Grand Opening Sains Coffee: Plagiarisme, Robot Gaib, dan Tanggung Jawab yang Menguap

509
Grand Opening Sains Coffee: Plagiarisme, Robot Gaib, dan Tanggung Jawab yang Menguap
Gambar Plagiat yang Menjadi Lukisan untuk Dilelang dan Gambar Merchandise Saat Grand Opening Sains Coffee

Kotamobagu, ZONABMR.COMGrand opening Sains Coffee di Kelurahan Motoboi Kecil semestinya menjadi perayaan manis bagi penikmat kopi dan pelaku UMKM-UMKM binaan Rumah BUMN, yang seharusnya mendapat kesempatan merepresentasikan produknya.

Tapi yang tersaji justru racikan aneh: satu bagian plagiarisme, dua sendok janji palsu, dan topping tanggung jawab yang entah di mana menjadi menu Grand Opening rasa pesta ultah itu.

Salah satu yang paling “kena” rasanya adalah Sandi Gomba, pemilik hak cipta gambar sebuah lukisan yang tiba-tiba muncul di panggung lelang.

“Awalnya saya lihat dari media sosial. Saya pikir cuma dipajang. Eh, ternyata dilelang. Lengkap dengan tepuk tangan,” kata Sandi sambil menunjukkan video acara. “Saya sampai mikir, ini beneran atau saya lagi mimpi absurd.”

Yang membuatnya lebih terkejut, sang CEO Sains Coffe, yang lucunya jadi pihak pemenang lelang, di depan penonton dengan bangga mengklaim bahwa ide lukisan ini lahir dari beberapa orang di “circle” mereka.

Circle mereka? Saya bahkan nggak kenal. Circle pertemanan atau lingkaran setan, saya juga tidak tahu,” ujar Sandi, separuh heran separuh geli.

Lebih “seru” lagi, lukisan yang direpresentasikan oleh sang CEO itu ternyata sudah berkembang biak menjadi merchandise tanpa izin.

“Kalau mau niat, sekalian bikin spanduk satu kota. Biar semua orang tahu ‘hasil karya’ mereka,” sindir Sandi.

Ketika ditanya apakah ia melarang penggunaan karyanya, Sandi tegas menjawab:

“Silakan pakai. Saya senang kalau karya diapresiasi. Tapi jangan dikomersilkan tanpa izin. Kalau mau usaha bareng, ngomong baik-baik. Ini malah seperti maling yang minta difoto sambil senyum.”

Bukti Hak Cipta Gambar di Laptop Sandi Gomba yang Diklaim Sains Coffee

Bagi Sandi, yang paling disayangkan bukan hanya pelanggaran hak cipta, tapi bagaimana sebuah acara dengan dukungan nama besar bisa berakhir penuh klaim sepihak dan omong kosong.

“Kalau saya diam, orang akan percaya ini ide mereka. Besok-besok, mungkin mereka bilang saya yang menjiplak karya saya sendiri. Dan percaya atau tidak, banyak orang yang akan mengangguk,” ucapnya.

“Kopi itu pahit, tapi kebohongan itu lebih pahit. Bedanya, pahit kopi bisa hilang dengan gula, pahit kebohongan… susah hilang,” tutup Sandi.

Drama belum selesai. Di luar sana, flyer acara mengumumkan pameran robotik—janji yang cukup membuat orang membayangkan sebuah sajian futuristik. Tapi saat hari H, hasilnya… nihil. Nol besar.

Seorang pengunjung yang datang jauh-jauh demi rasa penasaran mengaku kecewa. “Jangankan robot, bayangannya saja tidak ada.”

“Robotnya mungkin masih di jalan, atau minum kopi di belakang. Ini bukan pameran robotik, ini pameran khayalan.” tambah pengunjung lainnya.

Dan di sinilah bagian yang tak kalah unik: keganjalan-keganjalan tadi ternyata makin memantapkan sikap penanggung jawab Rumah BUMN untuk… menolak diwawancarai zonabmr.com.

Lucunya, sosok yang seharusnya bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang berkaitan dengan Rumah BUMN ini, saat dihubungi via telepon justru menjawab santai: “Silakan hubungi pihak yang lebih di atas.”

Siapa yang dimaksud? Entahlah—pimpinan? Tuhan? Malaikat Jibril?

Yang jelas, alangkah disayangkan kepercayaan yang diberikan pihak atasan kepada sang penanggung jawab, malah berakhir dengan sang atasan yang ikut menanggung apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab bawahannya.

Grand opening Sains Coffee pun meninggalkan aroma pahit—bukan dari kopinya, tapi dari drama di baliknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here