Ini Beberapa Contoh Tindakan yang Bisa Dikategorikan Hate Speech di Medsos

0
168
Ini Beberapa Contoh Tindakan yang Bisa Dikategorikan Hate Speech di Medsos Tahukah Anda?
Hate Speech

ZONA HUKRIM – Tanggal 8 Oktober 2015 lalu, Kapolri, Badrodin Haiti, mengeluarkan Surat Edaran No.SE/6/X/2-15 tentang Penanganan Ujaran Kebencian atau Hate Speech. Kabar ini pun menuai reaksi di masyarakat, terutama para netizen lantaran media sosial (Medsos) disebut sebagai salah satu tempat terjadinya hate speech.

Untuk lebih memahami soal Surat Edaran tersebut masyarakat khususnya para pengguna medsos perlu memahami bahwa edaran tersebut bukan peraturan perundang-undangan. Lain kata, edaran itu tidak secara langsung mengikat secara hukum. Artinya, orang yang melakukan hate speech tidak serta merta langsung ditindak pidana, melainkan ada proses mediasi dulu antara pelaku dan korban.

Namun hal itu bukan berarti menjadi alasan warga netizen melakukan tindakan-tindakan yang berpotensi terjadinya hate speech. Karena jika terbukti bersalah maka akan diproses hukum. Berikut beberapa contoh tindakan yang mungkin bisa disebut hate speech di medsos.

1.Buat Akun Haters

Dari niat tersebut sepertinya jelas  membuat akun haters ingin menebar kebencian ke satu orang atau golongan tertentu. Tindakan ini bisa dimasukkan ke dalam kategori penghinaan sebagaimana dalam Surat Edaran Kapolri. Contoh ini sering terjadi di akun Instagram artis yang tidak jarang antara komenter terjadi perseteruan. Contoh lain membuat akun di FB dengan tujuan memprovokasi atau menebar kebencian dan sejenisnya.

2.Kaitkan Berita Dengan Praduga Yang Tak Jelas

Ini juga bisa jadi hate speech di medsos kalau ada upaya menghubungkan berita dengan praduga berdasarkan opini sendiri tanpa didukung data dan fakta yang jelas. Hal ini berpotensi memicu reaksi orang lain yang merasa tersinggung dan bakal berujung konflik.

3.Share/bagikan Berita yang Sumbernya Tak Jelas

Di era polusi informasi saat ini, banyak berita-berita yang muncul di timeline medsos yang di antaranya belum tentu benar adanya. Para netizen perlu ekstra hati-hati jika ingin membagikan berita tersebut ke publik. Terutama berita-berita mengenai suku, agama, aliran keagamana, ras, golongan, warna kulit, etnis, gender, orientasi seksual. Jika sembarang melakukan share, hal ini berpotensi dituduh melakukan hate speech. Warga netizen perlu lakukan penelusuran data dulu dan jangan percaya dengan satu sumber saja.

4.Screen Capture Sembarangan Lalu Disebarkan.

Tindakan ini juga bisa termasuk hate speech kalau yang di-screen capture adalah sesuatu yang tidak semestinya disebar ke publik. Misal, memublikasi screen capture komentar di media sosial kemudian ditambahkan caption/komentar yang mengandung provokasi. Bisa terjadi orang lain yang membaca (yang tak tahu sebenernya hal itu mungkin hanya candaan internal) jadi salah paham dan tersinggung. Tak menutup kemungkinan orang tersebut kemudian merepostnya dan viral. Bisa jadi kondisi itu berujung konflik.

5.Buat Meme

Perbuatan ini jika sengaja dibuat dengan tujuan menghina atau mencemarkan nama baik pihak atau golongan tertentu, pelakunya bisa dituduh melakukan hate speech di medsos. Meski sebenernya meme yang biasa pun juga sudah tergolong cyberbullying.

6.Spamming

Perbuatan Spamming sendiri sudah termasuk perbuatan tidak menyenangkan. Apalagi kalau isi kontennya menyinggung suku, agama, ras, etnis, dan golongan tertentu. bisa jadi ini termasuk hate speech di media sosial.

7.Pakai Istilah Kesehatan di Situasi yang Tak Tepat

Penggunaan istilah kesehatan contohnya autis juga bisa jadi tergolong hate speech. Apalagi digunakan pada situasi yang tak tepat, seperti jika orang main HP dan kemudian disebut autis. Baiknya hilangkan cara bercanda seperti itu karena kamu (secara sengaja atau pun tidak) sudah melakukan tindakan diskriminasi terhadap kaum difabel. Dan itu jelas tertuang dalam surat edaran Kapolri.

Banyak yang mencemaskan soal surat edaran Kapolri karena menilai itu bertentangan dengan kebebasan berpendapat. Namun perlu dipahami edaran tersebut sejalan dengan aturan-aturan yang ada. Bebas berpendapat namun tentunya harus pada koridor-hukum yang berlaku. Meski begitu, jangan sampai dikeluarkannya surat edaran ini malah disalahgunakan oknum tertentu untuk mengkriminalisasi individu yang ingin mengkritik.(mbdc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here