Om Alex dan Bendi Terakhir di Kotamobagu

0
483
Om Alex dan Bendi Terakhir di Kotamobagu Featured News Kotamobagu
Tampak Om Alex dan bendinya

Kedua tangannya kekar. Sebuah cicin bermata besar melingkar di salah satu jari. Suaranya berat berkesan tegas namun murah senyum. Sesekali asap rokok mengepul dari mulutnya saat ia bertutur. Gerak aktif tubuhnya terihat tak berbanding dengan rambutnya yang tak menyisakan hitam sehelaipun. Tak disangka, setengah abad lebih perjalanan hidup dilalui pria kelahiran Bandung, 67 tahun silam ini. Adalah Alex Kawuwung, warga Kelurahan Kampung Baru, seorang kusir dengan bendi satu-satunya yang masih tersisa di Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara.

Reporter: Eldy Noerdin

SIMPANG tiga Jalan Pasar Serasi Kotamobagu jadi tempat mangkal Om Alex, sapaan akrab Alex Kawuwung, bersama bendi tua yang dimilikinya sejak tahun 1971 silam. Bendi tersebut diketahui merupakan bendi terakhir yang masih beroperasi mengangkut penumpang di wilayah Kotamobagu. Tak jarang jika hari besar keagamaan, bendi miliknya jadi incaran untuk dicarter.

Keseharian sebagai kusir bendi telah dijalani Om Alex sejak 40 tahun silam. Hal itu dijalani karena kegemarannya dengan hewan jenis kuda, apalagi Om Alex sewaktu muda merupakan seorang joki alias penunggang kuda, “Kita lama tinggal pa mantan Bupati Damopolii (Alm. J. A Damopolii, Bupati Bolmong periode 1981-1991), kita yang ja jaga beliau pe kuda, sekalian joki kalo ada pacuan kuda waktu itu,” kata dia menceritakan.

Saat ini Om Alex memiliki dua ekor kuda yang secara bergantian dipakainya untuk menarik bendi. Hari itu, giliran si putih, kuda berumur 8 tahun tanpa nama panggilan, “Cuma kuda, nyanda ada nama dia,” kata Om Alex sambil tersenyum saat ditanya nama kudanya.

Meski tak muda lagi, Om Alex terlihat begitu sehat dan bersemangat. Tak jarang, beberapa kerabat dan rekannya heran dengan awet mudanya Om Alex, “Dorang ja heran lia pa kita, sedang gigi masih mulus. Dorang sampe ba tanya apa depe resep, kita cuma bilang jang terlalu banyak ba pikir,“ ujarnya tersenyum seraya menceritakan, dirinya pernah kaget ketemu teman sekolahnya dulu, “kita riki kage baku dapa deng tamang satu klas waktu skolah dulu, riki so nda kanal dari so dapa lia tua skali dia, so kurang tongka-tongka deng tongkat,” katanya sambil tertawa.

“Kalo Ada Iyo, Kalo Nyanda Cari”

Bagi Om Alex, kehidupan jangan terlalu dibawa susah, yang penting bersikap baiklah kepada orang lain dan taat beribadah, “Kalo ada iyo, kalo nyanda cari!” kata Om Alex menegaskan tentang prinsip hidupnya.

Prinsip hidup yang dia jalani itu mungkin yang membuat dirinya terihat jauh lebih muda dari pria seusiannya. Om Alex dikaruniai 3 orang anak, 5 orang cucu dan seorang cece. Om Alex giat bekerja di usianya yang senja itu. Saban jam 7 pagi dirinya sudah keluar rumah mengemudikan bendinya hingga jam 12 siang.

Setiap hari dirinya mengantar sejumlah penumpang kemana saja di wilayah Kotamobagu. Bahkan pernah mengantar penumpang jauh sampai ke luar Kota Kotamobagu, “Yang penting baku ator no depe biaya, apalagi so jao bagitu,” ungkap Om Alex yang sesekali berbahasa Mongondow dalam percakapan siang itu.

Meski lahir dari ayah seorang tentara asal Minahasa dan ibunya asal Jawa, namun tak jarang orang kaget dan tak percaya saat dia bercakap dengan kelihaiannya berbahasa Mongondow, “Nanti kita jelaskan kalo kita dari kacili sampe basar tinggal di Muntoi, baru dorang ta mangarti,” katanya tersenyum.

Om Alex menceritakan kemampuan berbahasa Mongondow itu dikuasainya sejak kecil. Sejak masa kanak-kanak dirinya tinggal di Desa Muntoi. Di masa itu katanya, semua penduduk desa dalam bercakap tidak ada yang menggunakan bahasa Indonesia, semuanya berbahasa Mongondow. Bahkan katanya, komunikasi bahasa Indonesia terdengar hanya saat di sekolah.

Bendi Lain Habis Berganti Bentor

Saat ditanya tentang bendi lain yang masih beraktifitas mengangkut penumpang di wilayah Kotamobagu, Om Alex tertawa dan menjelaskan bahwa saat ini sepertinya sudah tak ada lagi. Sejak menjamurnya bentor, pemilik bendi banyak yang menjual dan menggantikannya dengan bentor, “Apalagi tak sedikit yang jual kebun demi memiliki bentor waktu itu,” katanya.

Bagi Om Alex, bendi memiliki nilai seni tersendiri, apalagi bendi merupakan angkutan tradisional. Meski terkesan peminat hanya kalangan tertentu, namun selamanya bendi tetap akan disukai. Dirinya tak lelah menjaga kuda-kudanya, tiap sore dia menyiapkan makanan kedua kuda miliknya. Makanan kuda diperolehnya dengan mengambil rumput-rumput liar yang ada di wilayah Kotamobagu.

Untuk keperluan perawatan bendi semua tersedia di Kotamobagu, kecuali untuk keperluan kuda, beberapa barang harus dibelinya di Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, “Rupa sepatu kuda, kita ja bli di Amurang.”

Operasi Tilang, Bendi Om Alex Dicegat Polisi

Om Alex mengisahkan pengalaman unik menjadi satu-satunya pengemudi bendi di Kotamobagu. Pernah suatu ketika, di ruas jalan Kotamobagu digelar operasi tilang, tiba-tiba dirinya dicegat polisi saat melintas. Ia khawatir kena tilang karena kondisi bendinya sudah tak miliki kiur dan pelat nomor. Waktu itu yang mencegatnya, seorang perwira polisi yang tampak memimpin operasi tilang saat itu. Namun dirinya lupa siapa nama perwira polisi itu, bahkan ia lupa waktu kejadiannya karena sudah lama sekali.

Dirinya berhenti saat dicegat, namun perwira polisi itu bukan menanyakan SIM, surat-surat dan kelengkapan bendinya. Om Alex mengaku waktu itu hanya diminta untuk berhati-hati membawa bendi. Meski heran, dia menyahut mengiyakan katanya. Kemudian polisi lanjut berkata sembari berbisik padanya, “Kita dapa pangkat ini da lewat deng nae-nae bendi, jangan jual tu bendi ne Om?” katanya mengulang ucapan polisi waktu itu sambil tertawa.

****

Waktu ditanya soal penghasilan sebagai kusir bendi, Om Alex mengungkapkan yang biasa dikumpulkan  per hari rata-rata 60 hingga 70 ribu, “Lumayan kita ja dapa, kita mancari cuma sampe jam 12 siang,” bebernya.

Ceritanya terhenti saat seorang ibu terlihat keluar dari pintu pasar, “Eh kita mo ba jalang dulu, tape langganan napa so kamari,” kata Om Alex sembari bergegas di kursi depan bendinya, menanti langganannya naik.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here