~Simbol keteguhan sekaligus pengingat bahwa nilai-nilai sosial, ekologi, dan penghormatan terhadap warisan leluhur tetap harus dirawat dan dilestarikan meski arus modernisasi saban hari kian menggerus.~
Oleh: Indra Umbola

ZONABMR.COM — Warga Desa Siniyung, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) nampak sedang bersiap-siap saat mentari baru saja menampakkan wujudnya, Minggu (14/06/2026). Hari itu akan menjadi hari yang panjang. Pagi hingga siang hari warga Siniyung yang mayoritas beragama Kristen akan melaksanakan ibadah ke gereja, setelahnya mereka akan mengikuti prosesi ritual adat Monabang kon Lipu’.
Sementara, sebagian warga termasuk tetua adat dan pelaksana ritual Monabang kon Lipu’ telah melakukan persiapan sejak sehari sebelumnya di Puangan—sebutan untuk rumah adat di Desa Siniyung—yang berjarak kira-kira 500 meter dari jalan utama desa. Persiapan yang dilakukan termasuk menyiapkan obat-obatan herbal untuk kepentingan ritual.
Puangan yang dibangun di areal perkebunan desa sekilas mirip dengan balai pertemuan pada umumnya. Perbedaan baru terlihat saat mengintip ke dalam ruangan. Di kedua sisinya terdapat dipan panjang, sebuah pendopo kecil di depan, dan empat kamar yang dipergunakan untuk keperluan yang berbeda-beda, masing-masing tiga di sisi kiri dan satu di sisi kanan ruangan.

Seiring meningginya matahari, satu per satu warga, pemerintah desa, tokoh masyarakat dan para pemuka agama mulai berdatangan ke Puangan. Saat semuanya telah tiba, ritual Monabang kon Lipu’ segera dimulai dengan memanjatkan doa-doa keselamatan.
Obat-obatan yang terdiri dari aneka tumbuhan diramu dan dimasukkan ke dalam wadah dari daun woka—daun dari tanaman palem yang tumbuh subur di Sulawesi—yang disebut boku’, sebelum akhirnya dibawa para pelaksana ritual untuk dipercikkan ke seluruh wilayah desa, termasuk rumah-rumah warga.

Monabang kon Lipu’ berakar dari tradisi Mongondow yang rutin dilaksanakan dengan tujuan memohon keselamatan dan keamanan daerah. “Esensi dari Monabang kon Lipu’ adalah untuk keselamatan desa dan seluruh wilayah Bolaang Mongondow,” ucap Ketua Lembaga Adat Desa Siniyung, Zachius Manggopa.
Tradisi Monabang kon Lipu’ menjadi doa bersama agar kehidupan masyarakat tetap damai, terhindar dari konflik, serta selalu dilimpahi keselamatan dan kesejahteraan. Hal itu sejalan dengan yang disampaikan Sangadi Desa Siniyung, Oslan Laures. Menurutnya, pelestarian adat merupakan tanggung jawab bersama agar generasi muda tidak kehilangan akar budayanya.

“Ini bukan hanya tradisi tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Siniyung. Kami ingin anak cucu nanti tetap mengenal dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Monabang kon Lipu’,” ungkapnya.
Simbol perekat persatuan
Sebagai tradisi yang telah mengakar selama ratusan tahun, Monabang kon Lipu’ bukan lagi sebatas identitas budaya Mongondow melainkan telah bertransformasi menjadi ruang sosial. Hal itu terlihat dari tingginya antusiasme masyarakat yang notabenenya berasal dari latar belakang suku dan agama yang berbeda-beda.

“Ritual ini merupakan pemersatu karena bukan hanya dilakukan oleh kita yang berasal dari suku Mongondow tapi semua suku yang telah tinggal di Desa Siniyung,” ucap Praktisi Budaya Desa Siniyung, Hendra Manggopa.
Proses gotong royong di balik pelaksanaan ritual menjadi bukti konkret bahwa Monabang kon Lipu’ telah menjadi identitas kolektif masyarakat Siniyung. Hendra berkisah, saat ritual hendak dilaksanakan, beberapa orang yang bertugas akan mengunjungi rumah satu per satu untuk mengumpulkan sumbangan ala kadarnya. Umumnya sumbangan dari masyarakat berupa beras dan bahan logistik lainnya.
“Semua kebutuhan yang digunakan dalam ritual adalah swadaya dari masyarakat,” tambahnya.
Monabang kon Lipu’ merupakan bagian dari ritual Monibi yang durasinya lebih panjang dengan persiapan yang lebih kompleks. Ritual Monibi bisa berlangsung selama tiga hingga tujuh hari. Adapun waktu dan durasi pelaksanaan ritual didasarkan pada wangsit yang diterima para tetua adat.
“Tahun ini ritual besarnya tidak dilaksanakan, kemungkinan tahun depan,” tambahnya.
Kesadaran Ekologis
Selain memiliki nilai budaya dan sosial, upacara adat juga dapat memiliki nilai ekologi yang penting. Sama halnya dengan ritual Monabang kon Lipu’ yang menempatkan Puncak Bukit Bumbungon sebagai entitas yang sakral.
Dijelaskan Hendra, sebagian besar aneka tumbuhan yang digunakan sebagai obat-obatan dalam ritual Monabang kon Lipu’ diambil langsung para Mogogonow (tabib desa) dari Puncak Bukit Bumbungon. Dengan begitu, upaya menjaga ekosistem agar tetap lestari merupakan hal yang mesti diperhatikan dengan saksama.

“Obat-obatan herbal yang digunakan diambil dari Puncak Keramat Bumbungon,” ujar Hendra.
Dengan ditempatkannya Puncak Bukit Bumbungon sebagai entitas sakral dalam ritual Monabang kon Lipu’ menjadi isyarat pentingnya menjaga keseimbangan ekologi bagi masyarakat Siniyung.
Budayawan Bolmong, Uwin Mokodongan menambahkan, bagi masyarakat adat Desa Siniyung, hutan merupakan apotek dan laboratorium alami. Merusak hutan berarti merusak apotek alam itu sendiri.
“Di sinilah makna konservasi penting bagi kita. Karena ketika hutan atau kawasan tertentu rusak berarti ketersediaan obat untuk bahan ritual terancam,” ucapnya.
Tantangan
Dalam kehidupan sehari-hari, perubahan sosial merupakan sebuah keniscayaan. Terlebih di era perkembangan teknologi informasi yang massif seperti saat ini, kontak dengan masyarakat dan kebudayaan lain lebih intens terjadi. Kondisi seperti itu acap kali mendegradasi kebudayaan lokal ke titik nadir.
Dikutip dari Pengantar Sosiologi, perubahan sosial tidak berarti kemajuan, tetapi dapat berupa kemunduran, meskipun dinamika sosial selalu diarahkan kepada gejala transformasi (pergeseran) yang bersifat linier. Sebagai contoh, hancurnya peradaban Yunani dan Kerajaan Mahapahit di masa silam.
Kigsley Davis berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Sedangkan Selo Soemardjan menyatakan, perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Menariknya, Hendra secara tegas menyatakan bahwa perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Siniyung tidak serta merta membawa pengaruh negatif pada eksistensi tradisi Monabang kon Lipu’. Justru kesadaran pentingnya melestarikan tradisi telah terbangun di benak setiap warga.
“Saat prosesi ritual berlangsung, tidak ada larangan siapa saja yang boleh hadir. Orang tua maupun anak-anak silakan datang. Jadi dengan sendirinya pengetahuan tentang tradisi telah terdistribusi kepada anak-anak,” ucapnya.
Rivo Inkiriwang, akademisi yang sempat melakukan riset tentang tradisi Monibi di Desa Siniyung berpendapat, Monabang kon Lipu’ telah menjadi perekat sosial. Sehingga masyarakat merasa ada yang kurang ketika tradisi ini tidak dilaksanakan.
“Jadi masyarakat merasa tradisi ini harus dilaksanakan,” ujar Rivo yang juga merupakan orientator di salah satu gereja di Kotamobagu.
Benteng Terakhir
Beberapa tahun silam, tradisi Monabang kon Lipu’ masih dapat ditemui di beberapa desa yang ada di dataran Dumoga, Bolmong, akan tetapi saat ini tradisi tersebut tinggal dapat ditemui di Siniyung.
“Di dataran Dumoga, tinggal di Siniyung yang masih melaksanakan tradisi ini. Karena hingga hari ini pelaksanaan ritual menjadi kesadaran kolektif masyarakat yang ada di desa ini. Jangan sampai hilang, karena jika tradisi ini hilang, tidak ada lagi anak cucu yang tahu,” ujar Hendra.
Uwin Mokodongan mengungkapkan, ritual atau upacara adat yang hingga hari ini masih dilakukan masyarakat Siniyung merupakan bagian dari tradisi kepercayaan kuno masyarakat Mongondow. Bahkan di era Punu’ Mokodoludut, tradisi ini telah terekam dengan baik lewat tradisi lisan hingga dicatat oleh etnolog di zaman Hindia Belanda.
“Penting digarisbawahi bahwa kepercayaan itu masih terus terwariskan secara turun temurun hingga hari ini,” ungkapnya.
Di sisi lain, campur tangan pemerintah juga dianggap dapat memberi efek signifikan dalam upaya melestarikan kebudayaan lewat implementasi Undang-undang Pemajuan Kebudayaan.
“Ini sebenarnya masuk dalam agenda strategis pemerintah dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah kekayaan budaya yang dimiliki sehingga menajukannya ada bagian dari Upaya melestarikan nilai, identitas, dan jati diri bangsa untuk membawa ke persatuan nasional,” terangnya.
Uwin memberi contoh salah satu upaya yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan membuat kebijakan yang berfungsi sebagai pelindung kawasan Puncak Bukit Bumbungon dari potensi perambahan.
“Dengan adanya produk hukum, dapat memberi dampak dalam melindungi kawasan yang merupakan apotek alami masyarakat Siniyung,” tutur Uwin.
Indra Ketangrejo, salah seorang warga Siniyung juga menyampaikan harapannya agar tradisi seperti Monabang kon Lipu’ dapat terus dilestarikan. “Hingga kini, Siniyung adalah benteng pelestarian budaya agar nilai-nilai tradisi dapat dikenal, dihargai, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkasnya.
Apa yang dilakukan masyarakat Siniyung lewat tradisi Monabang kon Lipu’ adalah simbol keteguhan sekaligus pengingat bahwa nilai-nilai sosial, ekologi, dan penghormatan terhadap warisan leluhur tetap harus dirawat dan dilestarikan meski arus modernisasi saban hari kian menggerus.

*Penulis adalah jurnalis lepas. Penyuka musik dan fotografi.


