
Kotamobagu, ZONABMR.COM – “Kumura nabar? Uremo rei minatoanla?”
Sapaan dalam bahasa Jaton itu berulang terdengar di sudut-sudut ruangan Hotel Sutan Raja, Kotamobagu, Ahad (5/4/2026) malam.
Sekitar 150-an peserta yang hadir dalam Halal Bi Halal Kerukunan Keluarga Jawa Indonesia (KKJI) larut dalam suasana hangat, saling bersalaman, berpelukan, dan berbincang akrab, menghadirkan nuansa kampung halaman di tanah perantauan.
Para patuari-patuari Jaton tampak saling menyapa dengan logat khas. Ada yang tertawa lepas, ada pula yang terdiam sejenak, larut dalam kenangan pertemuan yang lama tertunda.
Di ruang itu, bahasa Jaton bukan sekadar alat komunikasi. Ia menjadi pengikat identitas dan rasa kebersamaan.
Kegiatan ini turut dihadiri Ketua KKJI BMR dan Kotamobagu Farid Asimin, Ketua Dewan Pembina Ali Nurhamidin, Sekretaris KKJI Abu Bakar Masloman, serta sejumlah tokoh Jawa Tondano (Jaton) dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari mantan kepala dinas, pejabat eselon III/IV dari berbagai pemerintah daerah di Bolaang Mongondow Raya, Wakil Ketua Pengadilan Agama, dokter ahli, politisi, pengusaha, jurnalis, hingga ketua RW.
Ketua Panitia, Cicilia Lendeon Nurhamidin, menyampaikan apresiasi atas soliditas seluruh elemen yang terlibat.
“Terima kasih atas kerja sama KKJI Kotamobagu dan arisan KKJI Kotamobagu serta seluruh patuari-patuari yang telah menyempatkan diri hadir. Semoga silaturahmi ini terus terjaga ke depannya,” ujarnya.
Hikmah Halal Bi Halal disampaikan Kasubag TU Kementerian Haji dan Umroh Kotamobagu, Muhammad Zaini Kyai Demak, S. Ag, yang menekankan pentingnya menjaga hubungan, memperkuat persaudaraan, serta menjadikan momen Idul fitri sebagai titik kembali kepada nilai kebersamaan.
Sementara itu, Koordinator KKJI Bolaang Mongondow Raya (BMR) sekaligus Ketua KKJI Kotamobagu, Farid Asimin—yang juga merupakan mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow—mengajak seluruh hadirin untuk merenung.
“Alhamdulillah, tahun ini kita masih bisa bersilaturahmi. Al-Fatihah untuk patuari-patuari kita yang sudah tidak sempat lagi bersama kita tahun ini,” ucapnya.
Suasana sejenak hening.
Farid menegaskan, kekuatan komunitas Jaton tidak terletak pada jumlah, melainkan nilai yang diwariskan.
“Ada tiga yang kita pegang. Kesungguhan dalam beragama, semangat juang, dan guyub. Kita mungkin tidak banyak, tapi kita kuat karena itu,” katanya.
Ia juga mengapresiasi peran kaum ibu dalam menjaga keberlangsungan kegiatan dan nilai-nilai budaya Jaton.
“Luar biasa ibu-ibu. Persiapan acara ini menunjukkan bahwa nilai Jaton itu benar-benar hidup,” tambahnya.
Di antara ratusan peserta yang hadir, interaksi berlangsung cair tanpa sekat jabatan. Semua larut dalam suasana kekeluargaan, saling menyapa dengan bahasa Jaton, memperkuat rasa persaudaraan di tengah keberagaman latar belakang.
Salah satu peserta, Yutni Waridin, menilai momen seperti ini sangat penting bagi warga Jaton di perantauan.
“Momentum seperti ini sangat berarti, karena di sinilah kita bisa saling mengenal satu sama lain. Di perantauan, silaturahmi seperti ini yang menjaga kita tetap dekat,” ujarnya.
Malam itu bukan sekadar pertemuan tahunan. Ia menjadi ruang temu identitas, tempat bahasa, budaya, dan rasa kebersamaan tetap hidup.
Di tengah perubahan zaman, Halal Bi Halal KKJI Kotamobagu menjadi pengingat sederhana—bahwa sejauh apa pun merantau, ada nilai yang tetap pulang: guyub, persaudaraan, dan rasa memiliki sebagai satu keluarga besar Jaton.
Sejarah Singkat Suku Jawa Tondano (Jaton)
Suku Jawa Tondano (Jaton) merupakan komunitas etnis hasil perjumpaan sejarah antara orang Jawa dan masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara. Akar sejarah Jaton bermula pada awal abad ke-19, tepatnya setelah berakhirnya Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro melawan pemerintah kolonial Belanda.
Pasca kekalahan Perang Jawa, Belanda mengasingkan sejumlah pengikut dan laskar Pangeran Diponegoro ke berbagai wilayah Nusantara, salah satunya ke daerah Tondano, Minahasa. Para pengasingan ini kemudian menetap, berbaur, dan membangun kehidupan baru bersama masyarakat lokal Minahasa, termasuk melalui perkawinan dan interaksi sosial-budaya.
Dari proses inilah lahir komunitas Jawa Tondano, yang kemudian dikenal dengan sebutan Jaton. Secara kultural, Jaton memiliki identitas khas yang memadukan unsur tradisi Jawa dengan adat Minahasa, serta nilai-nilai keislaman yang kuat. Bahasa, seni, dan tradisi Jaton berkembang sebagai identitas unik yang berbeda dari Jawa di Pulau Jawa maupun Minahasa secara umum.
Hingga kini, komunitas Jaton tersebar di beberapa wilayah Sulawesi Utara dan Bolaang Mongondow Raya, termasuk Kotamobagu, dan tetap menjaga tradisi, seni, serta nilai-nilai leluhur sebagai bagian penting dari jati diri dan sejarah mereka.




