Keluarga Pengemudi tragedi Upai saat mengunjungi Keluarga korban beberapa waktu lalu. (Foto: Udi)
ZONABMR.com – Keluarga Rina Longkun masih menunggu kepastian terkait administrasi dan biaya perawatan korban tragedi Drag Race Upai yang hingga kini masih menjalani perawatan di RSUP Kandou Manado.
Kepastian tersebut menjadi persoalan serius bagi keluarga karena biaya pengobatan Rina terus berjalan, sementara keluarga mengaku belum mengetahui secara jelas bagaimana pembiayaan perawatan korban akan diselesaikan.
Hal itu disampaikan Risandi Longkun, anak Rina Longkun, saat dikonfirmasi melalui telepon, Senin (24/8/2026).
“Rupanya ini administrasi korban yang di RS Kandou belum ada kepastian. Iyo, Tat, minta tolong auu ah 🙏 bagaimana dulu caranya,” ujar Risandi dalam percakapan tersebut.
Pernyataan Risandi memperlihatkan bahwa persoalan yang dihadapi keluarga saat ini bukan hanya kebutuhan biaya pengobatan, tetapi juga ketidakjelasan mengenai mekanisme penyelesaian administrasi korban.
Rina Longkun, warga Bilalang Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), merupakan salah satu korban luka dalam tragedi Drag Race Upai di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, pada 9 Agustus 2026.
Rina mengalami luka serius dan masih menjalani perawatan di RSUP Kandou Manado sejak 10 Agustus 2026.
Berdasarkan rincian biaya perawatan hingga 21 Agustus 2026, total tagihan Rina telah mencapai Rp121.792.047.
Biaya tindakan medis menjadi komponen terbesar, yakni Rp89.355.000. Jumlah tersebut mencakup sejumlah tindakan medis, termasuk tindakan bedah, debridement dan penjahitan luka, hingga operasi pemasangan implan tulang pada 13 Agustus 2026.
Sementara biaya pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah, rontgen dan CT scan mencapai sekitar Rp6,3 juta.
Adapun biaya obat-obatan, alat kesehatan, implan dan bahan medis habis pakai mencapai Rp22.096.047. Sedangkan biaya akomodasi dan pelayanan ruangan sekitar Rp4 juta.
Dengan kondisi tersebut, keluarga kini membutuhkan kepastian mengenai siapa yang akan menanggung dan bagaimana penyelesaian biaya perawatan Rina.
Keluarga Sebelumnya Berupaya Meminta Bantuan
Risandi sebelumnya juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menghubungi Danny Ngantung, ayah pengemudi Tian Ngantung, untuk meminta bantuan biaya operasi ibunya.
“Saya menghubungi orang tua Tian untuk bermohon dan menanyakan biaya operasi mama saya. Tapi jawabannya tidak,” kata Risandi, Minggu (23/8/2026).
Keterangan tersebut menjadi perhatian karena dua hari sebelumnya, Danny Ngantung sempat ditanya sejumlah wartawan mengenai pembiayaan para korban.
“Untuk pembiayaan korban, saya belum bisa berkomentar,” kata Danny saat diwawancarai sejumlah media, Jumat (21/8/2026).
Dengan kondisi administrasi yang hingga kini disebut belum mendapatkan kepastian, keluarga Rina kembali berharap ada pihak yang dapat membantu memberikan kejelasan sekaligus solusi terhadap biaya perawatan korban.
Murdani Sempat Sampaikan Keluhan
Persoalan tersebut sebelumnya juga hendak disampaikan Murdani Pobela, adik ipar Rina Longkun-suami dari korban meninggal Risna Longkun, ketika keluarga Tian Ngantung datang memberikan santunan kepada keluarga korban pada Jumat (21/8/2026).
Namun, Murdani mengaku kecewa karena merasa pembicaraannya dipotong oleh Sangadi Muntoi, Yuliana Kartika T. Tunggali, ketika hendak menyampaikan kondisi korban yang masih menjalani perawatan.
“Padahal saya hanya ingin menyampaikan mengenai salah satu korban yang masih dirawat di RS Kandou. Terkait administrasi korban ditanggung bersama keluarga pembalap dan pihak penyelenggara, tapi saat saya mau bicara selalu dipotong oleh Sangadi Muntoi,” ungkap Murdani.
Menurut Murdani, persoalan tersebut perlu disampaikan agar keluarga korban memperoleh kejelasan mengenai penanganan dan pembiayaan korban yang masih menjalani perawatan.
Selain itu, Murdani juga mempertanyakan kepastian santunan atau hak korban melalui Jasa Raharja.
“Kami juga akan mempertanyakan bagaimana dengan asuransi dari Jasa Raharja bagi seluruh korban, termasuk almarhumah istri saya,” katanya.
Bukan Lagi Sekadar Santunan
Bagi keluarga Rina, persoalan saat ini telah berkembang menjadi kebutuhan mendesak untuk mendapatkan kepastian administrasi dan pembiayaan perawatan.
Di satu sisi, Rina masih membutuhkan penanganan medis. Di sisi lain, tagihan telah mencapai lebih dari Rp121 juta dan keluarga mengaku belum memperoleh kepastian mengenai penyelesaiannya.
Karena itu, permintaan Risandi agar ada pihak yang membantu bukan sekadar persoalan santunan, melainkan menyangkut kebutuhan konkret korban yang masih berada di rumah sakit.
Keluarga berharap persoalan administrasi dan biaya perawatan Rina dapat segera mendapatkan kejelasan, sehingga proses penanganan korban tidak terus berada dalam ketidakpastian.