Juply Pansariang Tanggapi Berbeda Aksi Pembakaran di Unsrat Manado

0
625
Juply Pansariang Tanggapi Berbeda Aksi Pembakaran di Unsrat Manado Hukum Zoner
Juply S. Pansariang SH MH

TAWURAN mahasiswa yang berujung anarkis di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Rabu (05/3) sore lalu, hingga mengakibatkan terbakarnya fasilitas kampus diantaranya empat gedung milik Fakultas Teknik (Fatek) dan sejumlah kendaraan bermotor, memunculkan banyak tanggapan berbagai kalangan yang mengutuk aksi para mahasiswa itu. Namun berbeda dengan apa yang ditanggapi Juply S Pansariang, SH. MH. yang merupakan salah satunya Hakim yang sebelumnya bertugas di Pengadilan Negeri Kotamobagu dan belum lama ini pindah tugas sebagai Hakim di Pengadilan Negeri Limboto Gorontalo.

Melalui akun jejaring sosialnya, Juply mengungkapkan keprihatinannya atas tindakan para pelaku aksi pembakaran, dirinya pun setuju jika para pelaku diproses secara hukum. Namun menurutnya, sangat tidak adil jika menyalahkan dan segala sumpah serapah ditujukan sepenuhnya kepada mereka (mahasiswa.red), “Jangan lupa sebelum kejadian pembakaran Fatek, terjadi kerusuhan antara mahasiswa Fatek dan Fakultas Hukum (Fakum) Unsrat, sehingga faktor pemicunya ada di kedua kubu yang bertikai,” ungkap Juply yang juga merupakan alumni 98’ Fakum Unsrat ini.

Juply lanjut menceritakan apa yang pernah dia alami. Katanya, masih segar dalam ingatan kala itu tahun 1999, dirinya sedang berada dalam kelas mengikuti kuliah Hukum Internasional oleh dosen Emma Senewe. Tiba-tiba kaca jendela menggelegar pecah dan berhamburan terkena batu, dirinya beserta mahasiswa lain dalam kelas berhamburan keluar disertai rasa bingung dengan apa yang terjadi. Ternyata aksi itu dilakukan mahasiswa Fatek yang begitu semangat melempari ruangan kuliah Fakum. “Namun masalah itu selesai dengan damai tanpa ada yang menjadi tumbal untuk diproses sebagai terpidana.” ungkapnya, seraya menjelaskan tahun 2000 dan 2004 pun demikian, namun semua terselesaikan dengan musyawarah.

Dia melanjutkan, maksud dirinya menceritakan hal itu, bukan ingin mengatakan semua masalah harus diselesaikan dengan musyawarah, namun menurutnya, sistem pendidikan tinggi Unsrat-lah yang harus dibenahi. Pembangunan fisik tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas maupun peningkatan moral dari mahasiswa. “Yang paling parah, pendidikan tinggi dijadikan sarana untuk mengeruk keuntungan oleh segelintir orang,” bebernya.

Juply Pansariang Tanggapi Berbeda Aksi Pembakaran di Unsrat Manado Hukum Zoner
Suasana depan Kantor Pusat Unsrat Manado Rabu (05/3)

Para pelaku pembakaran hanyalah tumbal dari bobroknya sistem pendidikan tinggi di Unsrat. Bahkan menurutnya, sekiranya mereka berada disana pada waktu dan tempat yang sama, mereka mungkin sama akan terlibat pembakaran gedung tersebut. Mengapa demikian katanya, Karena mereka hidup dalam bobroknya sistem pendidikan tinggi di Unsrat.

Dia berharap, adanya perubahan terhadap sistem pendidikan tinggi di Unsrat saat ini. Jika tidak, kerusuhan antara mahasiswa maupun antara fakultas akan terulang dimasa yang akan datang. ”Ibarat dalam suatu perahu, penumpang harus duduk seimbang di atas perahu tersebut, jangan berat di kanan atau di kiri karena perahu pasti akan tenggelam (pepatah Sangihe), demikian pula dalam memberikan penilaian atas kasus pembakaran tersebut, kita pun harus seimbang,” jelasnya sembari menutup kata, salam Gorela 98.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here