Membumikan kebudayaan di Negeri Pomukaan

18
Membumikan kebudayaan di Negeri Pomukaan
Pementasian tarian dari SS Abo Tadohe (Foto: Zonabmr/Koko Potabuga)

ZONABMR.com – Suasana di Tugu Perbatasan Bolaang Mongondow Timur dan Kotamobagu terlihat lebih ramai dari biasanya, Sabtu (17/10/2026) malam. Tampak sekelompok pemuda yang tergabung dalam Sanggar Seni (SS) Abo Tadohe sedang menyiapkan pentas di pinggir jalan. Trotoar disulap menjadi altar kebudayaan. Sedang di sisi lain jalan kursi-kursi berjejer rapi untuk sesiapa yang sudi datang.

Pukul 20.00 WITA, pertunjukan untuk memperingati Hari Kebudayaan Nasional dimulai. Satu demi satu pentas digelar bersahut-sahutan dengan raungan knalpot, musik dari kendaraan yang lewat, dan apatisme pengguna jalan.

Bak gayung bersambut, adrenalin penampil bertemu dengan antusiasme penonton dalam frekuensi yang sama, meski dalam kondisi panggung yang kurang ideal untuk seni pertunjukan. Sering kali suara penampil hilang akibat tertutup bunyi kendaraan yang melintas di Jalan Raya Kotamobagu – Ratahan.

Dalam pelukan dingin yang merambat diam-diam, pementasan puisi, tarian, nyanyian, monolog hingga pidato kebudayaan seakan memutar waktu. Merentang ingatan ratusan tahun silam tentang kisah Abo Tadohe, Inde Dou, dan Negeri Pomukaan. Sebuah epos kebesaran masa lalu yang kini diceritakan dalam keterbatasan.

 Tak Ada Gedung, Jalan pun Jadi

Dewan Adat SS Abo Tadohe, Herindra Chrisdianto Mamonto membeber, tugu perbatasan dipilih sebagai arena pertujukan karena ikonik dan strategis. Alasan lain yang tak kalah penting adalah minimnya gedung yang dapat digunakan untuk pertunjukan.

Pementasan kebudayaan yang digelar di pinggir jalan raya justru menjaga inklusivitas kebudayaan itu sendiri. (Foto: Zonabmr/Indra Umbola)

“Menurut kami, Tugu Perbatasan adalah tempat yang ikonik dan juga strategis. Di sekitar sini juga hampir tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk pentas,” ucap Chris, sapaan akrabnya, saat dihubungi.

Bahkan perihal minimnya gedung pertunjukan itu menjadi salah satu pokok bahasan ketika pihaknya silaturahmi dengan Wakil Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Argo Vinsensius Sumaiku beberapa waktu lalu.

Di lain sisi, pementasan kebudayaan yang digelar di pinggir jalan raya justru menjaga inklusivitas kebudayaan itu sendiri. Dalam konteks ini, SS Abo Tadohe membawa kebudayaan lebih dekat kepada realitasnya. Atau dengan kata lain, Chris dan kawan-kawan berhasil menyediakan akses terbuka tentang sejarah dan budaya kepada masyarakat.

“Ini merupakan wujud komitmen SS Abo Tadohe dalam melestarikan budaya,” tambah Chris.

Niat luhur itu pula yang menjadi motivasi bagi SS Abo Tadohe tak patah arang meski berada dalam pusaran keterbatasan.

 Langkah Mandiri Tuai Apresiasi

Kegiatan yang digalang Chris dan Kawan-kawan menuai apresiasi dari berbagai pihak. Argo Vinsensius Sumaiku dalam sambutannya mengatakan, upaya pemajuan kebudayaan yang dilakukan secara mandiri oleh SS Abo Tadohe merupakan tindakan nyata dalam melanjutkan semangat para leluhur.

Foto bersama Wabup Boltim Argo Sumaiku bersama istri dan pengurus SS Abo Tadohe (Foto: Zonabmr/Koko Potabuga)

Sehingga menjadikan budaya sebagai landasan untuk membangun daerah merupakan sebuah keniscayaan. Ia berharap, generasi muda terus belajar, berlatih dan berkarya untuk melestarikan kebudayaan daerah.

“Jadilah generasi Bogani yang cerdas, berkarakter, beriman dan berbudaya,” ucapnya.

Uwin Mokodongan dari Monibi Institute menyampaikan, pemajuan kebudayaan merupakan jalan sunyi yang saban hari harus terus dihidupi dengan berbagai geliat, termasuk pementasan yang digelar SS Abo Tadohe.

“Apa yang dilaksanakan hari ini akan menjadi catatan sejarah bagi generasi yang akan datang,” ucapnya saat membawakan pidato kebudayaan.

Dalam pidato yang sama, ia beberapa kali menyebut Boltim dengan nama Negeri Pomukaan, yang dalam Bahasa Mongondow, pomukaan berarti tempat matahari terbit.

“Dulu daerah Boltim juga biasa disebut Pomukaan,” ucapnya usai kegiatan.

Apresiasi lainnya datang dari Ketua Penggerak Komunitas Literasi Moisipun, Anisya Mokobombang yang mengakui bahwa ia dan penggerak Moisipun sangat senang bisa hadir dalam kegiatan tersebut.

“Acaranya keren sekali,” singkat Anisya.

Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kotamobagu, Iswahyudi Masloman, mengapresiasi inisiatif SS Abo Tadohe dalam memperingati Hari Kebudayaan Nasional, yang menjadi ruang penting untuk merawat identitas budaya lokal sekaligus mewariskannya kepada generasi muda.

“Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi nilai hidup yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Kami berharap kegiatan ini menjadi pemantik kolaborasi antarkomunitas untuk menjaga kebudayaan Bolaang Mongondow agar tetap hidup, berkembang, dan relevan di tengah perubahan zaman,” ucapnya.

 Kebudayan Yang Membumi

SS Abo Tadohe yang didirikan sejak lima tahun silam telah menggelar banyak kegiatan bertema kebudayaan. Ada satu benang merah yang jelas dari semua event yang telah digelar, yakni kemauan untuk membumikan kebudayaan yang sering kali hanya menjadi wacana dan simbol di atas kertas.

Untuk mencapai niat luhur tersebut, Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan yang utama. Berangkat dari kenyataan tersebut, SS Abo Tadohe mengambil langkah besar dengan menggaet generasi muda sebagai pelaku kesenian dan kebudayaan.

“Kegiatan-kegiatan yang digelar dapat menjadi ruang kepada generasi muda untuk menampilkan kreativitas dan menjaga kebersamaan,” ucap Ika Ayu Putri Lomban yang juga merupakan Dewan Adat SS Abo Tadohe.

Ia berharap, kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan SS Abo Tadohe dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga ingatan tentang sejarah dan budaya Bolaang Mongondow.

“Semoga kesadaran untuk melestarikan kebudayaan membara di dada setiap orang, termasuk yang hadir dalam kegiatan ini,” tutupnya.

Apa yang dilakukan SS Abo Tadohe merupakan pengingat bahwa pemajuan kebudayaan dapat dilakukan di mana saja, oleh siapa saja, dan bahkan dalam kondisi terbatas sekalipun. (Indra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here