Satu Dari Dua Terdakwa Pembunuhan di Ibolian Divonis Bebas

0
449
Satu Dari Dua Terdakwa Pembunuhan di Ibolian Divonis Bebas Hukum
Suasana sidang putusan kedua terdakwa

ZONA HUKRIM – Jumaradi Gilalom alias Jum (27), satu dari dua terdakwa kasus pembunuhan yang terjadi di Desa Ibolian Induk, Kecamatan Dumoga Tengah, divonis bebas oleh Majelis Hakim di Pegadilan Negeri Kotamobagu, Selasa (17/3).

Sidang yang digelar pagi itu, diketuai Majelis Hakim Nur Dewi Sundari, anggota BM Cintia Buana dan Etrick I Christoffel, dibantu Panitera Muda Pengganti Sri Wahyuni Kanginden. Dalam putusannya Majelis Hakim menilai, Jaksa Penuntu Umum (JPU) tak dapat membuktikan dakwaannya terhadap terdakwa Jum.

Sedangkan terdakwa Muktar Gilalom alias Otay (26), yang merupakan saudara kandung terdakwa Jum, dinyatakan sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal 338 KUHPidana. Denganya Majelis Hakim menjatuhkan vonis 12 tahun penjara.

Atas vonis bebas salah satu terdakwa, JPU Fery Febrianto menyatakan masih pikir-pikir apakah akan melakukan upaya hukum lanjutan. Sebelumnya JPU menuntut kedua terdakwa 12 tahun penjara dengan pasal 338 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Saat diwawancarai seusai sidang, salah satu hakim anggota yang menangani perkara tersebut, Erick I Cristoffel SH mengatakan, alasan bebasnya terdakwa Jum karena tidak terbukti dakwaan JPU terhadap perbuatan yang dilakukannya. “Setelah diperiksa, perbuatan yang dilakukan terdakwa tidak sesuai dengan dakwaan,” katanya

Lanjut Christoffel, dalam dakwan primer dan subsider terhadap terdakwa Jum, tidak terbukti pembunuhan berencana. Sedangkan dakwaan subsider terbukti untuk terdakwa Otay. “Alasan memberatkan, karena terdakwa satu (Otay.red), pernah dijatuhi hukuman penjara karena melakukan tindak pidana sebelumnya,” ungkap Christoffel.

Terpisah, Joudi R. Porajou SH, selaku penasehat hokum terdakwa saat wawancarai mengatakan, pihaknya menerima putusan majelis hakim. Terdakwa Jum diputus bebas karna dalam fakta persidangan sangat jelas tindakannya tidak mengakibatkan atau tidak terancam hukuman pasal- pasal mengakibatkan kematian korban. Dalam hal ini 340,338, 351 ayat 3 tersebut.

“Itu fakta persidangan, terdakwa Jum tidak terbukti tiga pasal itu, sehingga dia bebas dari tuntutan hukum. Kalau terdakwa Muktar Gilalom alias Otay, sangat jelas dia yang melakukan penikaman yang mengakibatkan korban meningal. Terdakwa Otay juga terbukti pernah dihukum kasus berbeda, maka boleh dikatakan residifis,” terang Porajouw.

Sekadar diketahui, kasus pembunuhan ini terjadi di jalan Trans Sulawesi, tepatnya di depan Masjid Nurul Yakin Desa Ibolian Induk, Kecamatan Dumoga Tengah, Bolmong, tanggal 28 Agustus 2014 lalu.

Awalnya terdakwa Otay bersama rekan-rekannya tengah pesta miras di kompeks Pasar Ibolian. Saat itu korban Rusdiyanto Mokodompit melintas mengunakan sepeda motor kemudian dipanggil terdakwa dan langsung menayakan siapa yang berteriak malam tadi. Korban yang menjawab tidak tahu, langsung ditampar terdakwa Otay.

Karena kesal, korban lansung pulang ke rumah dan mengambil parang untuk menemui terdakwa Otay, Keduanya pun bertemu di Depan Mesjid Nurul desa setempat. Terjadilah cekcok hingga saat korban mencabut parang (samurai.re) hendak menyerang, namun terdakwa Otay mendahului dengan tikaman pisau yang mengena bagian kiri dada korban. Di saat bersamaan, terdakwa Jum yang berada di lokasi ikut mengambil bambu dan memukulkannya ke kepala korban.

Dalam perjalanan ke Puskesmas, korban jatuh dari motor dan tergeletak di tengah jalan berlumuran darah. Nyawanya pun tak tertolong.

Peliput: Zulkifi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here