Gema Tradisi di Tengah Riuh Modernitas, Ulasan Buku Islam yang Memihak Adat karya AS Rosyid

5

oleh: Trideyna Cahyani

Gema Tradisi di Tengah Riuh Modernitas, Ulasan Buku Islam yang Memihak Adat karya AS Rosyid
Buku Islam yang Memihak Adat karya AS Rosyid. (Foto: Zonabmr/Trideyna)

ZONABMR.com – Dunia modern membujuk kita dengan janji kepraktisan, estetika artifisial, dan gagasan tentang kemajuan yang serba mekanis. Tanpa disadari, standar pembangunan dan tolok ukur kesejahteraan hari ini digiring oleh satu narasi tunggal, bahwa apa yang datang dari industri modern lebih baik ketimbang apa yang diwariskan oleh tradisi lokal.

Rumah-rumah bertembok semen yang tertutup rapat dipromosikan sebagai lambang kemewahan dan privasi, sementara hunian tradisional berbahan alami seperti bambu atau kayu perlahan dicap sebagai bentuk kehidupan yang tertinggal. Lalu, muncul krisis baru yang melanda masyarakat modern, yakni isolasi sosial, serta keretakan hubungan antara manusia dengan alam.

Manusia kian terasing dari tetangganya sendiri dan makin jauh dari ekosistem yang menopang kehidupannya. Di tengah kebuntuan ini, buku Islam yang Memihak Adat: Rumusan Beragama untuk Menjaga Bumi dan Manusia karya AS Rosyid memperluas sebuah tawaran pemikiran yang jernih, tajam. AS Rosyid mengurai kembali benang-benang relasi antara ajaran keagamaan, etika adat, dan kelestarian ekologi yang selama ini kerap dihadapkan secara berlawanan.

Salah satu bagian yang paling memikat dari argumen AS Rosyid adalah bedah kritisnya terhadap arsitektur hunian dan dampaknya terhadap sosiologi masyarakat. Di dalam buku itu, penulis mengambil contoh konkrit dari kearifan lokal masyarakat adat di Lombok yang tetap teguh mempertahankan rumah berbahan dasar bambu. Secara teknis, dinding bambu woven memiliki celah alami yang memberikan sirkulasi udara yang baik. Sekalipun tampak gelap jika dilihat dari luar, bagian dalam rumah bambu sebenarnya tetap terang dan sejuk tanpa perlu bergantung sepenuhnya pada pendingin udara modern. Namun, makna arsitektur melampaui aspek fungsional fisik semata.

Pola hunian bambu tanpa jendela besar dirancang berdasarkan filosofi hidup masyarakatnya, di mana rumah tidak diciptakan sebagai tempat untuk mengurung diri, berebahan sepanjang hari, atau menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar gawai. Tetapi tempat beristirahat sejenak, dikarenakan ruang hidup masyarakat adat yang sebenarnya berada di luar. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di ladang, di sawah, di teras rumah, atau di berugaq atau saung tempat berkumpul. Di ruang-ruang terbuka ini, interaksi sosial terjalin, gotong royong dibangun, dan tali silaturahmi dirawat secara alami.

Sebaliknya, modernitas datang membawa redefinisi baru tentang rumah yang bagus. Paradigma modern mematok bahwa rumah terbaik adalah rumah yang serba privat, tinggi, dan makin tertutup rapat dari dunia luar. Tembok-tembok semen yang tebal memang berhasil memberikan privasi, namun di saat yang sama rumah modern mengubah karakter manusia menjadi individu yang sibuk bersembunyi dari tetangganya. AS Rosyid secara lugas menunjukkan betapa ironisnya kenyataan ini, semen yang kita banggakan sebagai simbol kemajuan justru menjadi sarana asing dari lingkungan sosial sendiri.

Di luar isu tata ruang dan arsitektur, fokus utama dari buku ini terletak pada gagasan integrasi antara ajaran Islam dan kearifan masyarakat adat. Selama ini, kerap muncul pemahaman sempit yang membenturkan antara agama dan tradisi lokal, seolah menghormati adat berarti menodai ketauhidan. AS Rosyid menepis pandangan tersebut secara bernas dengan menegaskan bahwa nilai-nilai dasar yang melandasi tata cara hidup masyarakat adat sebenarnya berada dalam satu frekuensi dengan prinsip-prinsip syariat Islam.

Titik temu terlihat dalam cara masyarakat adat memandang dan memperlakukan alam semesta. Masyarakat adat, tanah, air, sungai, hutan, hingga satwa bukan komoditas semata yang bisa dieksploitasi tanpa batas demi keuntungan ekonomi.

Ada etika penataan, ada batas-batas kesucian, dan aturan pemanfaatan yang menjaga agar ekosistem tetap seimbang. Pandangan ini senada dengan konsep menjaga bumi dalam Islam, di mana manusia diberi amanah untuk memakmurkan bumi, bukan merusaknya. Di dalam islam kita mengenalnya dengan Hablumminal Alam (hubungan manusia dengan alam).

Sikap masyarakat adat yang menghargai keberadaan tanaman dan binatang serta menjaga titik keseimbangan alam merupakan bentuk nyata dari pelaksanaan pesan-pesan ekologis yang ada dalam ajaran agama. Dengan demikian, memihak kepada adat dalam konteks pemeliharaan lingkungan dan keharmonisan sosial bukan sebuah penyimpangan, melainkan artikulasi keagamaan yang konkrit dan membumi.

Melalui buku ini, AS Rosyid menyajikan teori antropologi atau wacana keagamaan yang mengawang-awang. Buku ini diartikan pengulas, sebagai cermin reflektif bagi masyarakat kontemporer yang tengah menghadapi krisis ekologis yang makin memprihatinkan. Ketika bencana alam, alih fungsi lahan masif, dan pemanasan global makin sering terjadi, kita disadarkan cara pandang eksploitatif ala industri modern telah gagal menjaga keberlanjutan bumi. Di sinilah kearifan adat menawarkan jalan keluar alternatif, gaya hidup masyarakat adat yang bersahaja, hemat energi, dan menyatu dengan ritme alam terbukti mampu bertahan melintasi zaman tanpa merusak ekosistem sekitar.

Buku ini mendorong umat beragama untuk tidak terjebak dalam ritualis formal semata, tetapi juga menginternalisasi kesadaran ekologis dalam setiap tindakan sehari-hari. Beragama yang otentik yaitu beragama yang memberi dampak keselamatan tidak hanya bagi jiwa manusia, tetapi juga bagi kelestarian tanah yang dipijak dan udara yang dihirup.

Gaya penulisan AS Rosyid dalam buku ini patut mendapat apresiasi karena meskipun mengusung tema-tema yang cukup berat seperti sosiologi arsitektur, teologi ekologi, dan kritik modernitas, penulis mampu menyajikannya dengan bahasa yang mengalir, komunikatif, dan puitis. Penulis tidak hanya mengutip literatur, tapi juga menyajikan pengamatan lapangan detail dengan emosional dan kultural, seperti fenomena kehidupan sehari-hari di perdesaan Lombok.

Argumentasi dibangun secara runtut, mulai dari pembedahan fenomena fisik seperti bahan bangunan dan tata ruang hingga berlanjut ke pembedahan nilai-nilai filosofis dan teologis.

Pengulas merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang merindukan kedamaian hidup bermasyarakat dan kelestarian alam, buku ini salah satu panduan untuk dibaca dan direnungkan.

Buku Islam yang Memihak Adat: Rumusan Beragama untuk Menjaga Bumi dan Manusia karya AS Rosyid yang terbit pada September 2026, dengan nomor ISBN 978-623-528-03-18.

Trideyna Cahyani

*Penulis adalah Jurnalis perempuan muda, berjiwa bebas, penyuka alam dan outdoor adventure

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here