Aroma Politik Uang Pileg 2014

0
467
Aroma Politik Uang Pileg 2014 Tahukah Anda? Zoner
Konni Balamba

Oleh: Konni Balamba

MONEY Politic atau praktek Politik Uang dalam usaha meraih kemenangan politik sudah bukan hal yang baru lagi, bahkan sudah bukan hal yang tabu. Aroma dan praktek politik uang dalam pemilu legislatif  tahun ini pun bisa dibilang sudah tercium, khususnya di daerah Kotamobagu. Apalagi, jarak waktu Pilwako Kotamobagu dan Pileg tahun ini tidak begitu jauh. Dimana permainan politik uang dalam Pilwako lalu ternyata telah mendidik masyarakat untuk bersikap pragmatis melakukan transaksi ‘jual beli’ suara.

Bahkan, ada isu berhembus pada Pileg tahun ini konon kabarnya, salah satu partai telah menyiap dana Rp 1 juta bagi setiap pemilih, asalkan memilih caleg dari partai tersebut, dengan hitungan per paket (DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/kota)

Jika memang ada indikasi politik uang, apakah politik uang ini memang sudah menjadi budaya dalam permainan politik untuk memperebutkan jabatan dan kuasaan?

Praktek politik uang sangat klasik, dilakukan oleh tim sukses Caleg kaya dan berduit dengan memanfaatkan waktu sedikit mungkin menjelang waktu pencontrengan. Parahnya,  politik uang ini rupanya semakin ampuh saja sebagai sarana mengubah pilihan masyarakat serta memenangkan pertarungan dalam permainan politik.

Saat praktek Money Politic dilakukan yang biasanya disebut strategi Serangan Fajar berjalan sangat transparan, tanpa pengawasan anggota Panwas yang punya mata terbatas. Praktek Politik Uang ini juga hampir-hampir mengubah segalanya, mengubah pilihan masyarakat yang sudah diyakininya untuk dipilih, mengubah tatanan perkiraan perolehan suara dan mengubah mental masyarakat yang semakin mudah memperjualbelikan suaranya.

Bagaimana dengan Nasib Caleg Miskin?, yang tak berduit dan hanya bermodalkan visi-misi dan kepercayaan diri?. Bisa saja, mereka akan dipastikan tersingkir,  karena dalam pencalegan hanya mampu membuat stikker dengan distribusi yang terbatas, tidak pernah terjun ke masyarakat sekedar untuk mengenalkan diri, karena tak memiliki uang untuk diberikan ke masyarakat. Sudah takdir barangkali, mereka akan masuk dalam daftar Caleg sekaligus masuk kotak (kalah) dan siap-siap tersingkir sebelum pencontrengan dimulai.

Bagi Caleg Kaya dan berduit mungkin sudah menjadi takdir mereka untuk melenggang menjadi Calon Anggota Legislatif. Karena dengan uang yang dimiliki, bisa membeli suara masyarakat, meraih suara sebanyak-banyaknya dan bisa meraih kemenangan. Namun, jangan salahkan masyarakat juga yang hanya mau uangnya saja dan tidak mau memilih, dan jika tetap harus menerima kekalahan, padahal sudah menghamburkan uang banyak, semoga tidak masuk dalam daftar tunggu menjadi pasien rumah sakit jiwa.

Jika benar politik uang sudah atau hampir menjadi budaya dalam politik kita, bagaimana dengan nasib masa depan bangsa ini, bagaimana dengan kemungkinan munculnya praktek-praktek korupsi baru nantinya, bagaimana dengan janji-janji manis saat kampanye, apakah masih akan dibawa di gedung parlemen? Apakah aspirasi masyarakat masih bisa direalisasikan selama lima tahun mendatang jika Calon Legislatif terlantik masih harus mengembalikan utang? Semoga dimudahkan rejekinya (amien). (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here