
ZONABMR.com – Pihak SPBU Kosio, Kecamatan Dumoga Barat, membantah anggapan bahwa berkurangnya stok Pertalite dan antrean panjang kendaraan terjadi akibat kebijakan di tingkat SPBU.
Penanggung Jawab SPBU Kosio, Deni Manorek, Senin (31/08/2026) menjelaskan, kondisi tersebut justru dipicu gangguan pada rantai distribusi BBM, menyusul keterlambatan kapal tanker yang membawa pasokan menuju Depot Pertamina Bitung.
Deni mengatakan, penerimaan stok Pertalite di SPBU Kosio mengalami pengurangan selama tiga hari berturut-turut.
Menurutnya, pengurangan pasokan tersebut terjadi karena kapal tanker terlambat masuk ke Depot Pertamina Bitung akibat kondisi angin dan gelombang laut.
“Situasi penerimaan stock di SPBU yang dikurangi akibat keterlambatan kapal tengker masuk depot (Pertamina) Bitung dikarenakan musim angin/gelombang. Dan berlaku di semua SPBU se-Sulut,” jelas Deni saat dikonfirmasi.
Kondisi tersebut kemudian berdampak hingga ke tingkat SPBU. Stok yang diterima terbatas, sementara kebutuhan masyarakat terhadap Pertalite tetap tinggi.
Akibatnya, antrean kendaraan tidak terhindarkan. Sejumlah pengendara harus menghabiskan waktu lebih lama untuk mendapatkan BBM bersubsidi tersebut.
Deni menegaskan, persoalan ini bukan hanya terjadi di SPBU Kosio. Menurut dia, pengurangan penerimaan stok akibat keterlambatan kapal tanker berlaku di SPBU lainnya di Sulawesi Utara.
Dengan demikian, antrean yang terjadi saat ini lebih berkaitan dengan terbatasnya pasokan dari jalur distribusi, bukan karena adanya perubahan kebijakan di SPBU.
Solar Masih Aman
Di tengah terbatasnya pasokan Pertalite, Deni memastikan kondisi berbeda terjadi pada BBM jenis Solar.
Menurutnya, stok Solar di SPBU Kosio masih dalam kondisi aman. “Untuk solar aman pasokannya,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat tidak panik dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan.
Sebab, pembelian dalam jumlah berlebihan justru dapat memperbesar tekanan terhadap stok yang tersedia dan berpotensi membuat antrean semakin panjang.
Deni mengatakan, gangguan distribusi akibat kondisi cuaca tersebut diperkirakan hanya berlangsung sementara.
Berdasarkan informasi yang diterima pihak SPBU, pasokan BBM diharapkan kembali normal pada awal September. “Jangan panik, masyarakat jangan panik. Awal September ini, pasti pasokan BBM akan kembali stabil,” katanya.
Namun, normalisasi pasokan tetap bergantung pada kembali lancarnya jalur distribusi BBM, termasuk kedatangan kapal tanker ke Depot Pertamina Bitung.
Sebab, selama pasokan dari depot masih terbatas, stok yang diterima SPBU juga ikut terdampak.
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana gangguan di jalur distribusi laut dapat langsung berimbas kepada masyarakat di daratan.
Kapal tanker yang terlambat masuk depot bukan hanya membuat pasokan di tingkat SPBU berkurang, tetapi juga akhirnya memunculkan antrean panjang di tengah kebutuhan masyarakat yang tetap berjalan.



