Aksi Sunyi Dua Perempuan Kotamobagu Nyalakan Ingatan Untuk Palestina Saat Dunia Mulai Abai

375
Aksi Sunyi Dua Perempuan Kotamobagu Nyalakan Ingatan Untuk Palestina Saat Dunia Mulai Abai
Dua perempuan, Sri Paputungan dan Citra Tomaili, berdiri diam membentangkan spanduk bertuliskan “Jangan Lupakan Gaza” dan “Gaza Masih Berdarah” sebagai bentuk kepedulian dari kota kecil Kotamobagu untuk Palestina. (Foto: Sri)

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Kamis pagi, 11 September 2025, langit Kotamobagu tampak biru jernih dengan awan putih bergumpal. Di bawah terik matahari yang menyengat, dua perempuan berdiri tegak di Alun-alun Boki Hontinimbang. Mereka adalah Sri Paputungan dan Citra Tomaili.

Dari pukul 09.00 hingga 11.00 WITA, keduanya membentangkan spanduk sederhana bertuliskan pesan-pesan solidaritas untuk Palestina: “Jangan Lupakan Gaza”, “Gaza Masih Berdarah”, hingga “Genosida Masih Belum Berhenti dan Tidak Ada yang Menghentikan.”

Dengan wajah tertutup masker dan kepala dilindungi topi putih, mereka berdiri dalam diam. Hanya kain spanduk dan tulisan berwarna merah mencolok yang berbicara lantang kepada siapa pun yang lewat.

Angin pagi sesekali mengibaskan ujung kain dan syal Palestina yang mereka kenakan, seakan ikut menjadi saksi bisu dari pesan kemanusiaan itu.

Sejumlah orang yang melintas sempat memperlambat langkah, sebagian berhenti sebentar untuk membaca, lalu kembali berjalan.

Kehadiran dua sosok perempuan itu kontras dengan riuh kehidupan kota: pedagang asongan menawarkan dagangan, lalu lintas kendaraan mengalir, anak-anak bermain di sekitar alun-alun.

Namun di antara keramaian itu, aksi sunyi mereka justru terasa lebih lantang.

Dua perempuan, Sri Paputungan dan Citra Tomaili, berdiri diam membentangkan spanduk bertuliskan “Jangan Lupakan Gaza” dan “Gaza Masih Berdarah” sebagai bentuk kepedulian dari kota kecil Kotamobagu untuk Palestina.
Seorang peserta aksi sunyi di Alun-alun Boki Hontinimbang, Kotamobagu, Kamis (11/9/2025), membentangkan pesan solidaritas untuk Palestina di tengah terik matahari. (Foto: Cit)

Sri Paputungan menyebut langkah kecil ini lahir dari rasa gelisah melihat kepedulian yang mulai pudar.

“Aksi ini bentuk kepedulian kami, sebagai pengingat bahwa sampai detik ini Gaza masih dijajah, ditindas, dan dibantai. Kami ingin menyiram kembali kepedulian yang mulai layu, agar orang-orang sadar bahwa di sudut dunia sana ada saudara kita yang masih berjuang untuk hidup,” tutur Sri dengan suara bergetar.

Sementara itu, Citra Tomaili menegaskan bahwa meski mereka hanya dua orang di kota kecil, pesan kemanusiaan tetap bisa menjangkau jauh.

“Kami ingin menunjukkan, dari sebuah kota kecil pun, masih ada yang tidak lupa pada Palestina. Harapan kami, siapa pun yang melihat aksi kecil ini bisa kembali menumbuhkan kepedulian—entah dengan doa, berdonasi, atau terus memilih untuk tidak membeli produk yang berafiliasi dengan pihak penindas,” ujarnya.

Latar Belakang Penjajahan

Sejak 1967, Israel telah menduduki wilayah Palestina: Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza. Menurut data PBB, lebih dari 2,3 juta warga Gaza hidup di bawah blokade yang membatasi akses makanan, air, obat-obatan, hingga listrik.

Amnesty International menyebut kondisi ini sebagai bentuk apartheid modern.

Sejak gelombang serangan besar pada Oktober 2023, lebih dari 40 ribu warga Palestina tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak.

Ribuan rumah hancur, sekolah luluh lantak, rumah sakit kewalahan, dan puluhan ribu orang kini hidup sebagai pengungsi di tanah mereka sendiri.

Sunyi yang Menggema

Dua sosok perempuan dengan spanduk sederhana itu seolah menghadirkan gema yang tak bisa diabaikan.

Warna merah di tulisan “Gaza Masih Berdarah” kontras dengan birunya langit Kotamobagu, menyuarakan duka yang jauh dari mata namun dekat di hati.

Meski hanya berlangsung dua jam, aksi sunyi itu meninggalkan kesan mendalam. Sri dan Citra menyalakan kembali ingatan, agar kepedulian pada Palestina tidak padam meski dunia mulai abai.

Dan mungkin, dari alun-alun sebuah kota kecil di Sulawesi, lahir secercah cahaya yang menembus batas-batas dunia.

Sebuah cahaya yang mengingatkan bahwa meski langit Gaza gelap oleh asap dan reruntuhan, masih ada doa yang terbang dari jauh, masih ada hati yang bergetar karena luka itu.

Aksi sunyi dua perempuan itu seakan berbisik kepada dunia: jangan biarkan ingatan ini mati. Karena selama kepedulian tetap hidup, harapan tak akan pernah padam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here