
ZONABMR.com — Literasi tidak cukup berhenti pada kebiasaan membaca buku. Kemampuan mengolah gagasan, menyampaikan pemikiran melalui puisi, hingga merangkai pesan dalam karya video menjadi bagian dari cara generasi muda memahami dan merespons dunia. Semangat inilah yang mewarnai Festival Lomba Sastra, Video, dan Literasi (FILOSOVI) 2026 di Kota Kotamobagu.
Digelar selama dua hari, 22–23 Oktober 2026, di MAN 1 Kotamobagu plus Keterampilan dan Riset, FILOSOVI menjadi ruang perjumpaan pelajar SMA/MA sederajat se-Sulawesi Utara untuk mengembangkan kreativitas, menguji kemampuan, sekaligus merayakan literasi dalam beragam bentuk.
Kegiatan yang mengusung tema Merangkai Kata, Mengabadikan Cerita, dan Menghidupkan Literasi ini merupakan hasil kolaborasi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) BooKed, Komunitas Tunadiksi, dan MAN 1 Kotamobagu Plus Keterampilan dan Riset.
Rangkaian kegiatan meliputi pemilihan Duta Baca Pelajar, lomba baca puisi, lomba video literasi, panggung ekspresi, serta talk show literasi. Ajang ini dibuka Kepala Kantor Kementerian Agama Kotamobagu, Jamalludin Lamato, dan ditutup secara resmi oleh Kepala MAN 1 Kotamobagu, Arkam Lahiya. Dan turut dihadiri Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kotamobagu, Ham Rumoroy.

Perwakilan Dinas Perpustakaan Provinsi Sulawesi Utara, Tenny Kunsi, memandang literasi sebagai fondasi yang terhubung dengan berbagai aspek kehidupan.
Menurutnya, literasi menjadi dasar bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan, memahami informasi, mengembangkan cara berpikir, serta mengambil keputusan. Sehingga literasi terhubung dengan segala aspek kehidupan. Tanpa kecakapan literasi yang memadai, seseorang akan lebih sulit memilah informasi, memahami persoalan, dan mengembangkan gagasan secara kritis.
Karena itu, kegiatan seperti FILOSOVI menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mempraktikkan literasi melalui pengalaman langsung. Mereka tidak hanya membaca dan memahami karya, tetapi juga belajar menyampaikan pesan, mengembangkan kreativitas, serta menghargai pemikiran orang lain.
Inisiator FILOSOVI yang juga pendiri Booked.id, Titi Nurmala Kekenusa atau Titi Keke, menegaskan bahwa literasi harus tumbuh menjadi gerakan yang hidup di tengah masyarakat, terutama di kalangan generasi muda.
“FILOSOVI 2026 lahir dari sebuah keyakinan bahwa literasi tidak boleh berhenti sekadar sebagai teks di dalam buku, melainkan harus menjadi napas dan gerakan yang hidup di tengah masyarakat, khususnya generasi muda,” ujarnya.
Menurut Titi, tema yang diusung dalam FILOSOVI merupakan ajakan kepada anak muda untuk berani menyuarakan gagasan, mendokumentasikan cerita, dan mengekspresikan dinamika kehidupan melalui karya.
Kolaborasi komunitas dan lembaga pendidikan, lanjutnya, juga menunjukkan bahwa pengembangan literasi membutuhkan ruang bersama yang dapat mempertemukan berbagai potensi.
Ia menilai pemilihan Duta Baca, lomba puisi, video literasi, dan panggung ekspresi dapat menjadi cara untuk memperluas pemahaman pelajar tentang literasi.
“Literasi hari ini adalah tentang bagaimana kita membaca dunia, mengolah narasi visual lewat video, hingga merayakan keindahan bahasa dalam puisi,” katanya.
Titi berharap FILOSOVI tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi pemantik lahirnya gerakan dan inovasi literasi baru di Kotamobagu dan daerah lainnya di Sulawesi Utara.

Harapan serupa disampaikan Wahyuni Paputungan, Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Kotamobagu Perpusnas RI yang juga Co-Founder TBM BooKed dan Komunitas Tunadiksi sekaligus salah satu inisiator kegiatan.
Wahyuni mengaku bangga dapat terlibat bersama panitia dari MAN 1 Kotamobagu dan berbagai pihak yang mendukung pelaksanaan festival tersebut.
Ia menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah yang telah menyediakan ruang bagi komunitas untuk berkreasi dan bersama-sama mengembangkan kegiatan literasi.
“Festival ini bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah ruang di mana semangat bertemu, gagasan saling berbagi, dan ruang kita menumbuhkan cinta terhadap literasi,” ungkapnya.
Menurut Wahyuni, setiap agenda dalam FILOSOVI memiliki peran tersendiri dalam menumbuhkan kecintaan terhadap literasi. Talkshow menjadi ruang memperkaya wawasan, pemilihan Duta Baca Pelajar mendorong lahirnya penggerak literasi, sedangkan puisi dan monolog memberikan ruang bagi pelajar untuk menyuarakan isi hati serta pemikirannya.
Sementara itu, lomba video literasi membuka kesempatan bagi peserta menyampaikan ide melalui kreativitas visual.
Wahyuni berharap kolaborasi yang telah terbangun dapat terus berlanjut sehingga kegiatan serupa tetap hadir dan menjangkau lebih banyak pelajar.
Pandangan mengenai luasnya makna literasi juga disampaikan Marco Djaman dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan.
Ia mengajak masyarakat memandang literasi secara sederhana, tetapi tidak membatasinya hanya pada kemampuan baca tulis.
Pemahaman tersebut menjadi penting di tengah perkembangan teknologi dan media digital. Literasi juga berkaitan dengan kemampuan memahami informasi, mengolah pesan, menyampaikan gagasan, serta menggunakan berbagai media secara tepat.
Melalui FILOSOVI, pemahaman itu diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk kegiatan yang memungkinkan pelajar belajar sekaligus menghasilkan karya.
Antusiasme peserta selama dua hari pelaksanaan terlihat melalui keterlibatan mereka dalam berbagai perlombaan dan panggung ekspresi. Selain menguji kemampuan individu maupun kelompok, festival ini mempertemukan pelajar dari berbagai sekolah untuk saling mengenal dan berbagi pengalaman.
Pada akhir kegiatan, panitia mengumumkan para pemenang dari tiga kategori perlombaan, yakni Duta Baca Pelajar, baca puisi, dan video literasi.
Untuk kategori Duta Baca Pelajar, Godwin Leander Ochaland Luas dari SMA Katolik Theodorus meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati Diza Indira Sutriawan dari MAN 1 Kotamobagu, sedangkan juara ketiga diraih Mozza Oktavia Dilapanga dari SMAN 2 Kotamobagu.
Pada lomba baca puisi, Ranum Husni dari SMKN 1 Kotamobagu keluar sebagai juara pertama. Yosefina Dona Mangamis dari SMAN 1 Kotamobagu meraih juara kedua, sementara Laiba Asyifa Ariska dari SMKN 1 Kotamobagu menempati posisi ketiga.
Adapun kategori video literasi dimenangkan SMA Katolik Theodorus sebagai juara pertama, disusul SMAN 2 Kotamobagu di posisi kedua dan SMK Muhammadiyah di posisi ketiga.
Penyelenggaraan FILOSOVI 2026 menjadi contoh bahwa pengembangan literasi dapat dilakukan melalui kolaborasi komunitas, sekolah, dan pemerintah. Tantangan berikutnya adalah memastikan semangat yang tumbuh selama festival dapat berlanjut dalam kegiatan sehari-hari, terutama melalui perpustakaan sekolah, komunitas baca, dan ruang kreatif bagi pelajar.
Dengan kolaborasi yang berkesinambungan, literasi diharapkan tidak hanya hadir ketika festival berlangsung, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan generasi muda dalam membaca, berpikir kritis, berkarya, dan menyampaikan gagasan.





