Pelantikan Pengurus PWI Boltim, 14 Wartawan Walk Out

0
663

Pelantikan Pengurus PWI Boltim, 14 Wartawan Walk Out Boltim Headline
ZONA BOLTIM
– Pemilihan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Bolaang Mongondow Timur (Boltim) yang dilaksanakan Selasa (21/10) siang tadi, berlangsung kisruh dan diwarnai aksi walk out sebagian besar wartawan biro Boltim.

Acara yang dihadiri Ketua PWI Sulut Jotje Kumajas, Wakil Ketua Midun Loho dan Sekretaris Vouke Lontaan ini, awalnya berlangsung lancar, namun hujan interupsi mulai terjadi saat PWI Sulut membacakan nama-nama pengurus yang akan dilantik. Padahal selama ini tak pernah dilakukan pemilihan pengurus atau pembicaraan lainnya.

Sebagian besar wartawan yang hadir menghendaki pemilihan dan sosialisasi anggaran dasar, namun permintaan itu ditolak. Mereka mempertanyakan perihal ketua yang akan dilantik saat itu menjabat pengurus partai politik dan mantan calon legislatif.

“Kami ini pekerja profesional, harusnya pimpinan kami harus dipilih secara demokratis bukan langsung dilantik,” kata Astam Agow wartawan Posko Manado diiyakan Wartawan Media Totabuan Edmon Mamonto.

Dia mengecam sikap PWI Sulut yang dinilai arogan dan otoriter karena tak memberi mereka kesempatan berbicara. “Kami merasa mereka ingin memecah bela wartawan di Boltim. Ada apa sehingga kami tak diberi kesempatan bicara, kami tak diberi tahu Anggaran Dasar,” katanya.

Wartawan Kawanua Post, Sandy Bawoel mengatakan mereka hanya membutuhkan transparansi termasuk dalam pengelolaan keuangan dan independensi organisasi tersebut. “Terlalu banyak bantuan yang diberikan donatur tapi tak dilaporkan semua. Belum lagi ada informasi yang kami dapat bahwa organisasi ini digiring untuk bisa merekomendasikan pemecatan pejabat dan terlibat dalam tambang. Itu yang kami minta diklarifikasi namun ditolak,” bebernya diiyakan wartawan Radar Bolmong Rusmin Mamonto.

Wartawan Koran Sindo Manado, Chendri Mokoginta mengatakan dirinya tak mempersoalkan posisi ketua. Hanya saja diperlukan transparansi terhadap anggota. “Kami walk out karena tak diberi kesempatan bicara, permintaan membacakan anggaran dasar tak dipenuhi, usul kami ditolak. Dipaksakan tetap dilantik,” katanya

Padahal hampir seluruh wartawan Boltim sekitar 20 orang siap bergabung di PWI namun aspirasinya tak diakomodir. “Kami disebut bukan anggota, tak berhak bersuara, padahal status kami sama dengan mereka yang dilantik, baru bergabung. Kami ingin memberi informasi yang benar kepada PWI Sulut, tapi ditolak. Jika alasan hanya karakter, kenapa tiga tahun,” bebernya.

Pihak PWI Sulut, kata Chendri, memaksakan untuk tetap melantik pengurus yang penunjukkannya tak diketahui oleh wartawan. “Kami ingin Anggaran Dasar dibacakan karena ada informasi organisasi ini akan digiring ke organisasi profit. Padahal wartawan harus profesional dan independen,” katanya.

Keputusan walk out diikuti 14 wartawan di Boltim, sedangkan 7 wartawan lainnya tetap tinggal untuk dilantik sebagai pengurus PWI Boltim. Padahal menurut Chendri, kerinduan mereka tetap bersama PWI namun pasca insiden tersebut mereka kompak membentuk organisasi wartawan sendiri. Sehingga semua atribut PWI dikembalikan.

“Kami menghargai mereka yang tetap dipaksakan dilantik. Kami tak mau turut serta dalam keputusan yang tak jelas. Kami akan membentuk organisasi sendiri yang benar-benar profesional dan independen yang menjadi wadah advokasi dan berorganisasisanya wartawan. Namanya Persatuan Wartawan Independen Boltim,” katanya.

Sekertaris PWI Sulut, Vouke Lontaan saat dikonfirmasi membantah tudingan tersebut. Kata dia, wartawan yang menolak bukan anggota PWI, walaupun telah mengisi formulir keanggotan dan mengenakan atribut seragam PWI.

“Mereka bukan anggota, ini kan pembentukan bukan pemilihan, jadi domain PWI Sulut. Pembentukan baru mengantongi anggota muda, nanti akan naik status menjadi anggota biasa tiga tahun. Setelah itu pemilihan terserah mereka. Bagaimana mau diberi kesempatan bicara mereka bukan anggota PWI,” jelasnya.

Namun dia kaget dan baru mengetahui jika ketua yang dilantik merupakan pengurus partai politik dan mantan calon legislatif. “Saya tidak tahu, memang diaturan tidak bisa dari partai. Hanya anggota biasa yang bisa mengantongi Anggaran Dasar,” terangnya.

Baginya tak masalah jika anggota PWI Boltim hanya tujuh orang. Dia mengungkapkan di Indonesia terdapat 26 organisasi wartawan. Jadi semua wartawan bebas memilih organisasi.

Sekadar informasi, wartawan Boltim selama ini tak memiliki wadah komunikasi dan advokasi. Maka dibentuklah PWI Boltim. Belakangan sebagian besar wartawan pos liputan Boltim ramai-ramai keluar. Bahkan Bupati Boltim Sehan Landjar membatalkan kehadirannya diacara tersebut karena kisruh ditubuh organisasi wartawan tersebut. Namun ketujuh anggota PWI Boltim tetap dilantik sebagai pengurus.

Wartawan yang memilih Walk Out yakni Chendry Mokoginta (Koran Sindo), Edmon Mamonto (Media Totabuan), Rusmin Mamonto (Radar Bolmong), Astam Agow (Posko Manado), Aldi Ponge (Tribun Manado), Sandy Bawoel (Kawanua Post), Apri Embo (Jurnal Sulut), Mufid Mokodompit (detikawanua.com),  Billy Mokodompit (Kabar Sulut), Ismail Batalipu (Media Sulut), Rizki (Bolmong Fox), Rifki Palengkahu (Warta Timur), Danny Dondo (Warta Timur) dan Marwardi Mamonto Radar Manado. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here