~ Karena seperti kata eyang Titiek, “Hidup itu indah, kalau kita mau menciptakannya.” ~

Opini, ZONABMR.COM – Di kota kecil ini, di antara riuh rendah harapan dan pesimisme yang kadang terasa menyesakkan, saya memilih tetap berkarya.
Tidak selalu mudah, memang. Kadang semangat naik turun seperti nada dalam lagu yang belum selesai ditulis. Tapi setiap kali hati mulai ragu, bayangan eyang Titiek Puspa muncul dalam benak saya.
Bagi saya, beliau bukan hanya musisi legendaris – beliau adalah cahaya kecil yang terus menyala di tengah gelap, pengingat bahwa berkarya itu soal ketulusan, bukan semata soal sorak sorai dunia.
Eyang Titiek Puspa, dalam pandangan saya, adalah versi perempuan dari almarhum Hi. Benyamin Sueb: sosok multi-talenta yang tak pernah kehilangan senyumnya, bahkan ketika hidup menantangnya habis-habisan.
Seperti Bang Ben, eyang Titiek tidak hanya menyanyi; beliau bercerita, menghidupkan rasa, menyulam suara menjadi bagian dari napas kehidupan.
Sebagai vokalis dan penulis lagu di Krayon INS, saya belajar dari mereka. Bahwa menjadi musisi itu bukan hanya soal mengejar ketenaran, tetapi soal menjadi penggerak. Saya ingin – meskipun kecil – menjadi bagian dari angin yang mendorong kapal-kapal kecil bernama “musisi daerah” untuk berlayar lebih jauh.
Bukan hanya menyanyikan ulang lagu orang lain, tapi berani menyanyikan kisahnya sendiri. Menulis nadanya sendiri. Membunyikan mimpi-mimpinya sendiri.
Karena karya orisinal itu seperti sidik jari – tidak ada dua yang benar-benar sama.
Dan di dalam karya itu, ada keberanian, ada kegembiraan, ada luka, ada tawa, semua berbaur menjadi satu dalam harmoni yang mungkin sederhana, tapi sangat bermakna.
Pengalaman saya sebagai penyiar di DC FM pun saya manfaatkan untuk memperjuangkan mimpi ini.
Dimana saat itu, lewat program kecil yang saya beri nama OK’D (Orang Kota Do’eh), saya mengundang teman-teman musisi daerah yang sudah berani punya lagu sendiri. Saya beri mereka ruang – sekecil apapun itu – untuk bersuara, untuk dikenal lebih luas.
Bagi saya, setiap lagu mereka adalah potongan jiwa yang patut dirayakan, bukan dilupakan.
Jejak Luka dan Mimpi Seorang Musisi dari Pelosok
Namun, tidak semua perjalanan mulus.
Saya sempat menyayangkan pernyataan dari seorang kenalan sekaligus juga tokoh yang cukup berpengaruh di daerah kami, yang pernah berkata,
“Ngoni ini (musisi daerah) datang-datang suka tampil mar minta bayar. Sapa ngoni? Nda terkenal! (Kalian ini datang ingin diberi panggung, tapi minta dibayar. Kalian siapa? Tidak terkenal!)”
Kalimat itu sempat terasa menampar. Seperti ombak dingin yang menghantam perahu kecil di tengah laut.
Dan tentunya amat sangat disayangkan, ketika kalimat itu keluar dari lisan seseorang yang punya kapasitas – dan kalau tidak salah ingat, beliau sempat menjadi host salah satu pagelaran musik kolektif lokal – mendorong masyarakat untuk lebih mengapresiasi musisi daerah.
Sangat kontras dengan tokoh muda di daerah sebelah yang bahkan ketika memegang posisi lebih tinggi di provinsi, tetap berusaha memberi panggung untuk musisi dari daerahnya.
Tapi sudahlah, saya memilih tidak tenggelam dalam kekecewaan. Karena tentunya jalan pemikiran dan pemahaman seseorang tak mungkin untuk selalu selaras dengan kita.
Saya jadikan itu sebagai bahan bakar untuk berkarya lebih keras, lebih baik, dengan harapan suatu hari nanti, akan ada musisi daerah yang bukan hanya dikenal di tanah sendiri, tapi juga mengharumkan nama di tingkat nasional, bahkan internasional.
Toh saya sudah pernah membuktikan, bahwa dengan segala keterbatasan yang ada, saya bersama Krayon INS mampu membawa pulang kebanggaan: peringkat 3 nasional dalam ajang pencarian bakat yang disponsori salah satu produk rokok ternama 13 tahun silam.
Dan tentu saja meski mungkin hanya segelintir, ketika lagu-lagu Krayon INS dibawakan ada saja di antara penonton ikut bernyanyi.
Pun tak cukup itu, beberapa sahabat musisi dari kota kecil ini saya tahu persis punya pencapaian yang membanggakan; hanya karena keterbatasan akses informasi dan perkembangan medsos belum seperti sekarang saja hingga tidak terekspos.
Itu adalah bukti-bukti kecil, bahwa dari daerah pun kita bisa bersuara nyaring, sepanjang kita mau bertahan, belajar, dan percaya.
Saya percaya, meski perlahan, perubahan akan datang.
Saya percaya, bahwa di balik ragu, ada asa.
Saya percaya, bahwa musisi daerah, dengan semua keterbatasannya, bisa menjadi api kecil yang suatu hari nanti membakar langit.
Dan setiap kali saya mulai merasa lelah, saya kembali mengingat eyang Titiek Puspa – perempuan tangguh yang menulis hidupnya dalam nada, yang membuktikan bahwa usia, situasi, bahkan zaman, tidak pernah benar-benar bisa memadamkan semangat berkarya.
Berkarya itu keputusan. Berkarya itu doa. Berkarya itu janji, kepada diri sendiri – untuk tidak menyerah.
Maka, biarlah saya tetap di sini, di panggung kecil ini, menyanyikan lagu-lagu yang lahir dari hati, dengan harapan suatu hari gema kecil ini akan menemukan hatinya yang lain, di tempat-tempat yang belum saya jamah.
Dan saya percaya, musik adalah salah satu cara terindah untuk menciptakan hidup itu. ***

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Zonabmr. Aktif di pergerakan musik lokal daerah, frontman dan penulis lagu di band Krayon INS. Pernah menjadi penyiar di stasiun radio lokal DC FM; saat ini menjabat sebagai Ketua DPC organisasi pers Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kabupaten Bolmong





