Creative Camp: Ikhtiar pemajuan kebudayaan oleh SS Abo Tadohe

15

SS Abo Tadohe merupakan jembatan antara ingatan dan kearifan luhur di masa lalu dan optimisme budaya untuk generasi masa depan

Peliput: Indra S. Umbola

Creative Camp: Ikhtiar pemajuan kebudayaan oleh SS Abo Tadohe
Foto bersama segenap anggota SS Abo Tadohe dan para undangan (Foto: Koko Potabuga)

Boltim, ZONABMR.COM—Saat semuanya seakan terburu-buru dan berorientasi ke depan, Sanggar Seni (SS) Abo Tadohe tak sungkan menoleh ke belakang. Bukan untuk meromantisasi sejarah melainkan meninjau kembali kumpulan ingatan untuk dikabarkan kepada siapa saja yang mulai atau terlanjur lupa.

Di balik barisan pepohonan di area perkebunan Moyongkota, Bolaang Mongondow Timur, Creative Camp IV digelar, 26-28 Juni 2026. Puluhan pemuda pemudi nampak khusyuk mengikuti rangkaian kegiatan.

“Ini angkatan keempat. Dan pengkaderan seperti ini rutin dilakukan tiap tahun,” ujar Herindra Chrisdianto Mamonto selaku Pembina dan Pengasuh Sanggar.

Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber dari luar, yakni Tyo Mokoagow untuk Filsafat Seni, dan Patra Mokoginta untuk Sejarah Mongondow. Sementara narasumber untuk materi lainnya berasal dari internal sanggar.

Pentingnya Kaderisasi dalam Sanggar Seni

Menurut Tyo, SS Abo Tadohe merupakan jembatan antara ingatan dan kearifan luhur di masa lalu dan optimisme budaya untuk generasi masa depan. Di sisi lain, tak banyak sanggar seni yang menerapkan gaya kaderisasi secara konsisten seperti SS Abo Tadohe.

“Saya membayangkan, jauh di atas sana, Abo Tadohe pasti bahagia namanya digunakan untuk sanggar ini,” ucapnya usai mengampu kelas.

Penyampaian materi Sejarah Mongondow oleh Patra Mokoginta (Foto: Indra Umbola)

Budayawan Bolmong yang juga penulis buku Toedoe in Passi, Uwin Mokodongan berpandangan, kaderisasi adalah hal mutlak sebeba regenerasi tak hanya berfungsi sebagai ruang berkesenian tetapi juga sebagai tempat transfer pengetahuan, nilai, dan tradisi kepada generasi berikutnya.

Hal tersebut berbanding lurus dengan pentingnya pengenalan tradisi dan kebudayaan bagi generasi muda, di mana kebudayaan tidak hanya membicarakan masa lalu tetapi juga menjadi pedoman nilai dalam menghadapi masa depan.

“Melalui kaderisasi, lahir generasi yang memahami kebudayaannya dan mampu menjadi perekat penggerak dalam upaya pelestarian serta pemajuan budaya,” tegasnya.

Proses Regenerasi yang Tak Selalu Mudah

Sejak didirikan pada 2021, SS Abo Tadohe telah melakukan proses kaderisasi kepada puluhan pemuda pemudi Moyongkota dan sekitarnya. Puluhan anggota aktif tersebut terbagi dalam dua kategori, yakni dewasa dan junior.

Ayu Putri Lomban yang juga selaku Pembina dan Pengasuh Sanggar menjelaskan, anggota yang di bawah usia 15 tahun masuk ke dalam kategori junior. Adapun jumlahnya lebih sedikit ketimbang dewasa.

Pertunjukan tari oleh anggota junior SS Abo Tadohe (Foto: Koko Potabuga)

“Lebih banyak usia di atas 15 tahun. Untuk junior baru sekitar sepuluh orang,” ungkap Ayu, sapaan akrabnya, sembari menjelaskan tak ada batas usia dalam perekrutan anggota baru.

“Anggota saat ini ada yang duduk di bangku SMP, bahkan ada juga yang sudah menikah,” tambahnya.

Namun jalan regenerasi tak selalu mudah. Pasang surut selalu ada. Terlebih ketika budaya kerap disalahartikan sebagai antitesa dari kemajuan zaman.

“Angkatan kali ini saja hanya empat orang,” ucap Chris saat ditemui di sela-sela pelaksanaan Creative Camp IV.

Meski begitu, Chris dan penggerak SS Abo Tadohe tidak patah arang. Berbagai upaya dilakukan demi menarik minat generasi muda untuk mempelajari seni dan budaya Bolaang Mongondow (Bolmong).

“Salah satu tujuan kami melakukan berbagai pementasan dan kegiatan termasuk Creative Camp ini adalah untuk menumbuhkan keinginan generasi muda mempelajari seni dan budaya,” tambahnya.

Selain itu, Creative Camp juga menjadi sarana membentuk kreativitas dalam berkesenian dan wadah untuk lebih mempererat kebersamaan sesama anggota komunitas.

“Selain anggota baru, anggota lama juga sangat antusias untuk duduk dan mendengarkan materi yang disampaikan narasumber,” ucap Chris.

Kesadaran Pentingnya Menjaga Alam

Dibeberkan Ayu, para anggota yang mengikuti Creative Camp dibekali dengan berbagai pengetahuan, mulai dari Filsafat Seni hingga Sejarah Mongondow. Tak lupa dimasukkan pula pengetahuan tentang wawasan lingkungan sebagai sebuah pengakuan keberpihakan SS Abo Tadohe dalam upaya pelestarian alam.

Pembacaan puisi oleh anggota SS Abo Tadohe (atas) & Pembina dan Pengasuh SS Abo Tadohe, Herindra Chrisdianto Mamonto (bawah). (Foto: Koko Potabuga)

“Bagi kami, kelestarian alam itu sangat penting. Bahkan beberapa anggota sanggar juga merupakan penggiat lingkungan,” ucap Ayu.

Dalam konteks yang lebih besar, kebudayaan Mongondow sama sekali tak bisa dipisahkan dari kesadaran pentingnya menjaga kelestarian alam.

Uwin Mokodongan menjelaskan, alam menempati posisi penting dalam kosmologi masyarakat Bolmong. Banyak syair, nyanyian tua, cerita rakyat, dan ritus yang menujukkan hubungan erat antara manusia dan alam.

“Dalam pandangan leluhur Mongondow, hutan, sungai, gunung, dan laut bukan hanya ruang hidup tetapi juga memiliki makna spiritual. Karena itu, menjaga alam juga berarti menjaga warisan budaya,” tegasnya.

Upaya Kolaboratif dalam Pemajuan Kebudayaan

Menurut Uwin, apa yang dilakukan SS Abo Tadohe merupakan bagian dari upaya pemajuan kebudayaan yang menuntut kerja kolaboratif antara masyarakat dan pemerintah. Masyarakat dapat melakukannya melalui pelestarian tradisi, pendidikan budaya, serta aktivitas sanggar dan komunitas seni.

Sementara, pemerintah diwajibkan melakukan pelestarian kebudayaan sebagaimana yang termaktub dalam dokumen Pokok Pikiran Pemajuan Kebudayaan (PPKD) di tiap daerah, dan UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

“Kebudayaan itu penting karena di dalamnya terkandung nilai-nilai yang membentuk karakter, mentalitas, dan jati diri masyarakat. Jika kebudayaan kuat maka fondasi kehidupan sosial juga semakin kuat,” ujar Uwin.

Di sisi lain, Ayu menambahkan, hingga saat ini sanggar seni yang diasuhnya berjalan secara mandiri. Untuk menggelar berbagai kegiatan hingga pengadaan berbagai atribut pentas dalam rangka pemajuan kebudayaan, pihaknya mengadakan bazar door to door untuk menjadi sumber pendanaan.

“Sisanya ditutupi dari kantong pribadi para anggota sanggar,” tutupnya.

SS Abo Tadohe mungkin bukan bentuk paling ideal dalam upaya pemajuan kebudayaan, tapi mereka telah memulainya. Kita kapan?

*Penulis adalah jurnalis lepas. Penyuka musik dan fotografi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here