Peliput: Iswahyudi Masloman

ZONABMR.com — Kemah Ukhuwah Santri dan Madrasah di Kota Kotamobagu resmi ditutup pada Sabtu (24/10/2026), setelah tiga hari sejak Kamis, 22 Oktober, menjadi ruang bagi para santri dan siswa madrasah untuk mengasah keterampilan kepramukaan, membangun kekompakan, dan mempererat persaudaraan.
Kegiatan yang digelar dalam rangka menyemarakkan Hari Santri Nasional 2026 tersebut diakhiri dengan pengumuman juara dan penyerahan penghargaan kepada peserta yang berprestasi.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kotamobagu, Jamaluddin Lamato, dalam sambutannya menegaskan bahwa perkemahan bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan juga sarana pembentukan karakter, penguatan persaudaraan, dan penanaman nilai-nilai nasionalisme bagi santri dan siswa madrasah.
Menurutnya, kegiatan kepramukaan menjadi ruang pembelajaran untuk menumbuhkan kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja sama.
“Melalui Kemah Ukhuwah Santri dan Madrasah ini, kita berharap para santri dan siswa madrasah dapat tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia, disiplin, mandiri, memiliki semangat kebangsaan, serta mampu menjaga persaudaraan di tengah keberagaman,” ujar Lamato.
Semangat tersebut turut tercermin dalam pengumuman pemenang berbagai kategori perlombaan. Penghargaan yang diserahkan menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras, kekompakan, dan semangat berkompetisi yang ditunjukkan peserta selama mengikuti perkemahan.
Meski demikian, keberhasilan kegiatan ini tidak hanya diukur dari jumlah piala yang dibawa pulang. Pengalaman selama berkemah, persahabatan yang terjalin, serta kemampuan menghargai dan bekerja sama dengan sesama peserta merupakan bagian penting dari nilai yang ingin ditanamkan melalui kegiatan tersebut.
Suasana kebersamaan juga hadir dalam agenda api unggun yang menjadi bagian dari rangkaian perkemahan. Nyala api menjadi simbol semangat perjuangan, persatuan, dan persaudaraan yang diharapkan terus tumbuh dalam diri para santri dan siswa madrasah.
Momen tersebut sekaligus mengingatkan bahwa semangat kepramukaan tidak berhenti pada keterampilan maupun kemenangan dalam perlombaan. Lebih dari itu, semangat tersebut tercermin dalam kesediaan untuk saling mendukung, menghargai perbedaan, dan melangkah bersama.
Perkemahan pun berakhir, prestasi telah diraih, tetapi semangat juang dan persaudaraan diharapkan tetap menyala setelah para peserta kembali ke lingkungan masing-masing.





