~Masalahnya bukan tidak ada panggung. Masalahnya tidak ada yang benar-benar bertanggung jawab menghidupkannya.~
Oleh : Udi Masloman

OPINI – Saya ingin mulai dari satu hal yang paling jujur, masalah kita bukan kekurangan potensi. Masalah kita adalah kegagalan mengelola potensi itu sendiri.
Dan karya musik lokal adalah salah satu potensi yang paling lama kita abaikan—bukan karena tidak ada, tapi karena tidak pernah benar-benar dianggap.
Band, Teknologi, dan Sulitnya Menyatukan Visi
Fenomena meredupnya band memang terjadi secara global. Teknologi mengubah segalanya. Musik tidak lagi harus lahir dari ruang latihan penuh kompromi, tapi bisa diproduksi sendiri, dirilis sendiri, dan didistribusikan sendiri. Satu orang, satu laptop, satu visi dan itu cukup.
Di titik ini, band mulai kehilangan relevansinya. Bukan karena tidak menarik, tapi karena tidak praktis.
Dan dari situ saja kita sudah bisa melihat satu hal yang sering kita abaikan, betapa sulitnya menyatukan visi dalam proses kreatif bermusik. Band bukan sekadar kumpulan orang yang bisa bermain alat musik. Ia adalah ruang kompromi yang panjang. Ego, referensi, arah musik—semuanya harus dipertemukan.
Tidak semua orang punya kesabaran untuk itu.
Ketika Fenomena Global Menjadi Masalah Lokal di Kotamobagu
Ketika teknologi menawarkan jalan yang lebih cepat dan minim konflik, banyak musisi memilih jalan sendiri. Lebih bebas, lebih cepat, lebih pasti.
Fenomena ini mungkin wajar di tingkat global. Tapi di daerah seperti Bolaang Mongondow Raya, dampaknya jadi berlapis.
Kita punya masalah yang lebih mendasar, kita belum serius.
Pemerintah bukan tidak tahu. Tapi belum mau melihat musik sebagai potensi.
Serius itu terlihat dari keberlanjutan, bukan sekadar seremoni.
Panggung Ada, Keseriusan Tidak
Coba kita lihat. Ada berapa ruang publik yang sebenarnya bisa dijadikan panggung? Taman Kota Kotamobagu ada. Lapangan Molinow ada. Lapangan Mogolaing ada. Alun-alun Boki Hontinimbang juga ada.

Dan kini, Alun-alun Paloko-Kinalang sedang dibangun dengan konsep yang lebih megah.
Masalahnya bukan tidak ada panggung. Masalahnya tidak ada yang benar-benar bertanggung jawab menghidupkannya.
Kita membangun ruang. Tapi tidak membangun ekosistem.
Alun-alun Paloko-Kinalang: Harapan atau Sekadar Bangunan?
Alun-alun Paloko-Kinalang ini bisa jadi titik balik. Atau justru jadi monumen dari ketidakseriusan kita.
Apakah ia akan hidup sebagai ruang bagi karya musik lokal?
Atau hanya berdiri sebagai bangunan yang ramai di awal, lalu perlahan kosong tanpa arah?
Kita tidak butuh bangunan megah kalau akhirnya hanya jadi latar foto.
Karena sejarah kita sejauh ini lebih banyak membangun, daripada benar-benar memanfaatkan.
Hari ini kita bicara harapan. Beberapa tahun ke depan, kita akan bicara kenyataan.
Belajar dari Korea Selatan: Industri Dibangun, Bukan Dibiarkan
Dan di titik ini, kita perlu jujur belajar, meski yah terasa seperti tamparan.
Korean Wave (Hallyu) dan K-pop bukan lahir begitu saja. Ia dirancang. Mereka membangun industri. Kita masih berdebat soal panggung.
Tapi kita juga harus sadar kalau kita tidak sedang membandingkan negara dengan kota.
Kalau di level negara saja bisa dirancang, kenapa di level daerah kita tidak bisa mulai dari hal yang jauh lebih kecil?
Ini bukan soal sulit. Ini soal kemauan.
Peran Pemerintah: Antara Kebijakan dan Keberpihakan
Pemerintah Kota Kotamobagu seharusnya bisa mulai dari langkah sederhana tapi berdampak, yakni membuat kebijakan bahwa setiap event yang diselenggarakan pemerintah wajib menampilkan musisi atau band lokal yang memiliki karya.
Ini bukan sekadar formalitas. Ini panggung. Ini promosi. Ini keberpihakan.
Ini bukan soal anggaran besar. Ini soal keberpihakan yang selama ini tidak pernah benar-benar terlihat.
Tambahkan kalender event yang jelas. Buat ruang publik hidup secara rutin. Libatkan komunitas lintas genre. Tidak perlu besar. Tapi harus konsisten.
Event Ramai, Musik Lokal Hanya Pelengkap
Dan sebenarnya contoh itu sudah ada.
Event seperti Ramadan Festival menunjukkan bahwa keramaian bisa diciptakan. UMKM hidup, perputaran ekonomi berjalan, ruang publik terisi.
Orang datang, lampu ramai, lapak penuh—tapi musik lokal sering hanya jadi pelengkap, bukan alasan orang datang.
Tapi pertanyaannya, apakah kita mau sekadar ramai, atau benar-benar hidup?
Karena kita bisa ramai tanpa musik lokal.
Tapi kenapa tidak mencoba ramai karena musik lokal?
Musik menghadirkan massa. UMKM menggerakkan ekonomi.
Kalau ini dipertemukan secara sadar, kita tidak hanya menciptakan event—kita membangun ekosistem.
Komunitas yang Hidup, Tapi Belum Tumbuh
Di level komunitas, pergerakan memang ada. Gigs tetap hidup. Bahkan belakangan mulai sering muncul, dengan mayoritas penampil dari genre rock.
Ini menunjukkan satu hal, yang bertahan adalah yang punya basis.
Tapi di saat yang sama, ini juga jadi tanda bahwa ruang belum terbuka merata.
Yang tampil itu-itu saja. Yang datang itu-itu saja.
Kita tidak kekurangan penampil. Kita kekurangan keberanian untuk keluar dari lingkaran sendiri. Komunitas nyaman dengan eksklusivitas. Promosi minim. Kolaborasi lintas genre nyaris tidak ada.
Akibatnya, gigs hanya jadi ruang temu—bukan ruang tumbuh.
Budaya Gratisan dan Minimnya Apresiasi
Dan kita—ya, kita semua—ikut berperan.
Kita lebih sering jadi penonton gratis daripada pendukung yang sadar nilai.
Kita rela bayar mahal untuk yang jauh.Tapi menawar untuk yang dekat.
Kita ingin kota ini hidup, tapi kita sendiri tidak pernah benar-benar ikut menghidupkannya.
Kita sering menuntut ruang, tapi lupa menjadi alasan kenapa ruang itu harus ada.
Tanpa sadar, kita ikut membunuh ruang yang kita keluhkan tidak ada.
Selama kita masih menganggap karya musik lokal itu gratis, selama itu pula musik lokal tidak akan pernah punya nilai.
Musisi Lokal: Nyaman, Ragu, atau Terjebak?
Lalu kita bicara soal musisinya.
Sebagian masih terlalu nyaman di komunitasnya. Lebih sibuk diakui di lingkaran kecil, daripada membangun audiens baru.
Ada juga yang terlalu ragu. Terlalu takut pada respon penonton.
Selama target kita hanya tampil, bukan berkembang, maka kita akan terus berputar di tempat.
Dan selama kita masih takut ditolak, kita tidak akan pernah benar-benar mencoba diterima.
Kita ingin diapresiasi, tapi sering lupa membangun sesuatu yang layak untuk diapresiasi.
Kita Dibandingkan, Tapi Tidak Bergerak
Mungkin ini akan dianggap rengekan.
Rengekan musisi yang menolak tua.Yang gagal di Jakarta. Yang band-nya hampir jadi fosil.
Tidak masalah.Karena ini bukan soal masa lalu. Ini soal masa depan.
Sementara itu, daerah lain bergerak lebih jauh. Gorontalo mulai berani membangun produksi. Manado hidup dengan event dan exposure. Bitung ikut dalam jejaring yang lebih luas. Ambon punya kultur musik yang sudah mengakar.
Mereka tidak sempurna.Tapi mereka mulai.
Perbedaannya sederhana. Mereka bergerak, kita masih menunggu.
Panggung, Potensi, dan Masa Depan yang Dipertaruhkan
Kita? Masih di tempat yang sama. Padahal kita punya semuanya.
Kita punya panggung. Kita punya musisi. Kita punya komunitas.
Paloko-Kinalang akan berdiri.
Pertanyaannya apakah akan hidup atau kosong?
Kita akan tetap punya karya musik lokal.
Pertanyaannya akan berkembang atau stagnan?
Potensi itu tidak pernah hilang.Yang hilang adalah keseriusan kita menjaganya.
Karena pada akhirnya, masalahnya bukan kita tidak bisa.
Masalahnya kita belum benar-benar mau.
Dan kalau terus seperti ini, jangan salahkan siapa-siapa saat kita benar-benar kehilangan semuanya.
Dan saat itu terjadi, kita bahkan tidak sadar kapan semuanya benar-benar hilang.*

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Zonabmr. Aktif di pergerakan musik lokal daerah, frontman dan penulis lagu di band Krayon INS. Pernah memperjuangkan karya-karya musisi lokal BMR untuk didengar saat menjadi penyiar di stasiun radio lokal DC FM; saat ini menjabat sebagai Ketua DPC organisasi pers Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kabupaten Bolmong





