Bisnis Sapu Ijuk Tetap Bertahan di Era Modern

0
271
Bisnis Sapu Ijuk Tetap Bertahan di Era Modern Kotamobagu
Herto Balansa

ZONA KOTAMOBAGU — Bisnis sapu ijuk masih menjadi primadona dan sebagai salah satu sumber pendapatan mayoritas warga Desa Sia’, Kecamatan Kotamobagu Utara. Bahkan kerajinan tradisional itu masih tetap bertahan dan mampu bersaing dengan produk yang sama di era modern saat ini.

Eli Simbong (49), salah satu pengrajin sapu ijuk di desa tersebut, mengaku dirinya sudah mulai menggeluti bisnis tersebut selama 40 tahun. Dengan menjual sapu ijuk hasil buatannya sendiri, ia mampu membiayai kebutuhan keluarga sehari-sehari. “Sejak masih SD saya sudah belajar membuat sapu ijuk. Ini masih saya lakukan sampai sudah punya istri dan anak,” sebutnya.

Ia mengungkapkan, dirinya bisa membuat 100 hingga 200 buah sapu ijuk dalam sepekan. Sapu tersebut kemudian dijual ke warung maupun toko yang ada di Kota Kotamobagu. “Sudah ada langganan tetap, jadi sulit menjualnya. Hasil penjualan cukup lumayan dan bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” ungkapnya.

Kepala Desa Sia, Herto Balansa, mengatakan sapu ijuk hasil kerajinan masyarakat di desanya masih memiliki nilai jual di pasaran. Meski banyak produk serupa dengan bahan yang lebih modern, namun sapu ijuk katanya masih diminati masyarakat.

“Kualitas sapu ijuk tidak kalah dan bisa bersaing. Hargnya juga cukup terjangkau, hanya tujuh ribu per buah,” katanya.

Penjabat Sementara (Pjs) Walikota, Muhammad Mokoginta, dihadapan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo dan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Oesman Sapta Odang bersama rombongan saat berada di Desa Bilalang I, membeberkan berbagai produk unggulan daerah yang ada di desa di Kota Kotamobagu. Salah satu yang sebutkan Pjs Walikota adalah sapu ijuk yang sentra pengembangannya ada di Desa Sia. Menurut Pjs Walikota, pengembangan semua produk unggulan daerah termasuk sapu ijuk dilakukan pemerintah dan masyarakat desa melalui dana desa.

“Meski Kota Kotamobagu adalah wilayah perkotaan, tapi memiliki 15 desa dan rata-rata memiliki produk unggulan masing,” sebutnya. (ads/gito)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here