
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Meski waktu bergulirnya Musyawarah Daerah (Musda) DPD II Partai Golkar Kota Kotamobagu masih cukup lama, dinamika yang berjalan mulai memanas.
Tudingan kontroversial muncul dari seorang pemerhati politik yang meminta namanya tak dipublikasi yang menyebut Christiany Eugenia Paruntu (CEP) berpihak kepada salah satu bakal calon ketua.
Isu tersebut langsung memantik spekulasi liar di internal Partai Golkar. Perebutan kursi Ketua DPD II Golkar Kotamobagu disebut-sebut melibatkan figur-figur kuat dengan basis dukungan yang tidak bisa dianggap remeh.
Menanggapi tudingan itu, CEP yang juga anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Fraksi Partai Golkar memberikan klarifikasi saat menghadiri acara buka puasa bersama Wali Kota Kotamobagu di Sutan Raja Hotel Kotamobagu, Rabu (18/3/2026).
CEP menegaskan bahwa hingga saat ini pelaksanaan Musda masih menunggu jadwal resmi dari DPP Partai Golkar.
“Musda masih menunggu jadwal. Kita berharap dalam waktu dekat sudah ada ketentuan dari DPP,” ujarnya.
Menjawab tudingan keberpihakan, CEP memilih bersikap diplomatis. Ia menekankan bahwa dirinya realistis dalam melihat dinamika internal partai.
“Saya realistis saja. Siapapun yang nantinya terpilih, itu berarti memiliki kapasitas dan tentu sudah disetujui oleh DPP,” tegasnya.
Lebih lanjut, CEP memastikan tidak akan berpihak secara personal kepada kandidat tertentu dan berkomitmen mendukung siapapun yang terpilih sebagai Ketua DPD II Golkar Kotamobagu.
“Siapapun yang jadi ketua, saya akan tetap mendukung,” tambahnya.
Namun, pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredam spekulasi. Sejumlah kalangan menilai sikap “netral” CEP justru membuka ruang tafsir politik, terutama di tengah kompetisi yang kian mengerucut.
Apalagi isu kedekatan CEP yang setiap datang ke Kotamobagu, hanya mengunjungi kediaman salah satu kandidat calon ketua DPD II.
Beberapa nama yang menguat sebagai bakal calon Ketua DPD II Golkar Kotamobagu di antaranya Herdi Korompot, Raski Mokodompit, Fachrian Mokodompit, dan Rendy Virgiawan Mangkat.
Keempatnya disebut memiliki jaringan dan kekuatan politik signifikan di tingkat lokal.
Situasi ini membuat Musda Golkar Kotamobagu diprediksi tidak hanya menjadi ajang konsolidasi, tetapi juga pertarungan pengaruh antar elit yang berpotensi memunculkan friksi internal jika tidak dikelola secara matang.
Seiring belum adanya jadwal resmi dari DPP, tensi politik di tubuh Golkar Kotamobagu dipastikan masih akan terus bergerak dinamis—bahkan cenderung memanas.




