Tondano (Jaton) harus terus dirawat melalui wadah budaya yang terorganisir.

“Terima kasih atas kehadiran semua pihak. Ini membuktikan bahwa Jaton bisa eksis di mana saja. Kita mewarisi semangat juang nenek moyang para pejuang kemerdekaan, kesungguhan dalam beragama, serta semangat guyub dan silaturahmi yang harus terus dijaga,” ujar Farid. Ia juga mengingatkan bahwa KKJI dibentuk pada tahun 2012 di Gedung DPR RI Jakarta sebagai wadah pemersatu masyarakat Jawa Tondano di Indonesia.

Dalam rapat tersebut, peserta juga mengajukan sejumlah usulan nama sanggar. Setelah melalui berbagai pertimbangan, seluruh peserta sepakat menetapkan nama Sanggar Seni Budaya Totabuan Matuari sebagai identitas resmi.

Ketua Sanggar terpilih, Hasim Pulukadang, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia menargetkan kegiatan perdana sanggar dapat terlaksana dalam waktu dekat.

“Insya Allah sebelum bulan Juni kita sudah bisa melaksanakan kegiatan, baik hadrah maupun lomba seni lainnya,” kata Hasim.

Sementara itu, Ketua KKJI Kecamatan Kotamobagu Selatan, Nurhayati Nurhamidin, mengungkapkan bahwa akan lebih dahulu mempersiapkan tim hadrah anak-anak laki-laki sebagai langkah awal menghadapi Festival Budaya Jaton (Fesbudjaton) di Gorontalo.

“Untuk Kecamatan Kotamobagu Selatan, kami akan membentuk lebih dulu tim hadrah anak-anak laki-laki sebelum Fesbudjaton di Gorontalo. Sedangkan untuk Dames, sejauh ini sudah tiga kali tampil,” ujar Nurhayati.

Ia menambahkan, terdapat tiga kategori yang direncanakan akan diikutsertakan dalam ajang tersebut, yakni hadrah anak-anak, dana-dana remaja, dan Dames. Selain itu, tidak menutup kemungkinan akan disertakan peserta pidato berbahasa Jaton bagi anggota yang dinilai fasih.

Dari sudut pandang generasi muda, Effendy Masloman menilai kehadiran sanggar ini bukan sekadar ruang seni, tetapi juga ruang menjaga ingatan dan identitas.

“Sanggar ini bagi kami bukan hanya tempat berlatih seni, tetapi tempat menjaga ingatan. Sebagai generasi muda Jawa Tondano yang tumbuh besar di Kotamobagu, kami hidup di tengah perubahan zaman yang sangat cepat. Tanpa ruang seperti ini, sangat mudah bagi kami untuk lupa dari mana kami berasal,” ungkap Effendy.

Ia menegaskan bahwa kehadiran Sanggar Totabuan Matuari menjadi penanda penting bagi keberlanjutan budaya Jaton.

“Lewat sanggar ini, kami ingin tetap terhubung dengan akar kami—dengan bahasa, seni, dan nilai-nilai yang diwariskan leluhur. Ini tentang memastikan bahwa identitas Jaton tidak berhenti di generasi kami, tetapi terus hidup ke generasi berikutnya,” tutupnya.

Sejarah Singkat Suku Jawa Tondano (Jaton)

Suku Jawa Tondano (Jaton) merupakan komunitas etnis hasil perjumpaan sejarah antara orang Jawa dan masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara.

Akar sejarah Jaton bermula pada awal abad ke-19, tepatnya setelah berakhirnya Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro melawan pemerintah kolonial Belanda.

Pasca kekalahan Perang Jawa, Belanda mengasingkan sejumlah pengikut dan laskar Pangeran Diponegoro ke berbagai wilayah Nusantara, salah satunya ke daerah Tondano, Minahasa.

Para pengasingan ini kemudian menetap, berbaur, dan membangun kehidupan baru bersama masyarakat lokal Minahasa, termasuk melalui perkawinan dan interaksi sosial-budaya.

Dari proses inilah lahir komunitas Jawa Tondano, yang kemudian dikenal dengan sebutan Jaton.

Secara kultural, Jaton memiliki identitas khas yang memadukan unsur tradisi Jawa dengan adat Minahasa, serta nilai-nilai keislaman yang kuat. Bahasa, seni, dan tradisi Jaton berkembang sebagai identitas unik yang berbeda dari Jawa di Pulau Jawa maupun Minahasa secara umum.

Hingga kini, komunitas Jaton tersebar di beberapa wilayah Sulawesi Utara dan Bolaang Mongondow Raya, termasuk Kotamobagu, dan tetap menjaga tradisi, seni, serta nilai-nilai leluhur sebagai bagian penting dari jati diri dan sejarah mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here