Abdi Karya Tolak Karyawan Berjilbab

Abdi Karya Tolak Karyawan Berjilbab Investigasi Kotamobagu

ZONA KOTAMOBAGU – Masalah tenaga kerja di wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR) sepertinya tak akan pernah berujung. Tak hanya penerapan Upah Minimum Provinsi (UMP), aturan jam kerja, serta hak normatif lainnya yang diabaikan. Perlakuan diskriminatif terhadap tenaga kerja pun terjadi di daerah ini.

Herannya, tindakan pengangkangan terhadap Undang-Undang Tenaga Kerja tersebut dilakukan oleh toko swalayan sekelas Abdi Karya. Dan parahnya lagi, bentuk perlakuan diskriminatif itu adalah manajemen toko menolak mempekerjakan karyawan berjilbab.

Pelanggaran ini terungkap setelah wartawan mendapat laporan dari calon karyawan Abdi Karya beberapa waktu lalu yang mengaku terpaksa mengurungkan niatnya bekerja di toko itu, karena diberi syarat harus melepas jilbab.

“Kalau bekerja di sini tidak boleh memakai jilbab, kamu bisa diterima tapi harus melepas jilbab,” ujarnya mengutip pernyataan bagian HRD (Human Resources Management) Abdi Karya.

Hasil investigasi Koran Bolmong pun menemukan fakta yang membenarkan adanya perlakuan diskriminatif itu. Di toko berlantai dua tersebut tak satu pun terlihat karyawan perempuan mengenakan jilbab. Dari keterangan sejumlah karyawan, manajemen Abdi Karya memang tidak mau menerima karyawan yang berjilbab.

Perlakuan diskriminatif tersebut jelas melanggar Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Tenaga Kerja). Pasal 5 UU tersebut menegaskan bahwa setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan. Dalam bab penjelasan disebutkan yang maksud dengan tanpa dikriminasi adalah tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, agama, dan aliran politik sesuai dengan minat dan kemampuan tenaga kerja yang bersangkutan.

Pihak Abdi Karya saat dikonfirmasi, Jumat (10/06/2016) pun tak membantah adanya aturan “tak menerima karyawan berjilbab” di toko swalayan tersebut. Yuli Rasid, Kepala Bagian HRD mengatakan manajemen Abdi Karya bukan melarang karyawan berjilbab tetapi memberi pilihan.

“Kami tidak memaksa mereka harus melepas jilbab tapi hanya menyampaikan bahwa karena pertimbangan pekerjaan kami tidak menerima karyawan berjilbab,” ujar Yuli

Menurut Yuli, kebanyakan yang datang melamar di Abdi Karya mengaku hanya memakai jilbab saat ke sekolah atau keluar rumah. Jadi, saat melamar mereka tidak keberatan melepas jilbabnya.

Namun, dari wawancara Koran Bolmong dengan sejumlah karyawan dan mantan karyawan toko swalayan yang terletak di Jalan Ahmad Yani Kotamobagu itu, mengungkapkan beberapa di antara mereka terpaksa melepas jilbab karena sangat membutuhkan pekerjaan.

Kepala Bidang Tenaga Kerja, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Kotamobagu, Ratna Adharani saat ditemui di ruang kerjanya pada Jumat (10/06/2016), mengaku tidak mengetahui adanya perlakuan diskriminatif oleh manajemen Abdi Karya itu. Namun, ia berjanji akan segera menindaklanjuti informasi tersebut.(*)

(Tulisan ini pernah dimuat di Koran Bolmong edisi 7 Tahun 2016)

Leave a Response