Dari Sepak Bola ke Podium Taekwondo, Alghazali Siswa Kelas VII SMPN 2 Kotamobagu Banjir Prestasi

48
Dari Sepak Bola ke Podium Taekwondo, Alghazali Siswa Kelas VII SMPN 2 Kotamobagu Banjir Prestasi
Muhammad Alghazali Setyawan bersama Coach Ethward Pakaryanto. (Foto: KFA)

ZONABMR.com — Di rumah, Muhammad Alghazali Setyawan masih seperti anak berusia 12 tahun pada umumnya. Ia masih suka bermanja kepada orang tua, bercanda dan menikmati waktu bersama keluarga.

Tetapi suasananya berubah ketika anak kelas VII SMP Negeri 2 Kotamobagu itu mengenakan dobok dan melangkahkan kaki ke dojang.

Di sana, Alghazali bukan lagi sekadar anak yang masih suka dimanja. Ia berubah menjadi seorang petarung kecil yang harus berani menghadapi lawan, menjaga konsentrasi dan mempertanggungjawabkan setiap gerakan yang telah dilatihnya.

Terbaru, dari GOR Babe Palar, Kota Tomohon, akhir Agustus 2026, Alghazali kembali pulang membawa dua medali.

Ia meraih medali emas Poomsae Cadet Putra dan medali perak Kyorugi Cadet Putra Under 41 kilogram pada Piala Wali Kota Tomohon Cup II yang berlangsung 29-30 Agustus 2026.

Poomsae merupakan nomor taekwondo yang mempertandingkan ketepatan dan kualitas atlet dalam memperagakan rangkaian jurus yang telah ditentukan. Sementara kyorugi merupakan nomor pertarungan langsung menghadapi lawan.

Dua nomor dengan karakter berbeda itu sama-sama dijalani Alghazali. Dua medali tersebut sekaligus menambah panjang catatan prestasi anak kelahiran Kotamobagu itu.

Sejak 2023 hingga pertengahan 2026, Alghazali telah mengoleksi 26 penghargaan. Sebanyak 15 di antaranya berasal dari taekwondo, sementara 11 lainnya diraih dari sepak bola.

Namun bagi keluarganya, puluhan medali itu bukan sekadar benda yang dipajang di rumah.

Di baliknya ada cerita tentang latihan, disiplin, dukungan orang tua, sekolah, mengaji hingga pola asuh yang membuat Alghazali tumbuh berbeda dari sebagian anak seusianya.

Dari Sepak Bola, Kemudian Menemukan Taekwondo

Alghazali sebenarnya lebih dulu mengenal lapangan sepak bola.

Sejak 2023, ia sudah aktif mengikuti berbagai turnamen sepak bola usia dini. Namanya mulai mencatat prestasi, antara lain saat menjadi bagian dari tim yang menjuarai Sangadi Cup Bungko U-10.

Pada 2024, ia kembali meraih juara bersama timnya di Wiraprima Cup Minahasa Utara U-10. Setahun kemudian, gelar juara kembali diraihnya melalui Sipatuo Jr Cup U-10.

Sepak bola kemudian menjadi bagian dari kesehariannya.

Tetapi ketika mengenal taekwondo, Alghazali seperti menemukan arena lain untuk menguji dirinya.

Sepakbola menjadi bagian tak terpisahkan dari Alghazali. (Foto: Wansa)

Dunia olahraga bela diri itu memberinya pengalaman berbeda. Jika sepak bola mengajarkannya bekerja bersama tim, kyorugi memaksanya berdiri sendiri menghadapi lawan.

Sementara poomsae mengajarinya bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh keberanian, tetapi juga ketepatan, disiplin dan kemampuan mengingat setiap rangkaian gerakan.

Kemampuan menghafal gerakan dalam poomsae ternyata memiliki cerita tersendiri di keluarganya.

Menurut keluarga, kemampuan tersebut sedikit banyak diwarisi Alghazali dari sang kakek dari pihak ibunya yang dikenal memiliki kemampuan menghafal yang sangat kuat.

Alghazali bersama rekannya peraih medali emas di ajang Wali Kota Tomohon Cup. (Foto: KFA)

Kemampuan mengingat yang baik itu kemudian menjadi salah satu modal Alghazali ketika mempelajari berbagai rangkaian gerakan poomsae.

Bukan berarti prestasi datang secara otomatis. Di atas kemampuan menghafal itu tetap ada latihan panjang, pengulangan gerakan, koreksi teknik dan kedisiplinan.

Darah Atlet dari Sang Ayah

Kegemaran Alghazali terhadap olahraga juga bukan sesuatu yang muncul begitu saja.

Sang ayah, Wansa, merupakan mantan atlet balap motor. Dari ayahnya pula, Alghazali sejak kecil diperkenalkan dengan suasana kompetisi dan dunia olahraga.

Meski begitu, ia tidak sekadar mengikuti jejak sang ayah. Alghazali menemukan jalannya sendiri melalui dua olahraga yang berbeda karakter yakni sepak bola dan taekwondo.

Untuk menjaga keduanya tetap berjalan, ia memiliki jadwal latihan yang cukup padat.

Senin, Rabu dan Jumat diisi latihan taekwondo di Dojang Kotamobagu Fighter Academy, Katulidan, Kelurahan Gogagoman. Di sana ia berlatih dua nomor sekaligus, kyorugi dan poomsae.

Selasa, Kamis dan Sabtu waktunya kembali berpindah ke lapangan sepak bola.

Rutinitas itu dijalani sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Dan hampir setiap latihan, ada orang tua yang menunggu di sisi lapangan atau dojang.

Bukan untuk menentukan harus menjadi apa anaknya, tetapi memastikan Alghazali memiliki kesempatan menjalani apa yang memang ia sukai.

Puluhan Podium dalam Empat Tahun

Perjalanan Alghazali di taekwondo mulai menunjukkan hasil signifikan sejak 2025.

Ia meraih emas Kyorugi Pra Cadet C pada Bupati Bolmut Cup II, kemudian meraih perunggu di Gorontalo Open Championship II.

Prestasinya berlanjut dengan dua medali emas pada Piala Wali Kota Tomohon, sebelum kembali naik podium pada Piala Gubernur Sulut dan Piala Wakil Wali Kota Manado.

Raihan teranyar Alghazali di bidang Taekwondo. (Foto: Wansa)

Memasuki 2026, koleksi medalinya terus bertambah.

Ia meraih emas dan perunggu pada Winners Championship, kemudian emas di Piala Wali Kota Bitung dan dua medali emas sekaligus pada Piala Wali Kota Manado.

Terakhir, di Tomohon Cup II, dua podium kembali menjadi miliknya, emas poomsae dan perak kyorugi.

Catatan itu membuat perjalanan Alghazali terlihat bukan sebagai prestasi yang datang sekali-dua kali, melainkan hasil dari latihan yang dilakukan berulang-ulang.

Sementara di sepak bola, ia juga terus mengumpulkan pengalaman melalui berbagai turnamen usia dini.

Dua dunia olahraga itu berjalan beriringan dalam masa pertumbuhannya.

Tidak Dibiasakan dengan Smartphone

Di tengah kehidupan anak-anak seusianya yang semakin dekat dengan gawai, Alghazali justru tidak dibiasakan memiliki smartphone sendiri.

Sang ibu, Hj. Refina C. Adati, mengatakan gadget hanya sesekali dipinjamkan kepada Alghazali, itupun tetap dalam pengawasan orang tua. Penggunaannya lebih banyak untuk kebutuhan belajar dan hiburan dalam waktu singkat.

Alghazali juga belum terbiasa meminta uang jajan. Sejak kelas I SD hingga kelas VII sekarang ini, ia tak dibiasakan dengan uang jajan. Setiap ke sekolah, orangtuanya akan membekali dengan kotak bekal dan air putih.

Jika menginginkan sesuatu, ia akan menyampaikannya langsung kepada orang tuanya. “Bukan dimaksudkan untuk mengekang Alghazali. Saya dan ayahnya justru ingin tetap dekat dan mendampinginya selama masih memiliki kesempatan,” ungkap Refina.

Mereka sadar, masa seperti ini tidak akan berlangsung selamanya. Suatu hari nanti Alghazali akan tumbuh dewasa, memiliki kehidupan sendiri dan menjalani jalan hidupnya tanpa selalu berada di sisi ayah dan ibunya.

Karena itu, bagi kedua orang tuanya, mendampingi Alghazali sejak sekarang merupakan bagian dari proses membentuknya. Mereka ingin sang anak memahami betapa pentingnya keluarga, sebelum suatu hari harus dilepas untuk menjalani kehidupannya sendiri.

Di rumah, selain sekolah dan olahraga, Alghazali juga rutin belajar Al-Qur’an. Ia telah menyelesaikan hafalan Juz 30 Al-Qur’an.

Kesehariannya pun lebih banyak diisi dengan sekolah, latihan dan kegiatan bersama keluarga.

“Saya senang latihan taekwondo dan sepak bola. Memang capek, tapi saya tidak merasa terbebani karena saya suka. Saya ingin terus latihan supaya bisa lebih baik dan bisa dapat prestasi lagi,” kata Alghazali.

Anak Mami di Rumah, Petarung di Arena

Kontras itu mungkin menjadi gambaran paling sederhana tentang Alghazali.

Dari Sepak Bola ke Podium Taekwondo, Alghazali Siswa Kelas VII SMPN 2 Kotamobagu Banjir Prestasi
Muhammad Alghazali Setiawan. (Foto: SMP N 2 Kotamobagu)

Di rumah, ia masih bisa menjadi “anak mami.” Tetapi ketika pertandingan dimulai, ia harus belajar berdiri sendiri. Tidak ada ayah atau ibu yang bisa masuk ke arena ketika lawan mulai menyerang.

Di kyorugi, ia harus menghadapi lawan dengan kemampuannya sendiri.

Di poomsae, ia harus mengandalkan hafalan, ketepatan gerakan dan konsentrasi.

Sedangkan di sepak bola, ia belajar bahwa kemampuan individu tidak cukup tanpa kerja sama dengan teman satu tim.

Pelatih di Dojang Kotamobagu Fighter Academy, yang juga Ketua Pengurus Kota Taekwondo Indonesia (Pengkot TI) Kotamobagu, Ethward Pakaryanto, mengenal Alghazali sebagai anak yang memiliki kedisiplinan dalam menjalani latihan.

Menurut Ethward, prestasi yang sudah diraih Alghazali harus menjadi motivasi untuk terus berkembang, bukan alasan untuk cepat merasa puas.

“Alghazali ini anak yang disiplin dalam latihan. Dia punya kemauan dan konsistensi yang bagus. Tapi saya selalu ingatkan, jangan cepat berpuas diri dengan prestasi yang sudah diraih. Tetap latihan, terus belajar dan tingkatkan kemampuan, karena ke depan masih banyak prestasi yang bisa diraih,” ujar Ethward.

Di situlah olahraga perlahan membentuk Alghazali.

Bukan hanya menjadi anak yang mampu mengumpulkan medali, tetapi juga belajar kalah, bangkit, disiplin dan berani mencoba lagi.

Bagi kedua orang tuanya, puluhan medali yang kini tersimpan di rumah bukanlah tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah proses di balik setiap medali tersebut. Sebab perjalanan Alghazali masih panjang.

Usianya baru 12 tahun. Masih banyak pertandingan yang akan dihadapi, masih banyak kekalahan yang mungkin datang, dan masih banyak podium yang mungkin menunggunya.

Alghazali sendiri tidak ingin berhenti pada apa yang sudah diraihnya. “Saya senang bisa dapat medali. Saya masih mau terus latihan supaya bisa ikut pertandingan lagi dan dapat prestasi yang lebih baik,” ujarnya.

Untuk sementara, ketika pulang ke rumah, Alghazali mungkin akan tetap menjadi anak yang sama, seorang anak yang masih suka bermanja kepada ayah dan ibunya.

Namun ketika pintu arena kembali terbuka, ia tahu bahwa di sana ia harus berdiri dengan kemampuannya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here