Peliput: Try Deina Cahyani

ZONABMR.com — Kreativitas pelajar dalam merangkai cerita melalui video menjadi salah satu daya tarik Festival Lomba Sastra, Video, dan Literasi (FILOSOVI) 2026 yang diselenggarakan MAN 1 Kotamobagu. Tak sekadar mengandalkan kemampuan teknis produksi, peserta ditantang menghadirkan gagasan literasi yang kuat, orisinal, dan edukatif melalui karya audiovisual.
Mengusung tema “Merangkai Kata, Mengabadikan Cerita, dan Menghidupkan Literasi”, lomba video literasi ini diikuti pelajar tingkat SMA/SMK/MA se-Kota Kotamobagu dalam rangkaian kegiatan FILOSOVI pada 22–23 Oktober 2026. Pengumuman sekaligus penyerahan hadiah kepada para pemenang dilaksanakan di lapangan upacara MAN 1 Kotamobagu plus Keterampilan dan Riset, Jumat (23/10/2026) sore.
Dalam kompetisi tersebut, SMA Katolik Theodorus meraih juara pertama, disusul SMAN 2 Kotamobagu di posisi kedua dan SMK Muhammadiyah di posisi ketiga.
Setiap sekolah diwajibkan mengutus satu tim yang terdiri atas dua siswa kelas X atau XI. Peserta ditantang menghasilkan video berdurasi 2–3 menit dengan format landscape atau rasio 16:9, mengangkat tema literasi yang mencakup baca-tulis, digital, budaya, lingkungan, atau finansial.
Selain kekuatan gagasan dan penyampaian pesan, orisinalitas menjadi salah satu aspek penting yang diperhatikan. Karya peserta juga harus memenuhi ketentuan yang berlaku, termasuk tidak mengandung unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), perundungan, maupun kekerasan.
Dua juri yang dipercaya menilai karya peserta adalah Iswahyudi Masloman dan Mahmud Mokoginta. Keduanya memiliki pengalaman di bidang fotografi, videografi, dan pengembangan kreativitas berbasis komunitas.

Iswahyudi Masloman merupakan mantan Ketua Instanusantara Sulawesi Utara, fotografer dan videografer lepas, serta Ketua PC Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kotamobagu. Ia juga dikenal sebagai penulis skrip, sutradara dan kameramen di Komunitas Film Binelek, Pemimpin Redaksi Zonabmr.com, serta Ketua DPC Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kotamobagu.
Sementara itu, Mahmud Mokoginta merupakan Ketua Geonusantara Sulawesi Utara, Ketua Singgolong Explorer, Sekretaris Lesbumi Kotamobagu, pegiat Monibi Institute, serta fotografer dan videografer lepas.
Dalam proses penjurian, kedua juri menggunakan lima kriteria utama, yakni kesesuaian tema dan kedalaman pesan literasi dengan bobot 30 persen, kreativitas dan orisinalitas ide 25 persen, kualitas penyampaian pesan serta nilai edukasi 20 persen, teknik pengambilan gambar, audio, dan penyuntingan 15 persen, serta kesesuaian durasi dan ketentuan teknis 10 persen.
Iswahyudi menuturkan, secara umum kualitas karya peserta melampaui ekspektasi dewan juri. Persaingan berlangsung ketat karena para pelajar mampu menghadirkan ide dan eksekusi yang tidak kalah dari karya kreator yang lebih berpengalaman.
“Rata-rata peserta sudah menghasilkan karya yang sangat bagus. Namun, namanya kompetisi tentu harus ada pemenang. Bukan berarti peserta yang belum menang memiliki karya yang kurang baik,” ujarnya.
Meski demikian, terdapat sejumlah catatan evaluasi yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi peserta. Beberapa video dinilai memiliki pembukaan yang menjanjikan, tetapi kualitas penyajiannya menurun pada bagian pertengahan hingga akhir.

Ada pula karya dengan storytelling dan penyuntingan yang baik, tetapi masih menggunakan banyak potongan video yang tidak orisinal. Menurut Iswahyudi, kreativitas dalam produksi video perlu berjalan seiring dengan kemampuan mengembangkan materi sendiri agar gagasan yang disampaikan memiliki karakter dan identitas yang kuat.
Pemilihan latar belakang dan penempatan talent juga menjadi perhatian. Warna latar yang terlalu mirip dengan talent dapat membuat subjek utama kurang menonjol sehingga mengurangi kekuatan visual video.
Aspek kebahasaan turut menjadi catatan penting dalam kompetisi yang mengusung semangat literasi tersebut. Penggunaan bahasa daerah, termasuk bahasa Manado, tetap perlu memperhatikan ketepatan penulisan kata dalam bahasa Indonesia yang disisipkan ke dalam teks.
Ia juga mengingatkan peserta untuk membedakan kata depan “di” yang ditulis terpisah dengan imbuhan “di-” yang ditulis serangkai, serta memperhatikan ketepatan penggunaan huruf F dan P.
“Karena ini merupakan ajang literasi, ketepatan ejaan dan penggunaan bahasa juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan,” katanya.
Di sisi lain, Mahmud Mokoginta menegaskan bahwa proses penjurian dilaksanakan secara objektif, profesional, dan independen tanpa intervensi pihak mana pun.
Ia mengapresiasi antusiasme peserta yang dinilai mampu menunjukkan kreativitas, orisinalitas ide, serta pemahaman terhadap tema yang diangkat. Menurutnya, penilaian tidak hanya berfokus pada aspek teknis produksi, tetapi juga pada kekuatan pesan dan kualitas gagasan yang disampaikan melalui video.
Mahmud berharap pengalaman mengikuti kompetisi ini dapat mendorong para pelajar untuk terus mengembangkan kemampuan berkarya dan menjadikan video sebagai media edukasi yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Dari sisi penyelenggaraan, Fatir Rahman, siswa kelas X MAN 1 Kotamobagu yang menjadi panitia bidang video literasi, menilai FILOSOVI sebagai kegiatan yang mampu memadukan literasi, edukasi, dan kreativitas dalam format yang menarik bagi pelajar.
Menurutnya, festival ini tidak hanya menghadirkan kegiatan yang berkaitan dengan membaca dan menulis, tetapi juga membuka ruang bagi siswa untuk mengekspresikan ide melalui media yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Unsur-unsur yang ada di dalamnya tidak hanya sekadar literasi, edukasi, dan hal-hal yang membosankan, namun dipadukan dengan berbagai kreativitas dan lomba-lomba yang relevan dengan generasi sekarang, sehingga terasa tidak monoton dan sangat menarik,” ungkap Fatir.

Ketua bidang video literasi, Mutiara Andini Putri Thomas, siswi kelas X MAN 1 Kotamobagu, juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam festival tersebut. “FILOSOVI bukan hanya tentang kemenangan, melainkan juga tentang keberanian merayakan ide, kreativitas, dan karya,” ucapnya.
Melalui lomba video literasi, FILOSOVI 2026 diharapkan menjadi salah satu upaya memperkuat budaya literasi di kalangan pelajar sekaligus meningkatkan kemampuan mereka dalam mengolah gagasan menjadi karya audiovisual yang edukatif, komunikatif, dan orisinal.
Berbagai masukan dari dewan juri menjadi bagian penting dari proses pembelajaran tersebut. Dengan memperhatikan kualitas cerita, ketepatan bahasa, orisinalitas materi, serta aspek teknis produksi, para peserta diharapkan mampu menghasilkan karya yang semakin matang dan berkualitas pada kesempatan berikutnya. (Try Deina)






