Kotamobagu Kota untuk Siapa?

0
80
Kotamobagu Kota untuk Siapa? Editorial
Eldy Noerdin

BELUM tuntas-tuntasnya perjuangan para buruh melawan penindasan sejumlah perusahaan di Bumi Totabuan, muncul lagi ulah berbeda dari salah satu perusahaan swalayan terbesar di Bolaang Mongondow Raya: Toko Abdi Karya.

Sepertinya, perilaku paling diskriminatif sudah pantas disematkan kepada para pengelola perusahaan swalayan tersebut. Pasalnya, tak sedikit calon pekerja yang mengaku mengurungkan niatnya bekerja di tempat itu lantaran terbentur peraturan yang sungguh melukai hati. Betapa tidak, Abdi Karya tidak menerima karyawan mengenakan jilbab!

Pantas saja tak seorang karyawan pun berjilbab di situ. Celakanya pula, pihak perusahaan secara terang-terangan tak menampik kebijakan aneh tersebut. Mereka beralasan, jenis pekerjaan di Abdi Karya, tak bisa dikerjakan karyawan berjilbab. Sungguh sebuah dalih yang mengada-ada.

Memangnya, jenis pekerjaan seperti apa yang hanya bisa dikerjakan perempuan tanpa jilbab? Ini jelas saja menganggap jilbab menjadi penghambat kinerja karyawan. Akhirnya, lantaran kebijakan itu pula tak sedikit dari para calon pekerja yang datang dari kampung-kampung mengaku terpaksa melepaskan jilbab agar bisa diterima bekerja.

Sungguh sebuah ironi. Instansi terkait di Kotamobagu pun terkesan kurang tanggap alias lambat merespon ketika mengetahui permasalahan tersebut. Jangan-jangan, kebijakan Abdi Karya ikut dihalalkan pemerintah dengan dalih perjuangan mewujudkan Kota Model Jasa? Kalau sudah begitu, masihkah Kotamobagu kota untuk semua?

(Tulisan ini pernah dimuat di Koran Bolmong edisi 7 tahun 2016)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here