Soal Fenomena Disharmoni Kepala Daerah, ini Kata Nayodo dan Jainudin

Soal Fenomena Disharmoni Kepala Daerah, ini Kata Nayodo dan Jainudin Headline Politik

Pasangan calon TB-NK dan JaDi-JO saat pengundian nomor urut beberapa waktu lalu.

ZONA KOTAMOBAGU – Fenomena disharmoni kepala daerah menjadi salah satu pertanyaan yang diajukan tim panelis ke tiap pasangan calon (paslon) walikota dan wakil walikota pada debat publik yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Sabtu (5/5), di Hotel Sutanraja. Dari pantauan, tiap pasangan calon bisa melahap dan dengan mudah menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan pandangan maupun pengalaman masing-masing.

Calon Wakil Walikota Nomor Urut 1, Nayodo Koerniawan, yang diberi kesempatan lebih dulu menjawab pertanyaan itu mengungkapkan, disharmonisasi kepala daerah terjadi karena ketidakdewasaan berpolitik serta kurang pahamnya soal tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang katanya sudah jelas tertuang dalam undang-undang soal fungsi walikota da wakil walikota.

“Kuncinya adalah kedewasaan sesama (walikota dan wakil walikota). Jika wakil tidak memahami tupoksi, itu ibarat kijang yang berlari tanpa arah dan tujuan. Sudah tegas dan jelas diatur dalam undang-undang soal tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing. Jika kedewasaan ada, maka harmonisasi tetap terjadi. Insya allah jika TB-NK terpilih, kita sudah berkomitmen untuk tetap harmonis sampai berakhir masa jabatan,” sebut Nayodo.

Jawaban berbeda disampaikan Calon Walikota, Jainudin Damopolii. Menurutnya, disharmonisasi kepala daerah itu terjadi karena ketidakikhlasan, komitmen yang tidak dipegang dan selalu mengutamakan ego.

“Ini juga dampak dari Pilkada soal high cost, karena berfikir bahwa walikota yang cost-nya besar, sehingga wakil dibatasi. Kedewasaan yang perlu ditunjukkan. Saya berkomitmen hari ini, insya allah kita menang akan menggunakan takaran hati nurani dalam melaksanakan tugas-tugas sebagai walikota dan wakil walikota,” ujar Jainudin.

Sementara itu, tim panelis menilai secara keseluruhan jawaban yang disampaikan tiap pasangan calon baik pada segmen II (menjawab pertanyaan panelis) ataupun segmen III (tanya jawab) sudah cukup baik meski tak terlalu maksimal karena keterbatasan waktu.

“Tadi itu menarik, ada jawaban global dan spesifik. Tiap pasangan calon sama-sama cerdas. Kalau dilihat memang waktunya terbatas sehingga eksplorasi terhadap visi misi tidak cukup bagus, tapi dari jawaban mereka menurut saya sudah cukup bagus,” sebut salah satu panelis, Taufik Pasiak.

Tim Panelis lainnya, Ferry Daud Liando, mengungkapkan dari pelaksanaan debat pihaknya hanya sebatas menyajikan pertanyaan dengan menggali visi misi tiap pasangan calon. Yang menilai dari apa yang disampaikan pasangan calon katanya adalah masyarakat.

“Semua pasangan calon punya komitmen, tapi apakah itu bisa diterima tergantung dari masyarakat yang menilai karena kebutuhan dan keinginan masyarakat itu berbeda-beda,” ungkapnya. (trz)

You might also like

Politik 0 Comments

KPU Bolmong Gelar Rakor bersama IDI, HIMPSI dan BNNK

ZONA BOLMONG – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bolmong menggelar rapat koordinasi (rakor) tahapan Pilkada, bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK). Rakor terkait

Headline 0 Comments

Delapan Formasi CPNS KK Tak Ada Pelamar

ZONA KOTAMOBAGU – Tahapan pemasukan berkas Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Pemerintah Kota Kotamobagu resmi ditutup sejak pukul 16.00 Wita, sore tadi. Hal itu dikatakan, Kasubid Formasi dan Perencanaan BKDD

Politik 0 Comments

Deklarasi Damai Awali Kampanye Pilkada Bolmong

ZONA BOLMONG – Menandai dimulainya tahapan kampanye Pemilihan Kepala Daerah Bolaang Mongondow (Pilkada Bolmong), Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bolmong menggelar deklarasi kampanye damai di Lapangan Bungin, Desa Inobonto, Kecamatan Bolaang,

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply