Tari Kabela dan Bogani Hidupkan Warisan Mongondow di Passi

50
Tari Kabela dan Bogani Hidupkan Warisan Mongondow di Passi
Pegiat Budaya, Mahmud Mokoginta. (FOTO: ZONABMR/KOKO POTABUGA)

ZONABMR.com — Warisan budaya tidak cukup hanya dikenang. Ia harus terus ditampilkan, diwariskan, dan diberi ruang untuk tumbuh di tengah perubahan zaman. Semangat itulah yang terasa ketika Tari Kabela dan Tari Bogani tampil di Ikayang Shelter, Desa Passi, Kecamatan Passi Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sabtu (26/9/2026) malam.

Difasilitasi melalui program Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) 2026 dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVII Sulawesi Utara, pementasan tersebut menghadirkan kembali dua ekspresi budaya Mongondow yang menyimpan makna berbeda, tetapi saling melengkapi.

Tari Kabela merepresentasikan keramahan dan penghormatan kepada tamu. Sementara Tari Bogani merefleksikan keberanian, kepemimpinan, keteguhan, serta semangat perjuangan yang melekat dalam ingatan kolektif masyarakat Mongondow.

Kedua tarian itu menjadi sajian utama dalam kegiatan yang dikelola pegiat budaya Mahmud Mokoginta dari Desa Bilalang Satu, Kecamatan Kotamobagu Utara. Pementasan berlangsung sejak malam hingga dini hari, dengan melibatkan komunitas seni dan pegiat budaya dari sejumlah kelompok.

Tari Kabela menjadi pembuka pementasan di Ikayang Shelter. (FOTO: ZONABMR/MAHMUD MOKOGINTA)

Tari Kabela membuka acara sebagai tarian penjemputan tamu, dibawakan oleh tiga penari. Selanjutnya, Tari Kabela dan Tari Bogani dipentaskan sebagai karya utama dengan mempertahankan unsur tradisi, mulai dari struktur gerak, musik pengiring, busana, properti, hingga nilai simbolik yang terkandung di dalamnya.

Pementasan Tari Bogani di Ikayang Shelter. (FOTO: ZONABMR/MAHMUD MOKOGINTA)

Namun, malam itu tidak hanya menjadi ruang bagi dua tarian tradisional. Sejumlah komunitas turut mengambil bagian melalui pertunjukan musik akustik, pembacaan cerita, puisi, tari, hingga musikalisasi.

Solilokui membawakan beberapa lagu akustik. Komunitas Moisipun hadir melalui pembacaan cerita, sementara Fauzan Rasyid Mamonto dan Inka Erlina Tokolang dari Sanggar Seni Abo Tadohe menyampaikan puisi. Sanggar yang sama juga menampilkan Tari Moraoy melalui Fahreal Tokolang.

Solilokui tampil dengan beberapa lagu akustik. (FOTO: ZONABMR/MAHMUD MOKOGINTA)

Pertunjukan puisi berlanjut melalui penampilan Tyo Mokoagow dari Gusdarian Kotamobagu, Apri Wahyudi dari Monibi Institute, serta Endri Tanjung. Acara kemudian ditutup dengan musikalisasi oleh Buyung Potabuga.

Keterlibatan berbagai komunitas tersebut memperluas ruang perjumpaan antara tari tradisional dan ekspresi seni lainnya. Pementasan tidak hanya menjadi panggung untuk menampilkan warisan budaya, tetapi juga ruang kolaborasi bagi para pelaku seni di Bolaang Mongondow Raya.

Mahmud Mokoginta mengatakan, pelaksanaan kegiatan ini melalui sejumlah tahapan persiapan, mulai dari pengajuan proposal pada 26 Agustus 2026, koordinasi tim, pemantapan koreografi, latihan, hingga persiapan panggung dan busana.

Latihan rutin dilaksanakan pada 20–25 September 2026, dilanjutkan pemantapan tata busana dan tata panggung serta gladi bersih pada 25–26 September. Publikasi kegiatan dilakukan melalui media sosial untuk menjangkau masyarakat.

Dalam persiapan busana, tim menghadapi kendala karena tidak tersedianya jasa penyewaan kostum yang dibutuhkan. Penari Kabela akhirnya menggunakan kebaya putih yang dipadukan dengan kain, sedangkan penari Bogani menggunakan bahan kain merah. Tim juga mengupayakan peminjaman kotak Kabela sebagai properti pertunjukan.

Acara turut dihadiri perwakilan Pemerintah Desa Passi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bolaang Mongondow, Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kotamobagu, Iswahyudi Masloman, serta Staf Khusus Bupati Bolaang Mongondow Bidang Kebudayaan, Samsir Galuwo.

Mahmud berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga keberadaan tradisi di tengah perkembangan zaman.

“Tradisi tidak harus berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Tradisi dapat terus hidup, berkembang, dan beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya. Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam pemajuan kebudayaan,” ujarnya. (Indra Umbola)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here