Platform Pantau Iklim Antar Zonautara Ke SJF 2026

13
Zonautara Wakili Sulawesi Utara dalam Program SJF Masterclass 2026
Tim Zonautara bersama Para Peserta Program SJF Masterclass 2026 (Foto: CIMB)

Kotamobagu, ZONABMR.COMZonautara.com dari Sulawesi Utara berhasil lolos dalam program Sustainability Journalism Fellowship (SJF) 2026 yang diselenggarakan PT Bank CIMB Niaga Tbk bersama Indonesian Institute of Journalism (IIJ) dan didukung Global Reporting Initiative (GRI).

Keberhasilan tersebut diraih melalui proposal bertajuk Platform Pantau Iklim, sebuah gagasan pengembangan platform digital yang berfokus pada pemantauan berbagai isu perubahan iklim, dampaknya terhadap masyarakat, serta penyediaan akses informasi berbasis data bagi publik.

Proposal yang diajukan tim Zonautara berhasil bersaing dalam seleksi nasional yang menjaring 233 proposal ide sosial dan keberlanjutan dari berbagai daerah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, hanya 20 proposal terbaik yang dinyatakan lolos untuk mengikuti rangkaian Sustainability Journalism Fellowship 2026, termasuk proposal Platform Pantau Iklim dari Zonautara.

Tim Zonautara yang terdiri dari Ronny Adolof Buol, Marsal Datundugon, dan David Sumilat kemudian mendapat kesempatan mengikuti SJF Masterclass 2026 yang berlangsung di Learning Center Bumi CIMB Niaga, Gunung Geulis, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 25-27 Juni 2026.

Keberhasilan tersebut menjadi capaian penting bagi Zonautara sekaligus menunjukkan bahwa gagasan yang lahir dari Sulawesi Utara mampu bersaing di tingkat nasional.

Melalui program ini, Zonautara menjadi salah satu media yang memperoleh kesempatan memperkuat kapasitas peliputan isu keberlanjutan, lingkungan hidup, dan perubahan iklim.

Selama mengikuti SJF Masterclass 2026, peserta mendapatkan berbagai materi terkait jurnalisme konstruktif, praktik keberlanjutan, pengenalan terhadap praktik greenwashing, hingga strategi membangun storytelling yang mampu memberikan dampak sosial dan lingkungan.

Selain mengikuti pelatihan, para peserta juga memperoleh pendampingan langsung dari para ahli dan praktisi keberlanjutan untuk menyempurnakan gagasan yang diajukan. Hasil pendampingan tersebut nantinya akan diwujudkan dalam berbagai program aksi keberlanjutan di daerah masing-masing dengan dukungan pendanaan total mencapai Rp200 juta.

Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga, Fransiska Oei, mengatakan program SJF 2026 merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendorong peran media untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap isu keberlanjutan sekaligus menghadirkan solusi yang berdampak positif bagi masyarakat.

Sementara itu, Direktur Eksekutif IIJ, Umar Idris, mengatakan tantangan pembangunan saat ini membutuhkan jurnalisme yang mampu menjelaskan isu keberlanjutan secara utuh, berbasis data, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Melalui program tersebut, para peserta diharapkan mampu menghasilkan karya jurnalistik yang tidak hanya mengangkat persoalan lingkungan dan sosial, tetapi juga mendorong lahirnya solusi dan praktik baik yang mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Marsal Datundugon mengatakan Platform Pantau Iklim dirancang sebagai platform kolaboratif yang memungkinkan masyarakat terlibat langsung dalam pemantauan isu lingkungan dan perubahan iklim.

Menurutnya, sasaran utama platform tersebut adalah seluruh warga Sulawesi Utara yang ingin melaporkan berbagai peristiwa yang mereka temui di lapangan, mulai dari banjir, longsor, abrasi pantai, kerusakan hutan, pencemaran lingkungan, hingga dampak lain yang berkaitan dengan perubahan iklim.

“Target awalnya digunakan di Sulawesi Utara, namun ke depan kami berharap platform ini dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih luas hingga tingkat nasional. Kami ingin masyarakat menjadi bagian dari proses pengumpulan data lingkungan secara langsung,” kata Marsal.

Ia menjelaskan, setiap laporan yang masuk tidak hanya menjadi informasi publik, tetapi juga akan diolah menjadi basis data yang dapat dimanfaatkan untuk analisis, investigasi jurnalistik, riset, serta menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan publik terkait konservasi lingkungan dan perubahan iklim.

“Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga berperan sebagai kontributor data yang dapat membantu menghadirkan gambaran kondisi lingkungan secara lebih akurat dan real time,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here