
ZONABMR.com — Keluarga korban musibah drag race di Upai mengaku kecewa terhadap sikap Sangadi Muntoi, Yuliana Kartika T. Tunggali, saat keluarga korban hendak menyampaikan keluhan dan harapan kepada keluarga pembalap Tian Ngantung.
Kekecewaan tersebut disampaikan menyusul kunjungan keluarga Tian Ngantung kepada sejumlah korban musibah drag race Upai pada Jumat (21/8/2026) malam.
Salah satu keluarga korban menilai, Yuliana yang mengaku sebagai bagian dari keluarga Tian Ngantung, justru membatasi kesempatan keluarga korban untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi secara langsung.
Murdani Pobela, suami salah satu korban yang meninggal dunia dalam musibah tersebut, mengaku kecewa karena dirinya merasa tidak diberikan kesempatan menyampaikan persoalan secara utuh.
Menurut Murdani, saat itu dirinya hanya ingin membicarakan kondisi salah satu korban yang masih menjalani perawatan di RS Kandou Manado, terutama terkait administrasi dan pembiayaan selama menjalani perawatan.
“Padahal saya hanya ingin menyampaikan mengenai salah satu korban yang masih dirawat di RS Kandou. Terkait administrasi korban ditanggung bersama keluarga pembalap dan pihak penyelenggara, tapi saat saya mau bicara selalu dipotong oleh Sangadi Muntoi,” ungkap Murdani.
Murdani menilai, persoalan tersebut seharusnya dapat dibicarakan secara terbuka karena menyangkut kepastian penanganan dan tanggung jawab terhadap korban yang hingga kini masih menjalani perawatan.
Ia juga mempertanyakan kepastian santunan atau hak korban melalui Jasa Raharja, termasuk bagi mendiang istrinya yang menjadi salah satu korban dalam musibah drag race tersebut.
“Kami juga akan mempertanyakan bagaimana dengan asuransi dari Jasa Raharja bagi seluruh korban, termasuk almarhumah istri saya,” kata Murdani.
Menurut Murdani, keluarga korban membutuhkan ruang untuk menyampaikan langsung berbagai persoalan yang mereka hadapi, terutama menyangkut biaya perawatan, administrasi, serta kepastian hak para korban.
Ia berharap persoalan tersebut tidak hanya dibicarakan melalui perwakilan, tetapi dapat dibahas secara terbuka antara keluarga korban, keluarga pembalap, dan pihak penyelenggara.
“Kami ingin semuanya jelas. Jangan sampai ketika keluarga korban mau menyampaikan persoalan justru tidak diberikan kesempatan,” ujarnya.
Keluarga korban berharap komunikasi yang terbuka dapat dilakukan agar persoalan yang muncul pascamusibah drag race Upay tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun polemik baru.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan dari Yuliana Kartika T. Tunggali terkait keluhan Murdani, termasuk tudingan bahwa dirinya memotong pembicaraan dan membatasi keluarga korban dalam menyampaikan aspirasi. Ruang klarifikasi dan hak jawab tetap terbuka bagi yang bersangkutan. (Mahendra)





