Nonton Bareng Pulau Plastik, Gusdurian Kotamobagu Soroti Persoalan Sampah dan Lindi TPA

7
Nonton Bareng Pulau Plastik, Gusdurian Kotamobagu Soroti Persoalan Sampah dan Lindi TPA
Nonton Bareng Pulau Plastik, Gusdurian Kotamobagu Soroti Persoalan Sampah dan Lindi TPA. (Foto: Tampa Baca)

ZONABMR.com– Persoalan sampah plastik tidak hanya berkaitan dengan perilaku masyarakat dalam membuang sampah, tetapi juga menyangkut kondisi lingkungan serta sistem pengelolaannya.

Hal tersebut menjadi salah satu isu yang dibahas dalam diskusi dan nonton bareng film dokumenter Pulau Plastik karya Dhandy Laksono, yang digelar Gusdurian Kotamobagu bersama Tampa Baca, Bulandu dan Rumah Baca.

Kegiatan yang mengangkat tema “Plastik yang Kita Buang, Tidak Pernah Benar-Benar Hilang” itu berlangsung di Kafe Bukaka, Kelurahan Kotabangon, Kotamobagu, Ahad (24/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Harlah Gus Dur 2026 dan dihadiri sejumlah perwakilan komunitas, praktisi, jurnalis serta aktivis.

Salah satu pemantik diskusi, jurnalis Tentangpuan.com, Neno Karlina, mengatakan persoalan yang tergambar dalam film Pulau Plastik memiliki keterkaitan dengan kondisi yang ditemuinya saat melakukan peliputan mengenai tata kelola sampah di Kotamobagu.

Menurut Neno, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah keberadaan lindi dari kawasan tempat pemrosesan akhir (TPA) yang berpotensi mencemari lingkungan, termasuk aliran sungai.

“Mikroplastik saja sudah cukup membahayakan apalagi lindi,” kata Neno dalam diskusi tersebut.

Ia menjelaskan, dampak persoalan pengelolaan sampah tidak hanya berpotensi dirasakan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi TPA.

Ketika pencemaran masuk ke aliran sungai, kata dia, dampaknya juga berpotensi dirasakan masyarakat lain yang memanfaatkan air dari sumber tersebut.

Bagi Neno, kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak selesai ketika sampah dibuang dari rumah.

“Plastik yang kita buang memang tidak pernah benar-benar hilang. Persoalannya berpindah, dari tempat kita membuangnya kemudian menjadi persoalan lingkungan dan bisa berdampak kepada orang lain,” ujarnya.

Jurnalis dan Persoalan yang Tak Terlihat

Neno mengatakan, sebagai jurnalis dirinya tidak memiliki kapasitas untuk menyelesaikan persoalan sampah di Kotamobagu.

Namun, menurutnya, jurnalis memiliki peran untuk membuka berbagai persoalan yang selama ini tidak terlihat atau luput dari perhatian publik.

“Termasuk bisa terus mengawal persoalan ini dengan harapan bisa membawa perubahan,” katanya.

Ia menilai peliputan di lapangan penting karena persoalan lingkungan tidak selalu dapat digambarkan hanya melalui data mengenai jumlah sampah yang dihasilkan.
Kondisi TPA, dampak terhadap masyarakat hingga potensi pencemaran merupakan persoalan yang menurutnya perlu terus disoroti melalui pemberitaan.

Neno berharap diskusi semacam itu tidak berhenti pada kesadaran setelah menonton film.

Keterlibatan masyarakat, komunitas, pemerintah dan media, kata dia, diperlukan agar persoalan pengelolaan sampah terus mendapat perhatian dan dapat mendorong perubahan di tingkat lokal.

Selain Neno, diskusi tersebut turut menghadirkan Ketua BMR Forum Hijau, Arman Sani, yang berbicara dari perspektif masyarakat sipil dan praktik pengelolaan sampah nonorganik.

Ketua KNPI Kotamobagu, Shandry Anugrah Hasanuddin, sebelumnya dijadwalkan menjadi salah satu pemantik dengan fokus pada perspektif kebijakan, politik dan pengawasan pemerintah daerah. Namun, Shandry berhalangan hadir.

Sementara itu, Ketua Gusdurian Kotamobagu, Triwardana Mokoagow, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam melihat persoalan sampah.

Menurutnya, masyarakat tidak hanya diajak menyaksikan film, tetapi juga merefleksikan kondisi pengelolaan sampah yang terjadi di Kotamobagu.

Ia berharap diskusi tersebut dapat mendorong pemahaman yang lebih kritis mengenai persoalan sampah plastik sekaligus melahirkan gagasan yang dapat ditindaklanjuti dalam pengelolaan sampah di tingkat lokal. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here