Kemandirian adalah kemustahilan yang akhirnya ditebus lunas oleh peluh buruh tani. Di Desa Matali Baru, kemerdekaan tak lagi angan; ia kini tumbuh subur, berakar kuat, dan berbuah manis mengubur masa lalu.
Peliput: Iswahyudi Masloman

ZONABMR.com – Sinar matahari menyusup bimbang di antara rimbunnya tajuk daun, merayap ke atas dahan-dahan berlumut tempat buah kakao menggantung lebat. Di bawah naungan itu, Min Podomi (53) mendongak. Tangannya yang kasar dan penuh guratan kerja keras terulur perlahan, meraba permukaan buah berwarna merah keunguan yang ranum. Ada getar halus di jemarinya. Sebuah refleks dari ingatan panjang yang menolak percaya, bahwa hamparan hijau di hadapannya kini adalah milik sendiri. Benteng martabat yang harus ditebus dengan separuh usia.
Bertahun-tahun, takdir Min dan suaminya Oman Dibo (56), seolah digariskan di atas tanah-tanah milik tetangga. Sebagai buruh tani harian di pelosok Sulawesi Utara, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Desa Matali Baru, hidup mereka diukur dari terik matahari ke terik berikutnya. Tangan mereka terbiasa membentuk lekuk tanah, menanam bibit, dan memanen hasil bumi yang tak sepenuhnya milik berdua.
Gaji harian yang tak seberapa kerap menguar begitu saja untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak-anak. Di pengujung hari, rasa lelah menyelimuti tulang punggung dan kecemasan lambung besok pagi. Setiap kali musim panen tiba di kebun pemilik lahan, kepedihan menyelinap diam. Keringat mereka membasahi bumi, namun kemakmuran selalu milik orang lain.
Mimpi Min dan Oman dirintis dari rupiah-rupiah lusuh yang disisihkan dengan disiplin baja. Setiap kali menerima upah harian, Min selalu menyisihkan sebagian kecil tunai sen demi sen meski artinya dapur mereka harus berasap seadanya. Tidak ada ruang untuk pemborosan bagi sepasang kekasih paruh baya ini.
Semangat itu menular ke seluruh penjuru rumah kecil mereka. Anak-anak Min yang menyaksikan sendiri bagaimana kerasnya kedua orang tua mereka membanting tulang, turut mengulurkan tangan. Hasil kerja keras keluarga ini melebur menjadi satu tabungan bersama. Sebuah patungan takdir demi membeli harga diri.
Tahun-tahun berlalu dalam keheningan perjuangan. Tabungan yang mulanya seumpama riak kecil, bertransformasi menjadi gelombang yang mampu mengubah garis hidup mereka. “Dulu jangankan bermimpi punya kebun, untuk kebutuhan sehari-hari dari upah buruh saja serba pas-pasan,” kenang Min.
Pukulan paling membekas terjadi ketika cita-cita pendidikan anak-anak mereka harus runtuh. Anak pertama dan kedua terpaksa mengubur mimpi di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
”Kakak-kakaknya mengalah, ikut banting tulang supaya adik bungsu mereka tidak bernasib sama dan bisa tamat SMA,” tutur Min pelan, mengingat masa-masa di mana pengorbanan menjadi satu-satunya mata uang yang mereka miliki.
Solidaritas yang lahir dari keprihatinan itu tak sia-sia. Si bungsu tak hanya berhasil merengkuh ijazah SMA, tetapi juga membuka jalan baru bagi keluarga setelah diterima bekerja di PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM).
Titik balik yang lebih besar mengetuk pintu keluarga ini pada 2019. PT JRBM menggulirkan Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) berupa budi daya perkebunan kakao. Peluang itu berkilat di depan mata, namun realitas keuangan membuat Min dan Oman hanya bisa menelan ludah. “Waktu program dari JRBM ini dimulai, kami sekeluarga sangat tertarik ingin ikut. Tapi bagaimana, lahan belum punya dan uang pun tidak ada,” tutur Min lirih.
Meski tak punya sepetak tanah pun kala itu, harapan itu tetap menyala. Selama tiga tahun, Min, Oman, dan anak-anak mereka merapatkan barisan. Sen demi sen disisihkan dari hasil memeras keringat bersama. Hingga akhirnya pada 2022, keajaiban kecil itu terwujud. Tabungan patungan keluarga terkumpul cukup untuk membeli lahan tiga hektare di Desa Matali Baru yang harganya tengah miring.
Sejak 2023, tanah seluas tiga hektare itu mulai diembusi napas kehidupan. Sebanyak 750 bibit kakao bantuan program PPM PT JRBM ditanam, disambung dengan tambahan sokongan dari pemerintah desa setempat. Kini, lebih dari 1.200 pohon kakao tumbuh subur menghijaukan kebun mereka.
Jalan Terang PT JRBM Untuk Petani Lingkar Tambang
Keberhasilan Min dan ratusan petani lain di Matali Baru tidak diraih secara instan. Ini adalah hasil dari pendampingan intensif yang diinisiasi PT JRBM sejak 2019.
Menyasar masyarakat lingkar tambang, perusahaan fokus melakoni transfer of knowledge pengembangan tanaman kakao varietas unggul hasil teknik okulasi antara kakao lokal dan varietas MCC 02. Sebanyak 320 petani yang terbagi dalam 32 kelompok dibina secara telaten hingga menyambut panen perdana pada pertengahan 2023.
Namun, tonggak transformasi ini terletak pada revolusi cara bertani. Di setiap pekarangan Desa Matali Baru, aroma manis khas molase (tetes tebu) kini berpadu erat dengan fermentasi buah-buahan. Serabut kelapa tak lagi dibakar sia-sia, dan isi lambung sapi (rumen) dari tempat pemotongan tak lagi dibuang menjadi limbah.
Di tangan para petani binaan, bahan-bahan alami ini diubah menjadi pupuk hayati mandiri. Ekstrak bakteri baik dari rumen sapi, pupuk cair buah, serta pupuk padat serabut kelapa menjadi finansial yang sanggup memangkas biaya belanja pupuk kimia hingga 80 persen.
”Dinas Perkebunan Bolmong sangat terbantu. Anggaran kami terbatas dan tidak mampu memenuhi semua permintaan bibit kakao masyarakat, khususnya di lingkar tambang,” puji Jenny Liangga, perwakilan Dinas Perkebunan Kabupaten Bolaang Mongondow.
Inovasi pemupukan ramah lingkungan dan terintegrasi ini mengantarkan PT JRBM meraih deretan pengakuan nasional, seperti Tambang Menyejahterakan Masyarakat (TAMASYA) Award 2024, Penghargaan Gubernur Sulut 2024 untuk penurunan stunting, hingga trofi bergengsi Penghargaan Subroto dari Kementerian ESDM dua tahun berturut-turut (2023–2024).
”Masyarakat di lingkar tambang tidak boleh tidak sejahtera,” tegas Anang Rizkani Noor, Presiden Direktur J Resources. Visi utamanya adalah menciptakan efek domino pengetahuan, di mana kemandirian petani tetap bersemi abadi meski pasca-operasional tambang suatu saat nanti usai.
Gugurnya Tradisi Kuli, Lahirnya Para Tuan Tanah
Dampak dari transformasi pertanian ini terekam presisi dalam lembaran statistik desa seluas 15,63 km² tersebut. Merujuk dokumen Pendapatan Riil Keluarga Desa Matali Baru, sepanjang kurun 2021 hingga awal 2024, rata-rata pendapatan kepala keluarga sempat tertahan stagnan di angka Rp2.000.000.
Namun, begitu kebun-kebun kakao memasuki masa produktif, angka tersebut melonjak dua kali lipat menjadi Rp4.000.000 secara stabil sejak akhir 2024 hingga 2026. Bahkan pada Agustus 2026, akumulasi pendapatan anggota keluarga yang bekerja merangkak naik hingga menyentuh Rp7.000.000.
Fenomena paling mendalam terlihat pada pergeseran struktur sosial warga. Data Pendapatan Per Kapita Desa Matali Baru mencatat, pada rentang 2024 hingga awal 2026, terdapat 150 Kepala Keluarga (KK) yang menggantungkan hidup di sektor perkebunan. Angka ini melonjak tajam menjadi 200 KK pada pertengahan Agustus 2026.
Uniknya, di tengah lonjakan 50 KK baru tersebut, jumlah rumah tangga yang berstatus buruh tani tidak mengalami penambahan sama sekali, tetap bertahan di angka 15 KK. Artinya, warga yang memasuki sektor perkebunan bukanlah mereka yang terserap menjadi buruh, melainkan masyarakat yang berhasil mentransformasi diri menjadi pengelola dan pemilik lahan mandiri, menyumbang pendapatan per kapita sebesar Rp6.000.000 secara konsisten untuk setiap rumah tangga.
”Peningkatan ekonomi ini bahkan terlihat secara kasat mata,” ujar Sangadi (Kepala Desa) Matali Baru, Wien Lomamay. Rimbun daun kakao di desanya kini resmi menjelma menjadi fondasi kokoh kemandirian finansial warga.
Tangan Kasar yang Kini Memeluk Merdeka
Min menuturkan rutinitasnya kini diukur dari ketukan waktu sepuluh harian. Setiap kali siklus itu berputar, kebun patungan keluarganya menyumbangkan 150 hingga 180 kilogram biji kakao kering siap jual. Hasil panen bukan hanya cukup untuk kebutuhan dapur, melainkan memberi kelegaan yang dulu terasa mustahil.

Sambil memegang buah kakao merah keunguan yang baru dipetiknya di depan dada, senyum kelegaan mengembang di bibirnya.
”Baai minta doi!” (Nenek, minta jajan!)
Suara nyaring cucunya memecah keheningan kebun. Min menoleh, merentangkan kedua tangannya yang dulu kasar oleh jerih payah buruh, merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukan hangat.
”Mo ba beli apa so Baai pe cucu?” (Mau jajan apa cucu nenek?) sahut Min lembut.
Di antara desir angin dan wangi tanah Matali Baru, Min menyelipkan doa sederhana, pahitnya menjadi penumpang telah usai di generasinya, dan manisnya kemerdekaan diresapi oleh anak dan cucunya kelak.





