Siapa yang Salah, Hati atau Logika?

Siapa yang Salah, Hati atau Logika? Gaya Hidup Zoner

Dalam urusan cinta, adakalanya hati dan logika tak pernah sejalan, bahkan selalu tak selajan. Maunya hati begini, tapi maunya logika begitu, ditambah dengan ucapan yang tak sejalan dengan hati dan logika, pun sebaliknya. Bagaikan dua sisi mata uang, satu raga namun saling berbalikan. Yang sebenarnya jika kedua hal ini bisa sejalan beriringan, maka takkan pernah ada yang namanya konflik batin. Sebuah konflik yang tak terlihat oleh mata kasat namun efeknya seperti merasakan kiamat. Sebuah permasalahan klasik dalam dunia asmara.

Ada yang sering mengatakan, cintailah orang yang mencintai kamu. Sah-sah saja jika diiyakan ketika mengandalkan logika, namun ujung-ujungnya hati yang akan menolak dan menjadi beban batin. Ada juga terjadi sebaliknya, kejarlah orang yang kau cintai, itupun sah-sah saja, tapi jika dia menerima kita dengan terpaksa (tidak mencintai kita), maka sama saja akan terjadi konflik batin baginya. Kalau bahasa populernya adalah Cinta Bertepuk Sebelah Tangan. Sekuat apapun menepuk, tetap takkan bertemu tangan yang satunya.

Yang lebih lucu, ada yang sama-sama saling suka, namun karena ego dan gengsi, tak satupun dari mereka berani mengungkapkan perasaan. Bahkan yang lebih menyedihkan, keduanya tak memiliki perasaan satu sama lain, namun memaksakan untuk bersama karena alasan tertentu. Memang diperlukan sikap tegas untuk mengambil pilihan hidup. Siapa yang tak ingin bahagia dan tenang dunia akherat?

Saya pernah mendengar curhatan dari salah seorang sahabat terbaik saya. Dia menceritakan tentang hubungan yang dijalin bersama sang kekasih awalnya dinilai baik-baik saja. Bahkan, ia sangat yakin bahwa sang kekasih mencintainya setuluh hati, dia berpatokan dari gerak tubuh dan ucapan kekasihnya yang sangat meyakinkan bahwa hanya dia satu-satunya sosok yang dicintai. Maka, berkorban untuk kekasihnya adalah hal wajib yang harus dilakukannya, bahkan berkorban untuk hal-hal yang tak masuk akal sekalipun. Hayalan yang luar biasa indah bersama kekasihnya sudah tertanam kuat di dalam otaknya.

Seiring berjalannya waktu, kejanggalan mulai terasa dan kenyataan pun terungkap. Entah itu benar dari hati sang kekasih, atau hanya ucapan belaka yang tak sesuai dengan hati, namun dengan tegas kekasihnya mengatakan, “Maaf, sebenarnya saya hanya menganggap kamu teman, lebih pun hanya sebagai saudara.” (saya menggunakan versi bahasa indonesia). Kata-kata yang menyakitkan dan terdengar begitu kejam terucap setelah sekian lama bersama. Seperti cerita FTV di tv swasta, namun bedanya, kisah ini lebih alami tanpa didramatisir untuk menaikkan rating.

Ya, tentunya sakitnya luar biasa. Merasa dipermainkan, ya pasti. Merasa dibohongi, apalagi!. Namun, ungkapan sahabat saya yang terakhir kepada saya bahwa dirinya bahagia karena bisa memberikan hal terbaik kepada kekasihnya, namun juga kecewa karena hatinya menolak kenyataan yang sesuai dengan logika yang ada. Dia marah, namun tak bisa membenci. Hanya pelampiasan perasaan yang ia ucapkan kepada sang kekasih sebagai kata-kata perhatian terakhir, “Terima kasih atas waktu yang sudah kita lalui bersama, kalau ada apa-apa hubungi aku.”  Saya pun merasa ini adalah kata-kata tertulus yang diucapkannya, tapi saya hanya bisa mengelus dada, sembari menyodorkan sebungkus rokok serta segelas kopi.

Saya jadi ingat beberapa judul lagu yang cocok dengan kisah ini, yakni lagu dari Last Child – Tak Ternilai, Ungu – Dilema Cinta, D’Masiv – Apa Salahku, dan Bondan Prakoso – Not With Me.  Buat yang penasaran silakan simak lagunya dan rasakan sensasinya. Hehehe.

Memang sakit rasanya berkorban untuk orang yang kita cintai, namun orang tersebut tak mencintai kita. Tapi tak ada yang salah dengan hal itu. Itulah namanya pengorbanan, tidak mengharap balasan dan pengakuan apabila tulus melakukannya. Menderita memang, tapi itulah pilihan yang dipilih sahabat saya.

Sahabat saya ingin kekasihnya tahu, tapi kekasihnya tidak perlu tahu. Kalau menurut asumsi saya, Dia harus tahu, tapi dia tidak boleh tahu, bahasa hati yang sangat dalam.

Siapa yang Salah, Hati atau Logika? Gaya Hidup Zoner   Hayalan tak seindah kenyataan. Ada yang mengatakan, kita hidup bukan untuk hayalan tapi kenyataan. Karena yang  kita hadapi adalah kenyataan bukan hayalan. Ketika hati ingin namun tidak sesuai dengan logika, sebaliknya ketika ada logika namun hati menolak.

Mudah-mudahan ada hikmah di balik kisah ini untuk pembaca.

Heri Setiawan
Wartawan Tabloid Investigasi Topik
Email : anhofunk@gmail.com

 

Leave a Response