Petani Keluhkan Kelangkaan Pupuk

Petani Keluhkan Kelangkaan Pupuk Ekonomi Kotamobagu
Kepala DP4K dan KP Kotamobagu, Drs Hardi Mokodompit

ZONA KOTAMOBAGU – Sudah sebulan  petani di Kotamobagu mengalami kesulitan mendapatkan pupuk. Pasalnya, pupuk saat ini sulit ditemui di distributor dan penyalur, Meski tersedia, namun pupuk yang dijual harganya cukup mahal, tak sesuai dengan Harga Enceran Tertinggi (HET).

“Hampir sebulan pupuk sulit ditemui, kalau pun ada harga perbantal berkisar  Rp 120- 130 ribu dari harga normal  Rp110ribu perbantalnya,” keluh Sutrisno Manoppo, Warga Poyowa Besar, Kamis (29/12).

Padahal menurut Sutrisno, saat ini tanaman padi yang ia tanam sudah berumur 40 hari, dan belum juga diberi pupuk. Ia khawatir, tanaman tersebut bisa terancam gagal panen. Sebelumnya, Sutrisno dan kelompok taninya sudah pernah mengusulkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) ke pihak penyalur, namun tak ada realisasi.

“Pupuk urea paling dibutuhkan petani. Kami takut panen kali ini gagal,” ujar Sutrisno dan turut diaminkan oleh sejumlah petani.

Menanggapi keluhan petani itu, Kepala DP4K-KP kotamobagu Hardi Mokodompit  mengatakan, untuk mendapatkan pupuk bersubsidi harus melalui mekanisme. Sebagaimana kelompok tani harus mengajukan RDKK kemudian ditujukan ke penyalur dan diteruskan ke distributor.

“Nah, bukan karena stoknya yang langka, akan tetapi harus melalui prosedur, sebab ini adalah pupuk bersubsidi. Nantinya, ada tim dari BP4K-KP, kemudian petani konsultasikan dengan penyuluhnya untuk membuat RDKK,” katanya.

Hardi mengaku, stok pupuk saat ini masih bisa mencukupi kebutuhan petani yang ada di kotamobagu.

“Stoknya yang disiapkan distributor pupuk yang berada di Desa Tungoi,Kec Lolayan lumayan banyak,” ujar Hardi.(ads/gito)

Leave a Response