Pengrusakan Lingkungan Berdampak Bencana

0
535
Pengrusakan Lingkungan Berdampak Bencana Bolmong
Erwin Makalunsenge

ZONA BOLMONG – Terjadinya kerusakan dan kerugian akibat dampak bencana banjir sangat besar. Sebagaimana banjir yang menerjang delapan desa di tiga kecamatan di Bolaang Mongondow (Bolmong) Selasa (12/8) kemarin. Selain kerugian harta benda senilai Rp 1 miliar lebih, aktifitas warga pun lumpuh. Menurut aktivis lingkungan Bolmong, Erwin Makalunsenge, beberapa bencana terjadi selain karena faktor alamiah, juga tak lepas dari ulah manusia yang tak peduli dengan lingkungan.

Erwin menjelaskan, berbagai aktivitas merusak hutan dan pertambangan liar ikut menjadi sumber bencana. “Perambahan liar, pembukaan lahan perkebunan, pembukaan tambang dan perluasan pemukiman, sangat berpotensi menimbulkan bencana alam. Kondisi itu mengakibatkan struktur tanah tak bisa lagi menampung debit air sehingga terjadi banjir. Kesadaran warga akan bahaya buruk dari pengrusakan hutan harus ditumbuhkan,” katanya.

Lanjut Erwin, beberapa kasus banjir disebabkan oleh pengikisan hutan. Data di Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) menyebut, luas hutan saat ini sebesar 294.514,89 Hektare (ha). Sekitar 42.959 ha tergolong kritis dan setiap saat dapat menimbulkan bencana alam.

Meski begitu, kata dia, kritis hutan dari data tersebut masih bisa dikatakan minim jika dibandingkan dengan daerah lain, sehingga penyerapan air masih berfungsi dengan baik. Dari 294.514,89 ha luas hutan itu, terdiri dari hutan lindung 5.550,66 ha, hutan lindung bakau 287,81 ha, cagar alam 12.396,64 ha. Sedangkan hutan produksi tetap seluas 19.865,45 ha, hutan produksi terbatas 27.091,28 ha, dan areal penggunaan lain (APL) 116.229,09 ha.

Jumlah luas hutan di Bolmong, kata Erwin, juga masuk dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW). Luas taman nasional yang berada di daerah Bolmong adalah 133.193,96 ha atau hampir setengah luas hutan di Bolmong. “Revitalisasi kawasan hutan yang terlanjur rusak terus dilakukan. Penanaman berbagai macam bibit kayu dan tanaman tahunan dilakukan secara berkesinambungan. Untuk itu, mari kita terus menjaga kelestarian lingkungan terutama kawasan hutan agar bencana tidak datang,” harap Erwin.

Peliput: Wiradi Gilalom

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here