MERS Masih Menghantui

MERS Masih Menghantui Kesehatan

ZONA KESEHATAN – RIYADH, Kasus Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-COV) di Arab Saudi kian memprihatinkan. Kabar terakhir, negeri kaya minyak tersebut mengumumkan dua kematian akibat penularan virus tersebut. Dua pasien yang meninggal adalah seorang perempuan, 68, di Jeddah dan seorang pria, 60, di Madinah.

Dengan adanya laporan kematian baru tersebut, jumlah korban tewas di Arab Saudi sudah mencapai   117. Selain itu, Arab Saudi juga melaporkan 10 kasus baru, separuhnya di Riyadh, sehingga seluruh jumlah kasus virus tersebut menjadi 431.     Sisa kasus baru ada dua di Jeddah, dan satu di Makkah, Taif dan Madinah.

Di tengah ancaman MERS-CoV yang kian meluas tersebut, kemarin Menteri Kesehatan Arab Saudi Adel Fakieh pada Selasa (6/5) lalu memecat Kepala Rumah Sakit Raja Fahd di Jeddah. Pemecatan Kepala RS Raja Fahd itu diumumkan melalui Twitter pada Selasa malam setelah dia menggelar kunjungan mendadak di rumah sakit yang berlokasi di kota Laut Merah.

Kasus MERC-CoV memang membuat Arab Saudi panik. Sebelumnya, pada 21 April, Raja Arab Saudi Abdullah memecat menteri kesehatan Abdullah al-Rabeeah dan diganti Adel Fakieh yang sebelumnya menjabat menteri pekerja. “Pemecatan itu sebagai upaya dalam memerangi penyebaran MERS,” demikian keterangan Kementerian Kesehatan dikutip Reuters. Publik menilai RS Raja Fahd tidak bergerak cepat dan memberikan layanan yang maksimal. “Langkah tegas itu untuk menjamin peningkatan pelayanan medis,” imbuhnya.

RS Raja Fahd itu merupakan salah lokasi yang dimanfaatkan untuk merawat pasien MERS CoV. Pasien bukan hanya warga masyarakat biasa, tapi banyak petugas medis yang juga dilaporkan tertular penyakit yang belum ada obatnya itu.

Selain Arab Saudi, kasus MERS-CoV di beberapa kawasan juga semakin meluas. Beberapa negara di Timur Tengah, termasuk Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman dan Tunisia melaporkan adanya penderita MERS CoV. Pada Senin lalu, Mesir menyelidiki kematian seorang perempuan yang berusia 60 tahun meninggal karena MERS.

Sementara di Amerika Serikat (AS), pasien pertama yang positif mengidap MERS CoV tetap diisolasi di rumahnya pada Selasa lalu. Keputusan itu setelah dia dinyatakan sehat dan diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. “Isolasi akan diberlakukan hingga Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan Kementerian Kesehatan menganggap dia tidak akan berisiko menularkan MERS ke publik,” demikian keterangan Rumah Sakit Komunitas di Munster, Indiana.

Si pasien itu merupakan pekerja medis yang bekerja di Arab Saudi. Dia pulang ke AS untuk menjenguk keluarganya di Indiana. AS telah memerika lebih dari 50 pekerja medis berserta keluarga paisen dan orang yang pernah menjalin kontak. Mereka dikhawatirkan terinfeksi MERS CoV.

 MERS Masih Menghantui Kesehatan

Suspect di Bali Meninggal

Suspect MERS-CoV yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, Bali sekitar pukul 00.20 Wita kemarin meninggal dunia. Namun, belum dipastikan apakah pasien yang mengalami sakit sepulang dari umroh tersebut positif terjangkit virus MERS-CoV.

Pasien berusia 50 tahun itu sendiri mempunyai riwayat penyakit paru obstruksi kronis(PPOK) dan jantung dan sempat mengeluh mengalami sesak dan batuk sejak satu bulan lalu. Berdasarkan hasil rontgen mengarah pasien ke PPOK. Dari hasil pemeriksaan darah juga belum ditemukan adanya virus MERS-CoV. Kendati demikian, kepastian penyebab meninggalkan pasien tersebut masih menunggu pemeriksaan laboratorium.

‘’Pasien yang meninggal masih menuggu hasil dari Litbangkes di Dinkes agar mengetahui apakah AS meninggal positif atau negatif virus Mers-CoV,” ujar Kepala Bidang Penunjang Medis RSUP Sanglah dr Ken Wirasandhi.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama belum bisa memastikan apakah kematian warga Bali tersebut, juga warga SumateraUtara sebelumnya, terkait dengan MERS-CoV. Menurut dia, laboratorium Balitbangkes sedang menunggu sampel yang dikirimkan untuk dilakukan pemeriksaan.   “Kasus di Bali sedang diperiksa. Tapi kasus di Bali itu tidak demam tinggi, sebenarnya tidak masuk gejala umum MERS-CoV tapi tetap kita periksa,” kata Tjandra.

Dia menuturkan, seseorang disebut suspek MERS-CoV jika memiliki infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dengan tiga keadaan, yaitu demam tinggi di atas 38 derajat Celcius, batuk dan pneumonia. Selain itu, penderita memiliki riwayat perjalanan ke Timur Tengah, petugas kesehatan yang jatuh sakit setelah merawat pasien ISPA, adanya klaster pneumonia dan adanya perburukan perjalanan klinis yang mendadak, serta memiliki kontak erat dengan kasus konfirmasi atau kasus “probable” (kemungkinan) infeksi MERS-CoV.

Namun dia memastikan, hingga kemarin Indonesia masih negatif MERS-CoV. Dari 13 provinsi di Indonesia telah melaporkan kasus suspek virus tersebut , namun seluruhnya negatif.   Ketiga belas provinsi yang telah melaporkan pemeriksaan kasus suspek adalah Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Banten, Bali, NTB, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat.”Jumlah sampel yang diperiksa sampai tanggal 30 April 2014 sebanyak 77 sampel tapi semua kasus suspek tenyata negatif MERS- CoV,” ujar Tjandra.

Lebih jauh dia menuturkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum menyatakan MERS-CoV sebagai pandemi atau public health emergency of international concern (PHEIC) karena belum terbukti ada penularan antarmanusia.    Tjandra menyebut ada empat syarat untuk dinyatakan sebagai pandemi dunia, yaitu virusnya merupakan varian baru, berbahaya dengan angka kematian lebih dari 30 persen, menular antarbenua dan terjadi penularan antarmanusia.   “MERS-CoV belum memenuhi syarat keempat sehingga belum dinyatakan sebagai pandemi,” kata Tjandra.

Untuk diketahui, sedikitnya 15 negara telah melaporkan terjadinya infeksi MERS CoV yaitu Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Mesir untuk kawasan Timur Tengah. Negara-negara di benua Eropa yang telah melaporkan infeksi MERS-CoV adalah Prancis, Jerman, Yunani, Italia dan Inggris.

Untuk benua Afrika, Tunisia melaporkan adanya kasus di negaranya sedangkan di kawasan Asia Tenggara negara Malaysia dan Filipina juga telah melaporkan adanya kasus MERS-CoV. Amerika Serikat juga telah melaporkan adanya kasus MERS-CoV pada salah satu warganya yang memiliki riwayat bepergian ke Timur Tengah.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi menegaskan, walapun Indonesia masih negatif MERS-CoV, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan pencegahan, di melakukan deteksi thermal scanner bagi orang yang tiba dari luar negeri melalui bandar udara dan pelabuhan telah dipasangkan.

Dia juga mengimbau masyarakat untuk menunda perjalanan umroh sementara waktu. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko terhadap virus MERS-COv. ‘’Himbauan ini lebih kepada lansia yang sudah berumur diatas 65 tahun, anak-anak dibawah 12 tahun, wanita hamil dan jemaah yang memiliki penyakit penyerta,” katanya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono mengungkapkan bahwa permintah telah menyiapkan 100 rumah sakit rujuan rujukan yang sebelumnya digunakan untuk menangani pasien flu burung untuk mengantisipasi jika memang terjadi kasus virus MERS-CoV.(ant)

Leave a Response