
ZONABMR.com – Penerapan Buku Saku Silakata oleh Duta Bahasa Sulawesi Utara 2026 dalam kegiatan Piknik Literasi yang diselenggarakan di Kelurahan Matali, Minggu (9/8/2026) tidak hanya melahirkan antusiasme peserta, tetapi juga menghasilkan catatan evaluasi positif dari para pendamping di lapangan. Kualitas visual dan kesiapan materi dalam buku tersebut dinilai berhasil memantik keaktifan anak-anak SD, meski terdapat beberapa aspek kebahasaan yang perlu disesuaikan agar lebih ramah bagi pembaca usia dini.
Yundari Manengke, salah satu fasilitator kegiatan, mengungkapkan bahwa penyusunan struktur dan visualisasi dalam buku Silakata menjadi faktor utama yang memudahkan anak-anak mencerna materi bacaan.
“Menurut saya, setelah dipraktikkan kepada anak-anak, buku Silakata ini sangat mudah dipahami oleh anak-anak, terutama dari poin penyusunannya. Beberapa gambar yang diberikan di dalamnya juga berwarna sehingga membuat anak sangat tertarik dan mudah memahami,” ujar Yunda.
Ia menambahkan, keterlibatan anak-anak selama sesi membaca tergolong tinggi. Metode baca interaktif yang dibarengi dengan sesi pemahaman lewat pertanyaan balik terbukti mampu mencairkan suasana belajar.
“Respon peserta didik itu sangat antusias dan sangat bersemangat tentunya, karena metode yang digunakan mengajak audiens anak-anak untuk lebih aktif dan interaktif dalam kegiatan membaca,” jelasnya.
Dari segi efisiensi pendampingan, Yunda menilai buku ini sudah sangat mandiri. Fasilitator dapat menjalankan alur pembelajaran secara intuitif tanpa memerlukan panduan tambahan dari luar, sebab materi yang disajikan tergolong lengkap untuk kebutuhan sesi membaca anak.
Kendati demikian, Yunda memberikan masukan substantif terkait tingkat kesulitan kosa kata. Ia mencatat bahwa siswa kelas IV SD masih menjumpai beberapa kata ilmiah atau istilah asing yang belum familiar di bagian awal buku. Untuk mengatasi hambatan pemahaman tersebut, ia menyarankan hadirnya fitur penjelasan kata secara langsung.
“Untuk anak-anak SD, kata-kata ilmiahnya mungkin bisa diberikan arti atau seperti glosarium langsung di bawahnya. Karena tadi, terutama pada bagian pertama, banyak kata-kata yang tidak dipahami anak-anak,” ungkapnya.
Di samping elemen buku, faktor teknis penyampaian materi juga menjadi sorotan. Yunda menggarisbawahi bahwa pola pembelajaran melingkar (group reading) memegang peranan penting dalam menjaga ritme keterlibatan anak. Format dinamis ini mencegah kejenuhan belajar karena memberikan ruang bagi siswa untuk saling berinteraksi dan membaca secara bergiliran.
“Kegiatan melingkar yang tadi itu sangat-sangat membantu pembelajaran untuk anak-anak SD karena tidak monoton untuk satu anak, tetapi berkelompok. Jadi semuanya antusias dan bersemangat dalam belajar karena banyak teman-teman dan bergantian belajarnya,” tutur Yunda.
Masukan lapangan, menegaskan bahwa kombinasi materi bergambar dan metode baca inklusif telah berhasil menciptakan iklim belajar yang menyenangkan. Evaluasi terkait penyederhanaan kosa kata melalui glosarium menjadi poin strategis untuk penyempurnaan cetakan Buku Saku Silakata selanjutnya. (Deyna)



