MSL: YPBSU Adalah Dosa Warisan Pemerintah Terhadap Rakyat BMR

0
510
MSL: YPBSU Adalah Dosa Warisan Pemerintah Terhadap Rakyat BMR Boltim
Ketua LSM Surya Madani, Muhammad Salim Landjar

ZONA BOLTIM – Ketua LSM Surya Madani Bolaang Mongondow Muhammad Salim Landjar mengungkapkan, perusahaan tambang emas PT Newmont Minahasa Raya (NMR) yang beroperasi di Minahasa dan Bolaang Mongondow Timur (Boltim), adalah sebuah skandal Pemerintah Pusat, Provinsi dan PT NMR yang merugikan rakyat Bolaang Mongondow Raya (BMR).

Pasalnya menurut MSL, jika melihat izin lokasi pertambangan PT NMR, maka semua produksi emas lebih dari 100 ton dengan nilai kurang lebih 500 triliun, diambil dari wilayah Boltim, yakni di Gunung Mesel, Lions dan Nibong. Hanya pabrik dan kantornya yang berada di daerah Minahasa Tenggara tepatnya di Ratatotok.

“Namun dari sisi pambagian royalti, BMR hanya mendapatkan bagian sebagai daerah tetangga, bukan daerah penghasil. Padahal dalam izin disebutkan bahwa lokasi tambang berada di kabupaten Minahasa dan Kabupaten Bolmong,” ungkap MSL.

Tak hanya itu, menurut MSL, limbah dari hasil pengelolaan emas tersebut dibuang di teluk Buyat wilayah Boltim. Kemudian mengorbankan satu dusun rakyat Boltim yang dibuang dan diterlantarkan di Duminanga Bolsel sekitar tahun 2006 silam. Dengan alasan terjadi bencana penyakit Minamata.

“Pemindahan penduduknya pun dilakukan secara evakuasi bukan relokasi. Sehingga para pemindah penduduk yang mungkin disewa oleh PT NMR memindahkan 73 kepala keluarga ke Duminanga Bolsel, tanpa koordinasi dengan pemerintah yang ditinggalkan,” tutur MSL.

MSL menyebutkan, evakuasi itu sebenarnya bohong-bohongan, karena kenyataannya Mahkamah Agung (MA) memutuskan tidak ada minamata di Buyat. “Lalu siapa yang bertanggung jawab terhadap evakuasi yang dilakukan itu,” sebut MSL

Disisi lain kata MSL, Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara (YPBSU) yang dibentuk atas dasar perjanjian niat baik (goodwill agreement) antara Pemerintah RI dan PT NMR, yang kemudian mengelola pendanaan PT NMR senilai 30 juta US dolar untuk reklamasi paska tambang selama 10 tahun. Dari dana tersebut hingga kini 24 juta US dolar yang sudah tersalur, masih tersisa 4 juta US dolar.

“Namun ketidakadilan lagi-lagi dipraktekkan oleh YPBSU yang dikendalikan Menkokesra dan pemerintah provinsi. Dari 106 miliar dana pertama kali dikucurkan oleh YPBSU, hanya 8 miliar di Bolaang Mongondow, yakni 6 miliar untuk jalan dan 2 miliar puskesmas di Buyat. Sisanya itu yakni 98 miliar semua di Minahasa Tenggara. Demikian seterusnya sampai dana ini tersisa 4 juta US dollar,” katanya lagi.

Sehingga atas nama rakyat BMR, MSL meminta sebaiknya sisa dana yang masih 4 juta US dollar dari 30 juta US dollar yang sudah dibelanjakan, sepenuhnya diberikan secara utuh kepada daerah Bolmong yakni Boltim sebagai daerah lingkar tambang dan penghasil emas tersebut. “Karena jika tidak, maka tidak menutup kemungkinan akan ada upaya-upaya hukum dan lain-lain dari masyarakat BMR,” tegasnya.(zoners)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here