
ZONABMR.COM – Sejarah birokrasi di tanah Totabuan mencatat nama Almarhum Drs. Darmo Paputungan sebagai salah satu figur penting yang memiliki dedikasi panjang, mulai dari era kepemimpinan Bupati Marlina Moha Siahaan (MMS) hingga masa pemerintahan awal mantan Walikota Ir. Tatong Bara.
Namun, jauh sebelum dikenal sebagai birokrat emas tanah totabuan, Darmo Paputungan telah mengukir prestasi gemilang di sektor swasta. Beliau pernah menduduki posisi strategis sebagai Manajer Utama di proyek nasional pengelolaan kelapa atau di masa lalu disebut Coconut World Centre.
Berkat kinerjanya yang luar biasa, beliau sempat mendapatkan tawaran prestisius untuk dipromosikan menetap dan bekerja di luar negeri.
Namun, kecintaan lelaki kelahiran 3 Juli 1952 yang mendalam pada tanah kelahiran membuatnya memilih jalan yang berbeda; beliau menolak peluang emas di luar negeri tersebut dan mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di daerah.
Sebagai pejabat senior yang disegani, kiprahnya sangat sentral saat menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kabupaten Bolaang Mongondow era awal 2000-an.
Di masa itu, beliau mengelola sektor niaga dan industri salah satu fokus utamanya adalah industri kerajinan, kemudahan izin usaha, investasi, dan inovasi menjadikan labuan uki seperti pelabuhan bitung untuk memudahkan kemudahan proses arus barang yang akhirnya terhenti di tengah jalan.
Gagasan itu lahir saat wilayah Bolmong raya masih menjadi satu kesatuan besar sebelum dimekarkan menjadi beberapa daerah otonom seperti hari ini.
Kapasitas intelektual alumni Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) ini tidak diragukan lagi, terutama setelah menempuh pendidikan kepemimpinan selama sembilan bulan di Universitas Indonesia (UI).
Kompetensi manajerialnya kian teruji ketika mengikuti diklat kepemimpinan Eselon II atau SPAMEN, di mana beliau berhasil meraih predikat sebagai salah satu lulusan dengan nilai tertinggi di tingkat nasional.
Reputasi cemerlang ini membuat sosok Darmo Paputungan dikenal luas melintasi batas wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR). Banyak birokrat ulung di Sulawesi Utara (Sulut) mengenal beliau dengan baik sebagai sosok yang cerdas namun hidup sederhana.
Bahkan, banyak tokoh penting yang dekat dengan beliau dan sering berdiskusi ringan. Salah satunya mantan Pj Bupati Bolsel A.R Mokoginta, mantan Sekda Boltim Moh. Assegaf hingga Sekprov Sulut Tahlis Gallang.
Tidak sedikit pula pejabat di lingkup Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota lainnya di Sulut yang menjadikan beliau sebagai mentor dalam hal pemahaman tata kelola pembangunan daerah. Beliau juga dekat dengan kalangan pengusaha di kota kotamobagu.
Dengan pangkat Golongan IV/b (Pembina Tingkat I), nama Darmo Paputungan sempat mencuat kuat dalam bursa calon Penjabat (Pj) Bupati pasca-pemekaran wilayah di BMR kala itu namun beliau tidak mengambil kesempatan tersebut dan memilih menutup karirnya dengan pensiun dini.
Pasca pensiun, tenaga dan pemikiran beliau tetap diandalkan oleh Pemerintah Kota Kotamobagu, di mana beliau dipercaya menjabat sebagai Staf Khusus Walikota Bidang Ekonomi dan Pembangunan di era kepemimpinan Tatong Bara – Jainudin Damopolii selama 5 tahun.
Di luar jalur birokrasi, beliau juga dikenal pernah tercatat sebagai Pembina Partai Amanat Nasional (PAN) Kotamobagu.
Perjalanan hidup sang birokrat ulung yang low profile ini berakhir pada Maret 2022 pada usia 69 tahun di kampung kelahirannya, Desa Lolan, Kabupaten Bolaang Mongondow karena penyakit stroke yang diderita. Beliau meninggalkan seorang putra yang dikenal luas sebagai musisi indie Zumi Paputungan, yang juga kini mengikuti jejak ayahnya sebagai PNS.
Meski kini telah tiada, seluruh dedikasi dan kontribusi yang telah diberikan Drs. Darmo Paputungan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dalam sejarah pembangunan di Bolaang mongondow raya. ***



