
ZONABMR.com – Di sudut sebuah kedai kopi di bilangan Tondano Barat, Arif Kurniawan duduk tenang sembari sesekali menyesap americano di hadapannya. Ia tampil sederhana; kaus oblong, celana jins, dan sandal jepit yang membuatnya tak tampak sebagai seorang pejabat publik.
Melalui smartphone yang digenggamnya, Arif tampak khusyuk membaca. Sesekali ia berhenti, mengambil jeda, lalu kembali membaca. Begitu terus hingga bacaan itu tiba di halaman terakhir.
“Saya sedang membaca ulang materi kuliah,” ucapnya saat ditemui, Jumat (23/10/2026) sore.
Kemauan itu pula yang mengantarnya tiba di Tanah Toar Lumimuut 19 tahun silam sebagai mahasiswa baru di Universitas Negeri Manado (UNIMA). Hingga saat ia dipercaya sebagai Kadiv Sosdiklih Parmas KPU Kabupaten Minahasa, kebiasaan baik itu tak kunjung pudar.
Bahkan di sela-sela kesibukannya sebagai salah satu pimpinan penyelenggara pemilu, Arif masih terpikir untuk menimba ilmu sebagai mahasiswa pascasarjana.
“Saat ini saya sedang kuliah S-2 di Jurusan Ilmu Pangan, Universitas Sam Ratulangi Manado,” ujarnya.
Namun, tak ada jalan yang mudah. Berulang kali kemauan kerasnya untuk belajar dan bekerja diuji oleh kenyataan pahit.
Merantau
Sejak kuliah pada tahun 2007, Arif muda sudah mulai memikirkan cara bertahan hidup saat terpaut ribuan kilometer dari kampung asalnya di Baraka, Enrekang, Sulawesi Selatan.
“Sejak semester empat saya sudah mencari nafkah sendiri untuk membiayai kehidupan sehari-hari dan kuliah,” ucap Arif.
Ia sama sekali tak pilih-pilih pekerjaan selama itu halal dan mampu dikerjakan. Mulai dari kuli bangunan hingga tukang pangkas rumput. Dari sopir mikro ke loper koran. Dari staf Bawaslu hingga komisioner KPU.

“Saya anak rantau. Tidak kerja, tidak makan,” ucapnya.
Kemauan itu semakin dipertegas oleh falsafah siri’ na pacce yang telah mendarah daging dalam dirinya. Bagi masyarakat Bugis-Makassar, siri’ na pacce adalah sistem nilai yang menuntun cara menjaga harga diri, memperlakukan sesama, dan merespons kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
“Saya malu bila tidak bisa bertanggung jawab terhadap kehidupan saya dan keluarga,” akunya.
Beragam Pekerjaan
Pada tahun 2012, Arif sempat menjadi sopir mikrolet dengan rute Tondano–Tomohon. Faktor ekonomi dan kemauan untuk mandiri membuatnya tak gentar meski harus berjibaku di jalanan sembari menyelesaikan kuliah.
“Awalnya saya hanya pinjam mobil kerabat. Tapi kemudian saya mengambil pinjaman untuk beli mobil sendiri,” ungkapnya.
Kondisi itu bertahan kurang lebih dua tahun sebelum akhirnya ia memakai toga sarjana. Berbekal ijazah yang baru diperoleh, Arif membidik berbagai lowongan pekerjaan. Satu per satu lamaran kerja dikirimkan.
Beberapa bulan berlalu, akhirnya telepon Arif berdering. Saat yang lama ditunggu tiba. Telepon itu datang dari Tribun Manado, salah satu media massa terbesar di Sulut. Melalui proses perekrutan, Arif kemudian diposisikan sebagai salah seorang yang bertanggung jawab atas distribusi dan pemasaran koran.
Untuk memastikan distribusi dan pemasaran, ia harus turun langsung ke lapangan. Bahkan, Arif turut serta menjual koran dari lampu merah yang satu ke lampu merah lainnya.
Ia mengaku, salah satu titik nadir dalam hidupnya terjadi di fase ini. Ia pernah dipandang rendah sebab kedapatan menjual koran.
“Waktu itu ada dosen saya yang lewat. Dia langsung mencibir. Katanya kenapa sarjana menjadi penjual koran,” kenang Arif.
Namun, suara sumbang itu tak sama sekali membuat nyalinya ciut. Ia bertahan di Tribun Manado kurang lebih lima tahun. Salah satu inovasi yang ia cetuskan adalah Tribun Family Card, sebuah metode berlangganan koran yang disertai beberapa keuntungan, seperti gratis cuci mobil dan kopi.
Penyelenggara Pemilu
Kemauan Arif menjadi penyelenggara pemilu tidak berangkat dari ruang hampa. Juga bukanlah pilihan pragmatis akibat tergiur gaji dan tunjangan besar. Justru kemauan itu telah tumbuh sejak kuliah.

Ia sempat tergabung dalam Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) pada tahun 2010. KIPP merupakan organisasi masyarakat sipil independen di Indonesia yang fokus pada pemantauan proses pemilu untuk mengawal demokrasi dan integritas pemilu.
Melalui KIPP, ia belajar banyak hal. Kesadaran akan pentingnya menjaga integritas dalam pesta demokrasi merupakan sebuah keniscayaan.
Setelah sempat melakoni berbagai profesi, garis takdir mengantarnya kembali pada kerinduan akan proses demokrasi yang sehat dan berintegritas. Tahun 2018 ia sempat mengikuti proses seleksi anggota Bawaslu Provinsi Sulut, namun gagal.
Tak patah arang, Arif mendaftar untuk posisi staf di Bawaslu Minahasa Tenggara (Mitra). Kali ini takdir berpihak padanya. Ia diterima.
“Saat menjadi staf di Mitra, saya belajar banyak hal terkait kepemiluan,” bebernya.
Beberapa bulan kemudian, Arif sempat direkrut menjadi staf Bawaslu Sulut sebelum akhirnya kembali lagi ke Mitra dan bertahan hingga 2023. Sejak 2018 hingga 2023, tercatat lima kali Arif mengikuti proses seleksi anggota Bawaslu dan KPU. Baru yang terakhir ia terpilih dan menjabat Kadiv Sosdiklih Parmas KPU Minahasa.
Kemauan dan kesungguhannya kembali diuji saat tahapan pemilu bergulir. Jumlah pemilih di Minahasa merupakan yang terbesar kedua di Sulut setelah Manado. Tentu hal ini menjadi kerumitan tersendiri. Namun, tahapan yang berlangsung tanpa kendala merupakan bukti betapa pimpinan KPU Minahasa mampu menjadi penyelenggara yang berintegritas.
Pantang Menyerah
Nampaknya peribahasa sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang adalah yang paling dapat menggambarkan sosok Arif dan perjalanannya di tanah rantau.
Barangkali saat pertama menapak jejak di Tanah Minahasa, tak ada keinginan untuk menetap selamanya. Namun, Arif yang telah membangun keluarga kecilnya sejak 2018 akhirnya memilih menetap di Kampung Jawa Tondano.
Tempat yang dulu adalah tujuan, kini telah menjadi rumah. Bahkan di rumah barunya, Arif mengemban tugas yang menyangkut kehidupan orang banyak, yakni sebagai penyelenggara pemilihan kepala daerah. Sebuah tanggung jawab yang tak main-main.
Selebihnya, Arif merupakan potret kemauan pantang menyerah dalam situasi dan kondisi apa pun. Sebuah kehidupan yang pernah dipertaruhkan dan akhirnya dimenangkan, bukan oleh orang berada, tetapi oleh anak desa yang berangkat dari segala keterbatasan.
“Jangan malu bekerja apa pun. Selama itu halal dan dapat menghidupi diri sendiri serta keluarga, lakukan saja,” tutup pria berusia 39 tahun itu di sela-sela asap karhutla yang masih menyelimuti Tondano dan sekitarnya. (Indra Umbola)



