Dewan Hearing PT BPR

0
440
Dewan Hearing PT BPR Boltim
ilustrasi-tambang emas

ZONA BOLTIM – Laporan warga Desa Buyat terkait adanya perusahan tambang emas di Gunung Garini, PT Boltim Primanusa Resources (BPR), ditindaklanjuti Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Boltim. Jumat (7/11). Dewan menggelar hearing terhadap PT BPR, warga Buyat dan pihak Pemkab.

Alfian Lasabuda selaku juru bicara warga Buyat Bersatu mengungkapkan jika perusahan milik Jackson Kumaat itu sudah melakukan pengrusakkan hutan di Gunung Garini. Upaya Pemkab menutup sementara aktivitas perusahan berdasarkan berita acara penutupan pada dua bulan lalu, tidak diindahkan PT BPR. “Di Gunung Garini sudah ada perampokkan emas oleh perusahan yang saya sebut illegal ini,” kata Alfian.

Dirinya juga mempertanyakan sikap Pemkab Boltim yang terkesan membiarkan pengrusakkan hutan Garini menjadi berlarut-larut. “Berdasarkan berita acara penutupan bahwa aktivitas perusahan dihentikan tapi nyatanya sudah satu bulan satu minggu mereka terus beroperasi. Alat berat mereka ditambah,” ungkap Alfian.

Hal tersebut ditangapai Asisten III Djainuddin Mokoginta. “Pemkab Boltim tidak membiarkan persoalan PT BPR. Kami juga akan melakukan kajian hukum untuk selanjutnya mengambil sikap. Sikap itu tergantung pak bupati,” kata Djainuddin

Sejumlah anggota DPRD yang hadir di hearing tersebut mengemukakan pendapat mereka. Rata-rata legislator Boltim ini menuding jika PT BPR sudah bereksploitasi yang berdampak pada kerusakan lingkungan. Argument mereka didukung oleh bukti visual foto dan video yang ditayangkan lewat proyektor saat rapat berlangsung.

“Sudah jelas ini eksploitasi, bukan lagi eksplorasi. Buktinya sudah banyak perusahan, sudah ada perendaman. Makanya dewan secara kolektif kolegial harus bersikap,” kata Saptono Paputungan. Rivo Sandehang, perwakilan PT BPR mengakui jika telah ada berita acara penutupan aktivitas perusahan.

Peliput: Gito Mokoagow

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here