
ZONABMR.com – Setitik air mata yang jatuh ke pipi tak kuasa ditahan Yohanis Batara Randa saat mengabadikan momen sang putra, Yosua Batara Randa, berbaris bersama anggota Paskibraka lainnya pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Senin (17/8/2026), di Alun-Alun Boki Hontinimbang.
Dari balik kamera ponselnya, Yohanis menyaksikan Yosua menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya. Bagi seorang ayah, pemandangan itu bukan sekadar barisan anak muda yang sedang menjalankan tugas upacara. Ada rasa bangga melihat putranya berusaha memberikan yang terbaik di usia remaja.
“Saat mengambil video pasukan Paskibraka Kota Kotamobagu yang sedang bertugas tadi pagi, kami sampai meneteskan air mata karena terharu melihat semangat anak yang berusaha tampil maksimal di usia remaja karena ingin memberikan yang terbaik sekaligus membanggakan orang tua,” ujar Yohanis.
Tahun ini menjadi giliran Yosua untuk mengemban tugas sebagai Paskibraka Kota Kotamobagu. Setahun sebelumnya, sang kakak, Theresia Natalia Batara Randa, lebih dulu mendapat kepercayaan menjadi anggota Paskibraka Kota Kotamobagu 2025.
Dua tahun berturut-turut, dua anak pasangan Yohanis Batara Randa dan Ni Ketut Sayang berada di barisan Paskibraka Kota Kotamobagu.
Theresia lebih dulu menjalankan tugas pada 2025. Setahun kemudian, Yosua meneruskan jejak sang kakak.

Bagi keluarga Batara Randa, momen tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Apalagi, di balik tugas Yosua sebagai Paskibraka, ada sebuah surat sederhana yang ia tulis untuk kedua orang tuanya.
Dalam surat tulisan tangannya, Yosua menyampaikan terima kasih kepada ayah dan ibunya karena telah membesarkannya. Ia juga meminta maaf karena merasa masih sering nakal dan belum selalu mendengarkan nasihat orang tua.
Yosua juga menuliskan rasa rindunya selama menjalani karantina Paskibraka. Kesempatan bertemu dengan ayah dan ibunya menjadi terbatas.
Namun, di bagian akhir surat, Yosua menuliskan sebuah janji kepada kedua orang tuanya. Apa yang sedang dijalaninya akan menjadi kebanggaan bagi mereka.
Surat sederhana itu menjadi bagian yang menguatkan kebanggaan Yohanis. Sebab, di balik seragam Paskibraka, ada seorang anak yang ingin memberikan sesuatu yang berarti kepada orang tuanya.

Yosua merupakan siswa SMA Katolik Theodorus Kotamobagu. Remaja kelahiran Makassar, tanggal 14 Juni 2010 itu, bercita-cita menjadi ahli IT dan Cyber. Sementara Theresia, yang lebih dulu menjadi Paskibraka pada 2025, bercita-cita menjadi dokter.
Di balik cita-cita kedua anaknya, ada sosok ayah yang juga punya perjalanan dalam mengejar mimpi.
Yohanis Batara Randa, yang dikenal dengan sapaan Pace Inzaghi, selama ini juga dikenal dekat dengan dunia sepak bola. Namanya bahkan tercatat sebagai pemegang rekor pencetak gol tertua di salah satu ajang sepak bola bergengsi di Bolaang Mongondow Raya, Wali Kota Cup Kotamobagu, ketika mencetak gol pada usia 50 tahun.
Bagi anak-anaknya, perjalanan sang ayah menjadi contoh sederhana bahwa usia bukan alasan untuk berhenti bermimpi dan berusaha.
Namun, kali ini sorotan bukan tentang rekor sang ayah. Dari balik kamera ponselnya, Yohanis justru sedang menyaksikan mimpi anak-anaknya tumbuh menjadi kenyataan.
Yohanis bersama sang istri, Ni Ketut Sayang, bersyukur atas kesempatan yang diberikan kepada kedua anak mereka. “Kami sebagai orang tua berterima kasih kepada Pemerintah Kotamobagu yang sudah memberikan kesempatan kepada anak kami menjadi anggota Paskibraka tahun 2025 dan 2026,” kata Yohanis.
Namun, cerita tentang Paskibraka di keluarga Batara Randa tampaknya belum berhenti pada Theresia dan Yosua.
Ada Putri Hana Batara Randa, anak bungsu yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Melihat kedua kakaknya, Echa dan Yos, Hana mulai memiliki cita-cita menjadi Paskibraka Nasional.
Ia terinspirasi dari kedua kakaknya. Namun, Hana bermimpi lebih tinggi lagi.
Jika Theresia telah membuka langkah pada 2025 dan Yosua meneruskannya pada 2026, Hana kini mulai menyimpan mimpi untuk suatu hari berdiri dalam barisan Paskibraka di tingkat nasional.
Bagi Yohanis dan Ni Ketut Sayang, dua tahun berturut-turut melihat anak mereka menjalankan tugas sebagai Paskibraka menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Dan ketika Hana mulai menyimpan mimpi yang sama, keluarga Batara Randa seperti sedang menyaksikan sebuah estafet kecil di dalam keluarga. Theresia memulai, Yosua melanjutkan, dan Hana bermimpi membawanya lebih jauh.





