Pria Ini Sebut Bolmong Negeri Omong Kosong

Pria Ini Sebut Bolmong Negeri Omong Kosong Komunitas

ZONA KOMUNITAS – Seorang netizen melalui akun facebook-nya bernama Sumardi Arahbani, menyebut Bolaang Mongondow (Bolmong) adalah negeri omong kosong. Pernyataan itu dilontarkannya melalui tulisan di grup facebook, Sahabat DeMo Dari BolMongRaya Untuk Indonesia, Jumat (11/06) malam.

Tak hanya itu, akun tersebut juga menulis bahwa Bolmong ditaburi pemimpin yang hampa pikiran. Tak diketahui pasti apa maksud pertanyaan itu, namun sepertinya pemilik akun ini kesal soal tak ada tokoh dari Bolmong yang diusulkan menjadi pahlawan nasional. Berikut tulisan pria lulusan Universitas Diponegoro tersebut.

BOLMONG: NEGERI OMONG KOSONG ! DITABURI PEMIMPIN YANG HAMPA PIKIRAN.

Lagi-lagi soal Bolmong dalam Peta Peradaban Utara Sualwesi. Hari ini di Hotel Aryaduta diselenggarakan Seminar Nasional “KETOKOHAN DAN KARYA LUAR BIASA CALON PAHLAWAN NASIONAL: A. MONONUTU DAN BANTAHA SANTIAGO: “. Seminar itu adalah dalam rangka usulan Provinsi Sulawesi Utara kepada Pemerintah Pusat untuk menjadikan dua tokoh tersebut sebagai PAHLAWAN NASIONAL. Sepengetahuan saya, seminar serupa tiga tahun yang lalu juga pernah dilakukan di Manado, yaitu dalam rangka pengusulan BW. LAPIAN sebagai pahlawan nasional. Dua hari yang lalu akhirnya, B.W. Lapian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi.

BAGAIMANA DENGAN Letjen. A.Y. MOKOGINTA?

Dua kali berturut-turut Pemerintah memberikan gelar pahlawan dari Sulawesi Utara; Lambertus Nicodemus Palar (2013) dan Bernard Wilhem Lapian (2015) . Kedua-duanya berasal dari Minahasa. L.N. Palar pernah menjadi perwakilan Indonesia untuk PBB. Sementara B.W. Lapian adalah gubernur Sulawesi, 1951-1952. B.W. Lapian ini adalah ayah dari A.B. lapian, seorang sejarawan maritime.

Bagi Bolaang Mongondow, B.W. Lapian adalah tokoh yang merancang Program Rekonstruksi Nasional; yaitu pemindahan penduduk Minahasa ke dataran Dumoga tahun 1950-an. Sebagian besar penduduk yang akan dipindah itu adalah bekas tentara dan milisi di jaman perang revolusi. Pada waktu itu ada kurang lebih 15 ribu tentara atau milisi yang sudah direncanakan ditempatkan di Dumoga.

Itukah sekilas tentang Lambertus Nicodemus Palar dan Bernard Wilhem Lapian. Bagaimana dengan pejuang yang berasal dari Bolaang Mongondow? Pernahkah diusulkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, untuk menjadi pahlawan; semisal tokoh AY. Mokoginta; Lena Mokoginta atau yang lainnya?.

Seperti yang kita ketahui, Sekprov saat ini adalah orang dari Bolaang Mongodnow, Ir. Siswa Rahmad Mokodongan; lewat dialah secara administratif dua tokoh dari Minahasa tersebut diusulkan untuk menjadi pahlawan. Dan akhirnya dikabulkan oleh dua presiden yang berdeda: SBY dan Jokowi.

Rentetan peristiwa di atas bagi saya adalah sesuatu yang sangat serius. Namun, mungkin bagi orang lain dilihat sebagai peristiwa yang layak ditertawakan. Semua berasal dari: BOLMONG: NEGERI OMONG KOSONG ! DITABURI PEMIMPIN YANG HAMPA PIKIRAN.

Tulisan Sumardi Arahbani ini mendapat like juga menuai komentar sejumlah anggota grup. Satu di antaranya akun bernama Gandhi Goma yang menulis, “Apa artinya sebuah nama ??? Sejarah ditulis karena keinginan penulis; jika anda sebagai akademisi berasal dari Bolaang Mongondow berkaryalah dengan menulis otobiografi para pelaku sejarah berasal dari Mongondow.”

Menurut Gandhi, dalam studi pustaka ke perguruan tinggi UI, ITB, UGM, UNDIP, karya tulis dari almarhum Guru Besar Unima Prof. DR. H.T. Usup berasal dari Bolmong Utara yang menjadi referensi para mahasiswa pasca sarjana. Namun sayang tidak ada dalam perpustakaan di UDK, STIE Kotamobagu, atau pun perpustakaan daerah.

“Kita sebagai intelektual jangan selalu membahasakan gaya bombatis mirip judul koran harian yang terjual murah dgn oplah tinggi “OMONG KOSONG” untuk merendahkan para cendikiawan BMR. Ok
,” tambah pengurus PWI perwakilan Bolmut ini.

Lain dengan Gandhi Goma, akun bernama Denny MB Mokodompit yang juga merupakan pengelola grup (Admin) memilih mengomentari sekadarnya, “Hmmm…….,” tulis DeMo sapaan akrabnya.(*)

Leave a Response