
ZONABMR.com – Bagi Mas Dedi, gerobak bakso yang baru diterimanya pada Jumat (28/8/2026) bukan sekadar pengganti barang yang rusak.
Gerobak itu adalah jalan baginya untuk kembali bekerja.
Sebelumnya, Dedi harus menghentikan aktivitas berjualan setelah gerobak miliknya rusak dalam musibah Drag Race Upai, Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Minggu (9/8/2026).
Gerobak yang setiap hari digunakan Dedi dan istrinya untuk mencari nafkah itu ikut menjadi korban ketika mobil Honda Jazz yang dikemudikan Tian Ngantung menerobos area penonton dan menghantam sejumlah benda di sekitar lokasi.
Kerusakan gerobak dan perlengkapan dagangan membuat Dedi kehilangan sarana untuk berjualan.
Bagi keluarga kecil tersebut, dampaknya tidak berhenti pada rusaknya sebuah gerobak. Penghasilan harian yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga ikut terputus.
Hampir tiga pekan setelah kejadian, kondisi itu mulai berubah.
Panitia Drag Race Upai melalui Ketua Panitia, Lucky Sugeha, mengganti gerobak milik Dedi dengan gerobak baru.
Penyerahan dilakukan pada Jumat (28/8/2026). Selain gerobak, panitia juga memberikan uang pengganti untuk sejumlah barang dagangan dan perlengkapan milik Dedi yang rusak dalam peristiwa tersebut.
“Sudah kami ganti dengan gerobak yang baru. Semoga Mas Dedi bisa berjualan lagi,” kata Lucky.
Penggantian tersebut menjadi salah satu bentuk tanggung jawab panitia terhadap warga yang mengalami kerugian akibat musibah di lokasi iven.
Bagi Dedi, gerobak baru itu membuka kembali kesempatan untuk mendapatkan penghasilan dari usaha yang selama ini dijalankan bersama istrinya.
Sebelumnya, Lucky juga menyampaikan bahwa panitia tetap melakukan pendampingan terhadap keluarga korban sejak hari pertama kejadian.
Pendampingan tersebut mencakup kebutuhan awal di rumah sakit, ambulans, obat-obatan hingga biaya perawatan.
Sementara bagi Dedi, persoalannya kini sederhana, kembali mendorong gerobak, menyiapkan bakso, dan kembali melayani pembeli.
Sebuah gerobak baru mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Dedi dan keluarganya, itu berarti kesempatan untuk kembali mencari nafkah setelah usaha mereka sempat terhenti akibat musibah.




