Harapan Realitas Politik yang Ideal

0
421
Harapan Realitas Politik yang Ideal Zoner
Ganang D Riyadi

PEMILU Legislatif baru saja dilalui, masyarakat kini tengah hangat-hangatnya diperhadapkan dengan Pemilu Presiden 2014. Siapapun presiden terpilih nanti, kita harus bersikap dewasa saat yang terpilih bukan pilihan kita. Tidak perlu protes berlebihan dengan berbagai dalih, apalagi sampai membuat hal-hal destruktif, karena siapapun pasangan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, merupakan pasangan yang dipercaya sebagian besar rakyat Indonesia untuk menggantungkan harapan dan dititipkan amanat.

Namun yang perlu dijadikan renungan dari jabaran singkat di atas adalah, setiap pilihan pasti menghasilkan konsekuensi, kita harus bisa menerima pemimpin kita, bukan hanya eforia mendukung positifnya namun turut mengoreksi negatifnya.

Diluar itu, atmosfir politik kita sebenarnya memang masih cukup jauh dari kategori ideal. Kabar baiknya, dalam beberapa tahun ini kita terus menunjukkan kemajuan, kita sudah mulai cerdas dan dewasa dalam berpolitik. Barometernya, di beberapa daerah ternyata masyarakat bisa memilih pemimpin daerahnya berdasarkan reputasi dan prestasi individu, bukan karena kekuatan “mesin politik partai” semata, politik uang, isu SARA, apalagi metode premanisme.

Pilpres skalanya memang jauh lebih besar dari Pemilu Kepala Daerah, belum tentu sebagian besar rakyat Indonesia memiliki mindset seragam, dan tentu saja politik yang sehat tidak bisa dibangun dalam semalam. Sebagaimana rakyat Indonesia sejak runtuhnya orde baru 16 tahun silam, terhitung baru memasuki kali ketiga melaksanakan tatacara Pemilihan Presiden yang sebelumnya cukup diselesaikan dalam ruangan dengan pendekatan perwakilan, dirombak dengan melibatkan rakyat secara langsung dalam proses penentuannya. Pastinya kita tidak bisa menyamakan dengan negara-negara maju yang sudah ratusan tahun menjalani proses tersebut.

Tetapi, harapan tetap ada dan itu dimulai dari kita sendiri sebagai pemegang suara dalam menentukan pemimpin negeri. Selama ini kita dengan mudah menyalahkan para eksekutif dan legislatif saat mereka jauh dari harapan. But guess what? kita sendirilah yang memilih mereka. Kitalah yang harusnya dituntut untuk cerdas menilai dan memilih. Kitalah yang harusnya dituntut untuk jujur melihat realitas. Kitalah yang harusnya dituntut untuk objektif dan siap dengan konsekuensi pada pilihan kita.

Selanjutnya adalah peran media yang belakangan ini terkadang hanya menjadi corong mesin politik. Dijejali berita subjektif yang diwakili keberpihakan dan kepentingan politis-ekonomis pemilik, pemegang saham serta penguasa media. Bahkan masyarakat yang cedas sekalipun tidak bisa mendapat asupan informasi objektif yang mereka butuhkan untuk menentukan pilihan. Seharusnya media menjadi tempat masyarakat untuk mendapatkan informasi objektif dan edukatif khususnya soal politik.

Hal yang baik perlu disebarkan, demikian juga kritik, konstruktif dan beradab tentunya. Eksplorasi dan kabarkan kepada masyarakat, individu-individu yang memiliki prestasi dan kemampuan kepemimpinan yang selama ini tidak pernah terliput media. Pencitraan? kita harus cerdas menilai soal istilah pencitraan ini. Bukankah lebih elok menghargai seseorang yang membangun jalan 100 km dengan kualitas highway di Amerika kemudian mengundang seluruh media? Sesungguhnya metode pencitraan seperti inilah ciri politik sehat, ketimbang seseorang yang diam-diam membangun jalan 100 km dengan kualitas abal-abal. Mungkin lain cerita jika kita hanya mengklaim hasil kerja orang lain.

Menjadi salah satu harapan rakyat Indonesia, pemimpin yang terpilih kelak adalah pemimpin yang bisa memberikan landasan politik sehat. Baik-buruknya pemerintahan SBY, harus diakui pemerintahan beliau sudah memberikan landasan awal meski masih menyisakan banyak kekurangan. Tapi sekali lagi bahwa politik yang sehat memang tidak mungkin dibangun dalam sekejap, akan terlebih dahulu melewati proses yang berliku. Mungkin termasuk diantaranya dimanipulasi, dimanfaatkan dan dikhianati, tinggal bagaimana kita ke depan bisa mengambil pengalaman dan menyikapinya.

Pemimpin ideal lahir dari sistim yang ideal. Suatu saat rakyat indonesia benar-benar disuguhkan Capres dan Cawapres yang semua sama baiknya, sama hebatnya, hanya mungkin berbeda metode dan karakternya. Kita seperti diberikan pilihan mudah, cukup sesuai selera masing-masing, semudah memilih suka aliran rock, pop atau dangdut, tapi dengan satu hasil, Indonesia yang maju, damai dan makmur. Tidak ada salahnya kan mempunyai impian.(*)

Penulis: Ganang D Riyadi (Gorontalo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here