Merekam Jejak Mulut Si Kumis di Ujung Tahun

0
97
Merekam Jejak Mulut Si Kumis di Ujung Tahun Editorial
Eldy Noerdin

BICARA soal mulut memang unik, lucu dan menggemaskan. Dari mulut, seseorang bisa mengubah jutaan manusia jadi lebih baik. Pun begitu, dari mulut pula nasib baik orang itu sendiri bisa berubah menjadi petaka. Tak heran munculah peribahasa “mulut mu harimau mu”.

Soal mulut, menjadi makin menarik jika dikaitkan dengan hajatan pesta demokrasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Rentetan isu hangat di wilayah paling timur Totabuan itu mencuat tak jarang bermula lantaran mulut. Seperti serangkaian kasus yang bergulir hasil ucap dari mulut berhias kumis lebat milik salah satu kandidat kepala daerah. Lantaran mulutnya, jauh sebelum Pilkada dihelat hingga lewat masa pemilihan, Si Kumis ini sudah terseret-seret masalah.

Celakanya, masalah yang dihadapi Si Kumis bukan urusan-urusan sepele. Rata-rata masalahnya sangat pelik bahkan sampai ke meja pak polisi. Misalnya perkara pernyataan yang dinilai menistakan agama. Belum lagi soal dugaan menghina partai. Ada juga kasus lama soal dugaan mengancam wartawan. Bahkan belakangan, seorang konsultan politik malah melayangkan laporan dugaan pencemaran nama baik dari ucap Si Kumis.

Tak sampai di situ, yang terkini, Si Kumis bahkan ditetapkan sebagai tersangka oleh pak polisi lantaran mulutnya berurusan dengan seorang penjabat bupati. Penetapan Si Kumis sebagai tersangka dalam kasus tersebut terbilang cepat, secepat kilat. Tentunya pak polisi memasang skala prioritas tinggi dalam memroses perkaranya hingga ke meja jaksa. Apalagi perkara Si Kumis jadi sorotan seantero negeri Totabuan.

Nah, jika kasus dengan penjabat bupati secepat kilat ke meja jaksa, beda halnya dengan kasus lain Si Kumis yang hingga kini masih berproses di meja polisi. Meski belum diketahui perkembangan terakhirnya, namun rentetan kasusnya cukup menarik ditunggu. Salah satunya soal perkara unik yang bermula dari kata komkomci.

Yah, kata Komkomci. Kata yang paten dianggap lucu, mengemaskan, serta lumrah ditujukan buat bayi ini, berubah konotasi menjadi masalah pelik setelah berurusan dengan Si Kumis. Betapa tidak, Si Kumis dengan kewibawaannya sebagai pejabat waktu itu, pernah mencak-mencak warga lantaran menyebut kata Komkomci saat berpas-pasan dengannya. Alhasil, baik warga itu dan Si Kumis sama-sama saling lapor polisi.

Lain lagi dengan masalah dugaan penistaan agama yang dilapor warga yang mengatasnamakan sebuah aliansi. Bukan soal sampai di mana proses hukumnya atau soal hasil liputan keliru seorang wartawan, namun kembali yang menarik perhatian tak lain adalah soal ucap dari mulut Si Kumis. Pasalnya, kasus yang sempat menghebohan warga itu hanya lantaran mulut Si Kumis sebut nama Tuhan dan Nabi untuk membandingkan kelas rival politiknya semata.

Tak bisa dipungkiri kalau bicara mulut, Si Kumis memang rajanya. Jika Om Mario Teguh dikenal sebagai motivator karena mampu mengerakan hati dan jiwa banyak orang dengan kata-katanya, mungkinkah julukan Sang Motivator didaulatkan kepada Si Kumis karena serangkaian peristiwa mulut berujung perkara?

Kisah Si Kumis dan Pilkada Boltim memang menarik dan bakal seru jika diikuti perkembangannya. Kini, Si Kumis sedang menanti untuk dilantik menduduki kursi tertinggi pemerintahan daerah tersebut. Bersamaan dengan itu pula, suka tidak suka, Si Kumis sedang dinanti antrian kursi perkara mulut.

Hanya sekadar merekap rekam peristiwa mulut di penghujung tahun. Semoga dua kursi yang dinanti dan menanti itu, bisa jadi kado terindah buat Si Kumis mengawali tahun baru. Pun berharap ucapnya kemarin, hari ini, dan mungkin esok nanti, selalu dan tetaplah seru nan jauh dari petaka, baik baginya dan mulut-mulut lain di dekatnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here