Kronologi Lengkap Kisruh Selevel Caffe and Resto: Dari Reservasi VIP, Emosi Pelanggan, hingga Pemberitaan Hoaks

695
Kronologi Lengkap Kisruh Selevel Caffe and Resto: Dari Reservasi VIP, Emosi Pelanggan, hingga Pemberitaan Hoaks
Konferensi Pers yang Digelar Selevel Cafe and Resto (Foto: Udi)

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Pada 17 Agustus 2025, publik Kotamobagu dikejutkan oleh sebuah artikel yang tayang di salah satu media online dengan judul provokatif: “Baru & Lagi Naik Daun, Diduga Owner Selevel Resto Ancam Pelanggan.” Berita ini segera menyebar cepat, memantik perbincangan hangat di media sosial.

Namun, hanya sehari berselang, manajemen Selevel Cafe and Resto bersama kuasa hukumnya tampil di hadapan awak media untuk memberikan klarifikasi.

Mereka menegaskan, pemberitaan tersebut tidak lebih dari sebuah hoaks yang sarat tuduhan sepihak dan merugikan reputasi usaha.

Awal Mula: Reservasi yang Berubah Mendadak

Kejadian bermula ketika seorang pelanggan, Monica Elsa Dilapanga, melakukan reservasi ruang VIP dengan nama Playhouse untuk pukul 13.00 WITA, Ahad 17 Agustus 2025.

Namun tak lama kemudian, ia mengubah jadwal reservasi menjadi pukul 12.00 siang.

Saat Monica tiba pukul 11:59, ruangan yang ia pesan masih digunakan pelanggan lain.

Staf restoran segera bergerak membersihkan dan menyiapkannya kembali. Hanya dalam waktu kurang dari 10 menit, ruangan sudah siap dipakai.

“Semua ini terekam jelas dalam CCTV. Fakta menunjukkan pelanggan hanya menunggu sebentar, bukan berjam-jam,” jelas Jein Djauhari, SH, MH, kuasa hukum Selevel dari JD & Partners Law Firms.

Teguran Bernada Tinggi

Namun, alih-alih menerima penjelasan, Monica justru menunjukkan sikap tidak sabar.

Menurut keterangan staf, ia beberapa kali meninggikan suara, bahkan menunjuk waiter dengan nada marah. Padahal, di dapur, pesanan sedang diproses sesuai standar waktu.

Menu ayam bakar yang biasanya membutuhkan 35 menit untuk disajikan, misalnya, berhasil tiba di meja pada pukul 12:58. Artinya, tidak ada keterlambatan yang melampaui batas wajar.

“Berita yang menyebutkan Monica menunggu dua jam untuk pesanannya, itu jelas bohong. Semua pesanan datang tepat waktu,” tegas Jein.

Dugaan Persaingan Usaha

Di tengah kericuhan, muncul fakta lain: Monica sendiri mengaku sebagai pemilik kafe di Kotamobagu.

Dari sini, pihak Selevel menduga ada motif persaingan usaha tidak sehat di balik sikap emosional pelanggan tersebut.

“Dia membandingkan Selevel dengan usahanya. Itu jelas tidak etis, apalagi kalau ujungnya justru menjelekkan nama kami,” lanjut Jein.

Selain itu, lanjut Jein, Monica juga dicurigai masih berupaya melakukan provokasi.

“Dia juga menunjukkan upaya provokasi, dengan mengatakan kalau andai dirinya menjadi ASN yang diminta pindah karena tempat telah di-reservasi, pasti ia akan marah. Padahal para ASN tidak keberatan, bahkan meminta maaf karena tidak tahu jika tempat telah di-reservasi.”

Lebih mengejutkan lagi, setelah semua makanan tersaji, Monica memilih meninggalkan restoran dalam keadaan marah. Ia bahkan tidak membayar dua nota tagihan dengan total Rp270.000.

Upaya Restoran Meredakan Situasi

Owner Selevel, Inayah Warso, menyebut pihaknya sebenarnya sudah berusaha menghindari masalah sejak awal.

Mereka memberikan kompensasi berupa open bill serta menempatkan satu waiter khusus untuk melayani Monica.

“Namun, semua itu tetap tidak meredakan emosinya. Bahkan ada karyawan kami yang sampai trauma karena dimarahi dengan cara tidak pantas,” tutur Inayah.

Dari Salah Paham Menjadi Hoaks

Masalah yang sebenarnya bisa selesai di meja makan itu berubah jadi keributan besar ketika sebuah media online menurunkan berita sepihak.

Dalam artikel yang viral itu, pemilik Selevel disebut-sebut mengancam pelanggan, tuduhan yang langsung ditepis pihak restoran.

“Tidak pernah ada ancaman. Tidak fisik, tidak verbal. Tuduhan itu bohong total. Ini jelas hoaks yang sengaja disebarkan untuk merusak nama baik,” tegas Jein Djauhari.

Menurutnya, media yang menayangkan berita tersebut juga keliru karena tidak melakukan verifikasi atau meminta klarifikasi.

“Sebagai media yang mengaku profesional, seharusnya mereka konfirmasi dulu ke kami. Menyebarkan berita tanpa fakta, sama saja mempermalukan diri sendiri,” ujarnya.

Tuntutan Permintaan Maaf

Selevel kini menuntut dua pihak: Monica Elsa Dilapanga sebagai pelanggan yang memicu masalah, dan media online yang memuat berita sepihak itu.

Mereka diberi waktu 3×24 jam untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

“Kalau tidak ada itikad baik, kami siap menempuh jalur hukum, pidana maupun perdata. Kami tidak akan tinggal diam,” tegas Jein.

Publik Diminta Lebih Bijak

Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah insiden kecil bisa berubah besar ketika bercampur dengan informasi sepihak dan hoaks.

Reputasi usaha yang dibangun bertahun-tahun bisa tercoreng hanya dalam hitungan jam.

Baik kuasa hukum maupun manajemen Selevel berharap masyarakat lebih kritis dalam menerima informasi.

“Hoaks bisa merugikan banyak pihak. Jangan mudah percaya sebelum ada klarifikasi. Kami akan terus menjaga integritas usaha kami, sekaligus menempuh langkah hukum jika diperlukan,” tutup Jein Djauhari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here